Saban hari, di media sosial telah dihebohkan dengan se- fruit berita. Para mahasiswa kini tengah mengadakan kegiatan Ospek secara daring at...

Per-plonco-an

Saban hari, di media sosial telah dihebohkan dengan se-fruit berita. Para mahasiswa kini tengah mengadakan kegiatan Ospek secara daring atau online. Namun, bukan kerana daring yang menjadi heboh. Akan tetapi, tersebab adanya perploncoan yang dilakukan daripada senior kepada juniornya. Perploncoan itu dilakukan secara daring pula.
Ketika khabar ini tersebar, banyak orang dewasa yang (seolah) terkejut. Mereka terbelalak akan adanya fakta ini. Padahal, praktek-praktek jahiliyah macam ini masih terus terjadi.
 
Pertama, mari kita samakan persepsi dahulu mengenai Perploncoan. Menurut kacamataku, kerana aku berkacamata, perploncoan adalah ketika senior marah-marah ke junior tanpa sebab. Terkadang, si senior mencari-cari kesalahan para juniornya. Mulai dari pakaian yang tidak rapi, ikat pinggang yang tidak pas, kaus kaki yang panjang sebelah, rambut yang dipotong kurang pendek, atau lampu sen yang mati hingga kaca spion yang kurang simetris.

Eh, tidak. Dua bagian terakhir, bukan perploncoan oleh senior, yaa. Itu adalah kelakuan oknum ******* yang kita temui di jalan raya. #gubrak
Abang tukang bakso, bawa walkie talkie, kijang satu ganti! ~

Dengan definisi seperti itu. Jika aku ditanya tentang pengalaman di-plonco, aku telah mengalaminya sejak zaman es-em-a hingga masa perkuliahan.
 
Dalam kegiatan ekstrakulikuler maupun organisasi di sekolah, akan ada pembekalan hingga pelantikan untuk anggota baru. Biasanya, kegiatan itu berisi dengan materi, games, dan juga tidak lupa.. Plonco dari senior.

Ketika kegiatan pembekalan delapan tahun lalu, ada yang namanya tes wawancara. Pertanyaan diajukan oleh senior kepada anggota baru. Awalnya pertanyaan yang simpel dan umum.
"Coba perkenalkan namamu, dari kelas mana, tinggal di mana."
"Kenapa kamu mau gabung ke organisasi ini?"
"Kontribusi apa yang akan kamu berikan ketika sudah diterima?"
 
Namun, lama-lama pertanyaan yang keluar semakin aneh.
"Jawaban macam apa itu? Orang seperti kamu tidak pantas masuk ke organisasi ini!"
"COBA WOOOY! ******* ***** ****!"
(Maaf kata-katanya disensor, karena aku lupa. Yang aku ingat cuma teriakan-teriakan tidak jelas dari mereka, wkkwkwk)

Pada akhirnya, seluruh yang mendaftar diterima di ekstrakulikuler itu. Semua hanya acting dari senior yang merasa sok hebat di depan juniornya.
Kemudian, kehidupan kembali berjalan normal seperti biasa (bagi senior). Namun tidak denganku, terkadang aku masih dendam kesal dengan kelakuan mereka, sampai sekarang. Buktinya, cerita ini masih tersimpan dengan rapi di dalam memori. Eheheee..
 
Cerita berlanjut ke tahun selanjutnya, kini aku yang menjadi senior. Aku tertarik bergabung sebagai tim pewawancara. Aku sudah memersiapkan acting marah terbaikku.
"WOOY, DEK! BLA BLA BLA!" Kataku dengan wajah sangar sambil memarahi junior.

Coba tebak, apa responnya?
Junior kampret satu ini malah bilang begini, "Bang, tidak usah marah-marah. Lucu, beneran." Dia bilang sambil tertawa.
Jadi, sebenarnya aku sudah dekat dengan adik-adik junior. Mereka sudah mengenalku sebagai pribadi yang ramah, lucu, baik hati, bersahaja, mengayomi, menggemaskan, suka menolong sesama hingga rajin menabung! Adalah aneh bagi mereka, ketika melihat aku marah-marah. Tidak seperti biasa.
Ketika tahun lalu aku dibuat kesal oleh senior, kemudian tahun ini dibuat kesal oleh junior.
Hadeeh.. Nasib-nasib.

Lanjut ke cerita kuliah.
Perploncoan ternyata masih terjadi. Ditambah lagi, aku kuliah di Fakultas Teknik yang banyak mahasiswa di  sana merasa over proud terhadap ke-teknik-an nya.
"Teknik ini susah, dek!"
"Teknik ini keras, dek!"
Responku; "Keras palak bapak kau!"
 
By the way, salah satu video yang viral di media sosial ternyata merupakan Ospek dari Fakultas Teknik di universitas yang ada di provinsi tetangga. Muncul perdebatan di kolom komentar video viral tersebut. Ada yang mendukung, ada yang tidak.

"Kehidupan di Teknik itu keras. Kuliahnya susah. Akan banyak tugas, praktikum dan segala tetek bengeknya. Jadi sudah harus dibiasakan sejak awal. Mental harus terlatih sejak dini!" Kata seseorang yang nampaknya mahasiswa Fakultas Teknik.

Ada yang membalas komentarnya seperti ini, "Kuliah yang susah tidak hanya Teknik, seluruh fakultas itu susah. Lihat anak-anak Kedokteran, mereka bahkan jarang tidur sampai hari ini untuk mengurus pasien Covid. Anak Teknik kemana? Tiduur!"
 
Kembali ke cerita sebelumnya. Ternyata, per-plonco-an di kampus lebih berat daripada masa sekolah. Jika ketika sekolah, plonco yang didapat hanya berupa verbal (makian dari senior). Sedangkan di kampus, selain dimaki-maki senior, hukumannya juga sudah mengarah ke fisik. Eh, maksudku bukan dipukuli, tapi kami hampir setiap kali disuruh untuk push-up. Bagi orang-orang sepertiku yang malas olah raga, hukuman push-up sangat melelahkan. Ditambah lagi, penyebab hukumannya sangat mengada-ada.

Contoh, ketika kami Ospek. Ada satu orang yang tidak menggunakan ikat pinggang, seharusnya dia sendiri yang dihukum. Lha, ini tidak.
"Kalian ini Teknik, kalian harus kompak! Kita adalah satu! Semuanya, turun! Ambil posisi push-up!"

Selesai push-up, lanjut orang kedua. Kesalahannya adalah potongan rambut yang kurang pendek, tidak sampai 1cm, tidak sesuai peraturan yang telah ditetapkan. Satu angkatan kembali push-up.

Setelah selesai, lagi-lagi masih ada yang harus dihukum. Sebabnya, dia tidak membawa buku yang seharusnya dibawa. Satu angkatan untuk kesekian kalinya kembali mengambil posisi push-up.
 
GITU AJA TEROOS PUSH-UP SAMPE KIAMAT!
 
Yaa, makna Kita adalah Satu, berarti... Jika ada satu orang yang melakukan kesalahan, semua orang juga dianggap salah. Kenapa begitu? Karena kesalahan kami tidak mengingatkan teman yang salah!
Sungguh definisi yang goblok!

Cerita masih berlanjut.
Ospek telah selesai, namun penderitaan ternyata belum usai. Setiap senin siang, kami masih harus diminta untuk berkumpul bersama senior untuk diplonco  lebih mengakrabkan diri. Agendanya terkadang sharing dari senior, dan segala macam. Tidak lupa, doktrin Kita adalah Satu masih tetap ada. Jadi, setiap senin kami pasti berolah raga.

Suatu saat, aku sangat lelah. Saat itu ada tugas praktikum yang harus aku selesaikan, namun bersamaan dengan jadwal berkumpul satu angkatan dengan para senior. Aku hendak kabur dari jadwal kumpul hari itu, namun tetap izin ke senior.

"Bang, izin ya tidak hadir hari ini. Aku mau pulang, ada hal penting yang mau dikerjakan." Kataku ke senior, aku agak takut awalnya. Takut-takut tidak diizinkan.

"Oh, yaa. Silahkan. Hati-hati di jalan, yaa!" Kata seniorku dengan ramah. Tak disangka, ternyata aku diizinkan.
 
Bukannya langsung pulang ke rumah, aku malah menuju Perpustakaan untuk mengerjakan tugas kuliah. Menurutku, Perpustakaan lebih nyaman daripada rumah. Aku sedikit merasa bersalah telah 'menipu' seniorku. Tapi, menurutku tidak masalah sesekali. Toh, mereka para senior setiap saat 'menipu' kami.

Kemudian, aku telah mengambil posisi yang nyaman di Perpustakaan, mencari meja yang persis di bawah AC, sejuk sekali saat itu. Padahal di luar sedang panas-panasnya. Saat itu tahun 2015, sedang ada kebakaran hutan di Sumatera. Kabut asap dimana-mana.
Apablia sore hari tiba, adzan Ashar telah berkumandang. Aku bergegas menuju Mushalla Fakultas Teknik. Di sana, ada juga teman-teman yang shalat, juga termasuk senior.
 
Selesai shalat, senior menyapaku, "Doo, kenapa masih di sini? Katanya mau pulang ke rumah?"

"Eh, iya, bang. Bentar lagi. Tadi masih ada urusan, ini setelah shalat baru mau pulang."
"Oh yaa, hati-hati!" Kata seniorku, sambil tersenyum mencurigakan.
"Assalamu'alaykum, bang!"
"Wa'alaykumuusalam!"

Esok hari, ketika di kampus. Aku merasa ada yang aneh dari teman-temanku. Tidak seperti biasa. Sikap mereka menjadi berubah, nampaknya sangat kesal kepadaku. Aku tidak tahu kenapa. Karena pada dasarnya aku adalah orang yang apatis, aku tidak peduli akan hal itu.
Akhirnya, hari Senin kembali tiba. Kumpul angkatan bersama senior kembali terjadi. Aku dan teman lain sudah berada di kelas.

"Mana abang senior yang biasa hadir? Kok tidak ada?" Tanyaku kepada teman di sebelah.

"Mereka tidak akan hadir. Kita ada agenda khusus hari ini, kamu tunggu saja. Jangan kemana-mana!" Kata temanku, cara bicaranya nampak kesal. Aku heran, sudah satu pekan kenapa masih banyak orang yang seperti itu kepadaku.

"Jadi temen-temen semua, kita hari ini berkumpul untuk membahas kelanjutan kegiatan pekan kemarin." Kata ketua angkatan yang sedang berdiri di depan kelas.

"Eh, emang kemarin ada kegiatan apa? Aku kan tidak hadir." Aku kembali bertanya kepada teman yang duduk di sebelahku.

"Udah, Doo. Diem! Dengerin dulu ketua angkatan kita bicara!" Teman di sebelahku kembali menjawab dengan kesal.

"Oke, deh. Maap."

"Dodoo, kamu bisa tolong maju ke depan sini, ndak. Tenang saja, aku tidak bakal marah kok." Kata ketua angkatan. Semua mata langsung tertuju kepadaku.
 
"Eh, iya." Aku merasa ada yang tidak beres.
 
"Aku sekarang mau tanya, kenapa pekan lalu kamu tidak hadir ke sini?" Ketua angkatan bertanya kepadaku di depan teman-teman satu angkatan.
 
"Jawab, Doo cepetan wooy!" Seorang teman yang sedang duduk nyeletuk.
 "Iyaa, wooy! Jawab cepetan!" Celetukan dari teman yang lain lagi.

"Udah, sabar temen-temen." Kata ketua angkatan menenangkan.
 
Fixed! Memang ada yang tidak beres. Namun, aku masih belum menemukan dimana letak kesalahanku.
Aku menjelaskan kepada teman-teman, "Pekan kemarin aku udah izin ke abang senior. Aku bilang mau pulang ke rumah karena ada hal penting yang mau dikerjakan."

"Tapi, kata senior, kamu shalat Ashar di Mushallah Teknik. Katanya kamu mau pulang, kenapa masih ada di kampus?" Salah seorang yang duduk di kursi bertanya dengan mata menyala-nyala.

"Iyaa, rencananya aku memang mau langsung pulang. Tapi saat itu aku putuskan untuk buat tugas di Perpustakaan dulu."

"Tega kamu, Doo! Kamu membohongi senior. Gara-gara kamu, kami semua dihukum. Tahu gak kamu, hah!?" Seorang perempuan berkata dengan suara lantang, sambil menangis terisak.

"Eh, tunggu. Aku tidak berbohong. Beneran, aku bilang aku mau pulang. Diksi mau di situ, bukan berarti langsung dilakukan. Bisa aja bilang mau pulang-nya di siang hari, ternyata aku pulangnya sore. Aku tidak berbohong." Aku mengklarifikasi. Satu angkatan melongo mendengar penjelasanku.
 
"Tapi, tetep aja Doo! Karena kau, para senior kemarin marah sejadi-jadinya. Dan kami menjadi pelampiasan. Hukuman kemarin dua kali lipat daripada biasanya. Capek sekali badanku ini, malam harinya masih harus buat tugas praktikum!" Teman yang lain ikut menyuarakan pendapat, ia juga nampaknya kesal.
 
Lagi-lagi, ketua angkatan menjadi penengah, "Udah, gini aja. Siapa yang punya uneg-uneg sama Dodoo silahkan sampaikan di sini. Kita ini adalah saudara, setidaknnya sampai empat tahun ke depan. Jadi, kita harus tetap rukun. Ayoo silahkan sampaikan sekarang, jangan malah nanti jadi ghibah di belakang." Temanku ini, memang bijak. Cocok menjadi ketua angkatan.
 
Kemudian, ada sekitar enam orang yang mengeluarkan kekesalannya kepadaku. Aku diam saja, terima dengan lapang dada. Setelah itu aku meminta maaf kepada seluruhnya. Aku berjanji tidak akan mengulangi perbuatan aneh lagi.
 
Setelah drama permintaan maaf usai, adzan Ashar berkumandang. Kami shalat. Setelah itu, kembali lagi ke kelas. Kini, para senior hadir di kelas tempat kami berkumpul, suasana masih hening. Raut-raut muka kesal masih nampak dari wajah mereka, padahal baru saja selesai shalat. Nampaknya, mereka benar-benar dendam.
 
"Dodoo, sini maju ke depan!" Kata seorang senior dengan intonasi yang mengerikan.
 
"Gimana, masalah dengan teman satu angkatanmu sudah selesai?" Katanya, ketika aku sudah berada di depan kelas.

"Masalahmu dengan teman satu angkatan memang sudah selesai. Tapi dengan kami belum selesai. Kau tau, heh!" Kata seorang senior sambil berteriak. Kelas masih hening.
 
"Hari ini, kami tidak akan marah-marah. Udah capek melihatmu, kasihan juga dengan teman-teman yang lain." Kata senior yang lain.
 
"Iya, bang." Kataku, sambil menatap ke lantai.

"Gini, kita sekarang bicara baik-baik aja. Kenapa kamu membohongi kami, bilang mau pulang ke rumah. Nyatanya, shalat Ashar kita bertemu di mushallah Teknik, kamu belum pulang. Kalau memang mau bohong, janganlah shalat di Teknik, kamu bisa shalat di Mushallah fakultas lain. Kampus kita punya sepuluh fakultas!"

"Aku tidak berbohong, bang. Kan aku bilang mau pulang, kan bisa aja mau pulang itu nanti sore, bisa saja besok, atau malah bulan depan hingga tahun depan. Kenapa aku melakukan itu? Sejujurnya aku lelah, bang. Aku mau buat tugas."
 
"Tapi, yang punya tugas tidak hanya kamu, kami juga punya tugas. Temen-temenmu yang lain juga punya tugas. Lihat nih, si Nur. Kamu buat tugasnya di sini,  kan. Sambil mendengarkan materi dari kami?" Si senior melirik ke Nur.
 
"Iya, bang. Betul. Aku sambil membuat tugas di sini." Nur mengamini ucapan si senior.

"Tapi, aku masih tidak terima jika dibilang berbohong. Aku tidak berbohong, bang!" Aku masih menyanggah.

"Kenapa bisa gitu? Kamu jelas-jelas membohongi kami!"

"Jadi, alasan aku begitu karena ingat salah satu kisah nabi Muhammad. Cerita ini aku dengar ketika di sekolah dulu, dari guruku. Suatu saat, ada seseorang yang dikejar-kejar oleh Yahudi untuk dibunuh. Kemudian orang itu melewati Nabi dan berkata, "Wahai Nabi, tolong selamatkan aku. Aku sedang dikejar Yahudi dan hendak dibunuhnya." Orang itu melanjutkan pelariannya. Kemudian, tak lama berselang, si Yahudi yang hendak membunuh orang sebelumnya juga melewati Nabi. "Wahai Nabi, apakah kamu ada melihat orang yang melarikan diri ke sini? Aku hendak membunuhnya!" Apa kata Nabi? Beliau kemudian berdiri dan berkata, "Selama aku berdiri di sini, aku tidak melihat seorang pun lewat!" Yaa, nabi telah menyelamatkan orang yang hendak dibunuh, dan Beliau tidak berbohong. Karena beliau menggunakan diksi selama aku berdiri, faktanya memang beliau baru berdiri dari duduknya dan tidak melihat orang lewat. Jadi, aku menirunya dalam permainan kata-kata. Kata guruku, kita tetap harus jadi orang jujur, namun jangan jadi orang polos. Begitu bang alasanku."

Seisi ruangan hening, teman-temanku kembali melongo, termasuk senior. Nampaknya  mereka tidak percaya dengan jawaban 'brilian' yang baru saja aku sampaikan.

***

Pertemuan sore itu usai. Pekan depan kumpul angkatan kembali dilakukan bersama senior. Namun ada yang berbeda. Hukuman push-up mulai berkurang, malah cenderung tidak ada di pekan-pekan selanjutnya. Kumpul angkatan hanya terjadi di semester pertama. Semester kedua kami benar-benar merdeka. Namun sesungguhnya, masa-masa yang cukup aku rindukan bersama teman-teman adalah masa di semester pertama.

Bagaimana dengan senior-senior tadi? Aku menjadi dekat dengan mereka, aku beberapa kali bergabung dalam organisasi yang sama. Kami terus akrab hingga hari ini. Kini, mereka ada yang sudah di Benua Eropa melanjutkan studi pasca sarjana, di negara tempat belajar Presiden Indonesia ketiga. Ada pula yang di Tanah Papua, bekerja di perusahaan pertambangan logam mulia. Senior yang lain, kini menjadi staf wakil rakyat dari partai Gerin*dra.

Akhir kata, maafkan aku teman-temanku dan para seniorku. Telah membuat kalian pusing, lima tahun lalu. Huhuhuu..
Harapanku, semoga perploncoan segera hilang!


Foto ketika satu angkatan dikumpulkan oleh para senior

69 komentar:

  1. Serius, Do. Kamu tuh emang ada aja akalnya. Kalau aku jadi seniormu mungkin jadi pusing sendiri jadinya.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Tapi gakpapa. Berkat kamu akhirnya perploncoan yang kamu dan temen-temenmu rasakan jadi berkurang, bahkan semester dua jadi gak ada plonco-ploncoan lagi.

    Tapi emang sih, plonco itu walaupun nyebelin tapi bikin para korban plonco jadi lebih dekat dan akrab. Bahkan saling membantu. Mungkin gara-gara jiwa korsa nya sudah terbentuk gara-gara kena plonco bareng-bareng πŸ™ˆ. Seperti aku nih, lebih deket sama girlfriends dan boyfriends ku satu organisasi (sesama korban plonco) daripada sama temen sekelas.πŸ˜‚

    Oh ya, ngomong-ngomong masalah plonco sih aku masih oke aja kalau cuma berbentuk verbal. Fisik juga gakpapa, asal masih manusiawi.🀭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaa walaupun ada yg jadi akrab. Bisa jadi tetap ada yg sampe sakit hati kan mbak.
      Eh bukan cuma sakit hati, malah sampe jadi dendam, hahaa πŸ˜…

      Hapus
    2. Iya sih. Kalau sama senior pasti rasa gedek masih ada. πŸ™ˆ

      Hapus
  2. Semakin tuo umur, semakin dikasih Allah otak yg normal utk bepikir, dan dipikir2 kejadian plonco itu adalah hal yang terbengak yang pernah aku alami
    Iyo si stigma teknik memang keras, tapi kalo ngadepin dosen saja masih takut-takut, itu yg disebut mental kuat? Mungkin ada oknum kating yang masih macam tu wkwkwk no offense ya

    Pernah baco komentar seorang panitia ospek di reddit (kalo dk salah). Mereka mengadakan ospek yg bisa jadi dikatakan "cukup keras", namun masih mempertimbangkan sisi psikologis para anggota. Sampai-sampai h-2 ospek, para panitia mengikuti semacam seminar psikologi. Jadi kegiatan mereka banyak melakukan semacam games yang benar2 menekankan teamwork, kepemimpinan, kerja sama tim, dan keakraban. Hasilnya? Menurut mereka kegiatan tsb cukup berhasil

    In conclusion and in my opinion, Indonesia sdh 75th merdeka, tapi rakyatnya sendiri masih menjajah org2 yg lemah. Perpeloncoan inila yg menurutku semakin menguatkan prinsip yang kuat menindas yg lemah
    Dan hasil "keakraban dan oenguatan mental" yang dilakukan kating? Dak ado dari tindakan mereka yg buat aku kuat secara mental, yang ado malah takut dan ringam samo mereka2 itu.
    Fyi saja ni, hal-hal yg bikin aku lebih PD dan "kuat mental" yaitu ketika aku jadi asisten LAB yg mewajibkan menghandle satu angkatan yg setingkat dibawahku, dan pengalaman2 ikut kegiatan di luar belajar di kampus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aldan mengeluarkan uneg2 wwkwk

      Semangat, brother! 😎😎

      Hapus
  3. Awal-awal baca masih gak bisa fokus karena ke-distract sama "kerana aku berkacamata"🀣 dan lirik abang tukang bakso yg dibaca sambil nyanyiπŸ˜‚. Tapi pas ke bawah okelah bisa serius, wkwkwkw.

    Sebagai anak yg cenderung apatis dan "sok kritis" pas masih awal-awal semester, aku jg selalu cari2 alasan dan cara supaya gak ketemu sama kakak2 senior ini, karena serius deh, capek sama pola si perpeloncoan ini yg mana di mata senior si maba macam kita2 dulu pasti aja gak ada benernya😌. Walaupun pada akhirnya sempet gabung jg jadi kakak2 galak supaya bisa tau maksud dan tujuan masih diadakannya program demikian itu apa.

    Akupun berdo'a semoga perpeloncoan semacam ini bisa dihapuskan dan diganti dengan kegiatan yg lebih progresif juga kreatif. Sebab kalau dalihnya mental yg mesti dilatih, nggak ada tolak ukur yg bisa menjamin seseorang bisa keras mentalnya hanya karena "dimarah-marahin" dan dimanipulasi oleh senior. Hiks🀧

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah, akhirnya Awl kembali ke dunia Blog setelah sekian lama tidak posting πŸ˜€

      Kita mirip, sama² Apatis. Bedanya, aku tidak mau lagi terlibat dalam acara2 semacam itu, awalnya pengen merubah dari dalam, tapi udahlah, terlalu males. Udah ga peduli lagi wkwkwk

      Hapus
    2. Hahaha iyaa nih kak, itung2 rehat sejenak sebelum sistem kebut semalam lagiπŸ˜†

      Sebetulnya kalau mengubah dari dalam pun, gak ada yg bisa diubah karena yg harus diubah pertama itu yaa pola pikir panitia2 di dalam organisasi tersebut. Kalau masih berat sebelah menganggap "tradisi" tersebut harus ada, ya pasti masih ada aja acara ospek macam gitu. Akupun pada akhirnya cuma bisa pasrah dan mending ngeblog aja dah, wkwkwkwkw.

      Hapus
  4. Balasan
    1. Mantapppgarbi wkwkwk

      Semoga Halah baca full sampe habis yaa, bukn cuma komentar πŸ˜€

      Hapus
  5. Kirain endingnya bakal, "cerita ini adalah fiksi" lho hahaha.

    Waktu jaman SMA dan kuliahku juga begini. Akhirnya aku gak mau jadi panitia soalnya pengen ketawa pas akting galak. Malah diketawain ntar hahaha

    Emang rasanya sayang banget sih, hari gini masih musim perploncoan ya. Padahal sudah banyak lho fakultas2 yang kreatif dengan konsep terbarukan, yang lebih bermanfaat. Untungnya bukan almamaterku tuh hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwkwk sepertinya Mbak Kartika kebanyakan baca cerita fiksi aku nih πŸ˜…

      Hapus
  6. Haiii Dodo berkacamata!!!
    (Pura pura akting kumaraaaah)

    Duduk sana.
    Jangan senyam senyum sorangan gitu wae keingetan plonco perploncoan ..

    *Eh ��

    Kok ngomongin ospek aku jadi keingetan acara ospek angkatanku gagal total di malam hari pertama.
    Itu karenaaa .. terjadi kesurupan massal secara berentet.
    Sereeem kalau ingat itu ☹️

    BalasHapus
  7. haha kalo udah terkenal ramah tamah lucu gak usah marah-marah mas, nanti malah lucu, jadi juniornya gak takut :D

    BalasHapus
  8. Alhamdulillah aku waktu sekolah tidak pernah di pelonco sih, aman saja masuk sekolah tidak ada senior yang marah apalagi sampai bentak-bentak. Gurunya juga baik dan ramah sama semua murid nya bahkan dibimbing sampai bisa membaca dan menulis.πŸ˜‚

    Berarti untung juga ya ngga sekolah SMA dan kuliah, bebas dari peloncoan. Semoga saja memang dihapus tuh kegiatan seperti itu atau kalo mau tetap diadakan bisa diganti dengan kegiatan yang lebih baik agar tercipta keakraban antara senior dan junior.

    Misalnya hari pertama senior traktir bakso, besoknya ganti mie ayam, besoknya lagi ditraktir makan nasi Padang sampai selesai, pasti juniornya pada mau dan ngga dendam.🀣

    BalasHapus
  9. aku juga kalau mengalami perpeloncoan pasti akan kuingat terus. MOS jaman SMA ada perpeloncoan tapi gak seberapa sih, tapi masih teringat waktu dipanggil komisi disiplin yang yaelah lebay banget galaknya wkwk. kalau jaman kuliah sih gak tahu segalak apa senior2 itu karena cuma ikut ospek dua hari doang, sisanya males mendingan tidur di kos wkwkwk..

    BalasHapus
  10. Balasan
    1. Sebenarnya, konteksnya bukan Teknik bersatu, itu dari jurusan dengan slogan "We are one" wkwwk

      Hapus
  11. perploncoan adalah ketika senior marah-marah ke junior tanpa sebab. Terkadang, si senior mencari-cari kesalahan para juniornya.


    oooo rupanya 'perangai' (tabiat) sebegini berlaku di mana-mana saja ya.... tapi saya rasa hal ni lebih kepada 'dendam lama'. yalah, ketika seniornya masih junior, mereka juga dibuli seperti ini. jadi bila mereka naik jadi senior, inilah peluang untuk mereka balas dendam...bukankah begitu? hahaha... tapi jangan sampai ada yang cedera, admitted ward atau meninggal dunia sudahlah.... jadi case polis pula... ;-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin perangai macam tu, tersebab kita telah terjajah oleh Bangsa Eropah ratusan tahun, haaha.
      Jadi sifatnya menjadi balas dendam, namun ke orang lain :"

      Hapus
  12. Aku sih bukan orang yang menolak mentah mentah perploncoan yes, kadang itu tuh emang dibutuhkan biar lebih peka dan peduli dengan temen seangkatan wkwk. Tapi mungkin ini masalah porsi dan senior itu sendiri.

    BalasHapus
  13. Keren nih wkwk. Kalo aku berada di posisi dipojokin satu angkatan plus senior gak tau lagi keknya mau bilanh apa wkwk. Speechless bener sama jawabannya. Btw, kekompakan anak teknik kadang bikin iri loh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah iy eh. Kekompakan Teknik emang Udah teruji. Katonyo, dulu Sampe2 kalo ado sikok yg begoco, yg lain melok ngeroyok wkwkk

      Hapus
  14. Wkwkwk ak inget masa2 SMA duluu..

    Kerassss, dengan slogan KORSA komando satu rasa.. Setiap ngmng diawali dengan kata siap..

    Siap bang, siap iya bang, siap dan siap lainnya


    Dan hal yg dipojokin satu kelas atau oleh senior disekolahku namnya TM tes mental.. Memang kebentuk mental..

    Dan jujur sungguh itu kenangan yang indah, namun kayakny sedikit sungkan kalau disuruh mengulang wkwkwkwkwk..

    Keren sihh, kompak.. Kadang di lingkunganku.. Tidak ada jiwa2 korsa kadang kesel liat temen yang gak korsa, gak peka,.. Lagi suatu hal itu pasti ada negatif dan positif.. Kerenn dahh

    BalasHapus
  15. wahaha, dodo cerdas. Dulu pas dimarahin senior kok aku nggak kepikiran buat jawab yg rada brilian gitu yaa, huhu
    ngmgn perploncoan ini, aku pertama kali banget rasakan pas smp. Ih, itu senior yaa ampun kalau udah bareng sama ganknya kita pada ngumpet ngeliatnya. Kok bisa senioritas itu langgeng gitu. Sampe pernah suatu ketika pas aku mau diminta buat jadi mc, karena caranya kek ngejar gitu, aku langsung lari tunggang langgang. haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah serem, udah merasakan Sejak Smp. Aku smp mah apatis, ga ikut apa2 Hahahah

      Hapus
  16. Keren kak ceritanyaaaa dan bisa jadi sumber inspirasi dalam hal ngeles tapi ga boongπŸ˜‚

    btw terkait video perpeloncoan yang viral itu memang buat greget sih soalnya seniornya pada 'galak' semua, padahal setahuku ldo organisasi suka bagi peran, ada yang jadi peri dan ada yang marah marah kaga jelas

    BalasHapus
  17. Seru sekali kak, tapi Alhamdulillah saat aku maba di angkatan 2019, ada petisi yang berisi ospek tanpa perploncoan, apabila ada kating itu akan dipanggil oleh pihak yang berwajib, entah di kampus lain, tapi harapku sama kak semoga plinco hilang!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Petisi itu, sejak aku Maba udah ada. Tapi.. Masih bae wqwqk

      Hapus
  18. aku dulu juga dipanggil berkacamata
    dan kenapa ya selalu disuruh potong pendek gitu hahah

    suka sama jawabanmu mas

    klo dulu aku pas ditanya dan dibentak kujawab sama bahasa Tagalog dan bahasa Inggris
    eh mereka malah marah soalnya aku pura pura gapaham
    disuruh push up aku juga pura pura gak ngeh
    akhirnya mereka capai sendiri haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk keren amat mas pake bahasa Tagalog πŸ˜‚πŸ˜‚

      Hapus
    2. Mas Ikrom mah suka dengan budaya Philipina, dari kontes kecantikan sampai budaya cuci bajunya, makanya pintar bahasa Tagalog.😁

      Hapus
  19. Nasib punya wajah menggemashkan gitu ya dek dodo, eeeh mas dodo hahaa
    Mau mara mara malah diketawain junior

    Btw aku jadi pnisirin itu fakultas dari univ provinsi tetangga mana ya yang virall, haha maklum ku orange nda update mas dodo

    Tapi ngomongin perploncoan dulu dong aku mbandel aja bolos ospek fakultas dan jurusan (ekonomi manajemen jurusan ekonomi pembangunan), dan ga ikut organisasi satupun, aman zja, yg penting lulus cepat ipk aman haha

    eh seniorku juga banyak tuh yang beberapa kali nampang di tipi jadi pengamat wkkkk, sama kayak senior mas dodo

    Bener tuh semua fakultas asline ada tantangannya masing2,,.ga cuma teknik doang, soale aku ngematin adekku jg lg pendidikan dokter muda mas dodo, jd kdg turun langsung ke rs palagi di tengah pandemi gini, hiks, jadi dia jarang pulang, untungnya ga kebagian yg ngurus covid langsung

    Btw ini cerita bagian bawah koentjienya ada pada kata diksi yes 😁

    BalasHapus
  20. Gapapa dipanggil "dek dodo"
    Usiaku kan jauh lebih muda dari Panjenengan mbak heheheee

    BalasHapus
  21. aku pun sepakat, semoga perploncoan ini segera berakhir toh menurutku banyak hal yang lebih mendidik kok :)
    untungnya selama sekolah dan kuliah q nggak pernah mengalami perploncoan ini, hhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Semoga berakhir yaa mbak.
      Oh yaa, enak dong kuliahnya ga ada perploncoan πŸ˜…

      Hapus
  22. Mas Dodo yang cerdik (ngalah2in kancil),

    Saya juga kurang setuju dengan perploncoan. Bingung sama manfaat yang bisa diperoleh. Apalagi nih, pengalaman sampai saat ini, senior2 pas perploncoan organisasi, yang paling 'gede' suaranya pas ospek malah yang paling kecil kontribusinya untuk organisasi Heuu...

    Kayaknya satu-satunya manfaat perploncoan cuma jadi kompak dengan teman seangkatan gara2 membenci orang yang sama. Sungguh kebencian yang 'menyatukan' :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Serem banget, bersatu krn punya kebencian dgn orang yg sama Wkwkwmwk

      Hapus
  23. Semoga tradisi yang kadang menimbulkan kontrasepsi eh kontroversi ini segera berakhir...

    BalasHapus
  24. Zaman aku dulu kuliah di fakultas ekonomi universitas swasta aja pake guling2an di rumput, pakai kalung jengkol, mama2 tugasnya. Ya selama ga main kasar fisik terutama bikin anak orang mati sih mungkiiiiiin ga apa2. Jangan main tangan pokoknya sampai tampar2an di kamar mandi dll keroyokan itu big no, penjarain aja. Kata2 juga sewajarnya ga boleh ga berperikemanusiaan.

    BalasHapus
  25. weh kebetulan aku saksi bisu dibagian peristiwa viral dari universitas tetangga itu karena adikku bagian dari maba itu.
    Miris sih emang :(. Gak bisa bayangin giamana kesalnya kawan-kawan satu angkatan kk kwkwk.

    BalasHapus
  26. Panjang panjang amat komennya, sampe bingung bacanya

    BalasHapus
  27. Gimana mau bacanya, kalo disensor gitu kak :3

    Kan jadi penasaran wkwkkk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ditebak aja kata kata kotor seperti apa itu.. HAHAHAHA

      Hapus
  28. Kalo ngomongin perploncoan ini, aku pernah dua minggu (seminggu - seminggu gitu) tahap menuju pelantikan suatu organisasi X. Behh, pengen geleng-geleng rasanya. Untung saya anaknya kuat mental, penyabar, dan saya anggap itu olahraga deh. Pernah dalam satu hari karena ada yang salah, maka yang dihukum semuanya. Bisa bayangin enggak tuh, orang lain yang salah kita ikut-ikutan kena hukum. Gak tanggung2 push up 1000x coy wadaw wkwk

    Habis itu, aktif di organisasi itu sekitas 1 semester setelah itu muntaber :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngapoin pulok push up sampe seribu kali dik adikksss wqwkqk -__-

      Hapus
  29. Ospek selalu menjadi kenangan, mudah2an untuk kedepan lebih diperbaiki dan tidak lagi terjadi hal2 yang seperti itu:)

    BalasHapus
  30. Hahahaha, Do, itu kenapa banyak sensor bintang-bintangnya hahahaha.
    Yang paling lucu memang kalau kita punya wajah lucu, mau marahpun, yang dimarahin nggak bakal takut :D

    Dan Alhamdulillah, saya nggak pernah merasakan yang namanya perploncoan, even di STM maupun kuliah.
    Tapi pernah dong saya jadi panitia Himpunan Mahasiswa, jadi selain ada kegiatan MABA secara senat, ada juga per jurusan, dan waktu awal kuliah, demi menghilangkan keminderan dan segalah introvert, saya ikutan banyak kegiatan, salah satunya HIMA.

    Tampang saya sama sekali nggak menakutkan dong, malahan adik-adik kelas di grup saya yang selalu melindungi saya.
    Tapi giliran ada acara tengah malam disuruh keliling, semua shock liat saya bisa bentak-bentak, sampai-sampai temen-temen takut saya kerasukan wakakakaka.

    Ah semoga malam itu nggak ada adik kelas yang sadar kalau yang paling keras suaranya tuh saya, hahahahaha

    Kabooorrrr

    BalasHapus
  31. Masa orientasi memang menghadirkam cerita tersendiri. Kadang teringat sampai dewasa.

    Aku sudah mengenal masa orientasi seperti ini sejak jaman smp. Pas itu sering mengalami intimidasi secara verbal. Setelah orientasi selesai, akhirnya dekat dengan senior dan diberitahu dibalik masa orientasi tersebut.
    Akhirnya masa orientasi sma dan kuliah gada masalah..hahhahaa

    Jaman sekarang masa orientasi seperti ini sudah tidak relevan lagi...hehehehe

    BalasHapus
  32. Bhahahaha.. mantapp mas Do.. Kadang mereka (senior) emnk harus sedikit di ajarkan..

    Tapi jujur saya juga bingung sama kebiasaan perploncoan kita. Dari SMP sampe kuliah, saya masih sering ngeliat itu. Sebnernya sih tujuan mereka baik yah tapi I don't get the point.

    Saya pernah jadi OSIS, atau BEM.. dan selama itu pasti ada mereka yg kerjaan marah2.. Kalau saya nggak bisa marah2 gitu.. Yah kalau semisal ada dasi yg nggk bner makenya atau apa yah saya kasih tau baik-baik... nggk usah dihukum push up atau apalah itu.. Tapi saya cuma orang minoritas jadi suara saya nggk terlalu di dengar.. hahah

    BalasHapus
  33. Ah, mas Dodo ini ada aja akalnya. Untungnya dulu ospek di kampusku gak serem. Cuma nyebelin aja. Gak ada gunanya sih senior marah-marah gak jelas gitu. Lebih asyik ngomong baik-baik.

    BalasHapus
  34. Cie Mas Dodo, sudah terkenal ramah, lucu, baik hati, bersahaja, mengayomi, menggemaskan, suka menolong sesama hingga rajin menabung! HAHAHA...
    Banyak junior jd fans nya donk dulu mas klo ngakunya menggemaskan? πŸ˜‚

    BalasHapus
  35. per-ploncoan-ini memang bikin guemezzzz,kadang yang diajarkan pun nggak masuk akal caranya
    sebagai junior cuman bisa patuh aja sama perintah senior
    waktu kuliah dulu udah ada ospek fakultas, terus ikutan ekskul fakultas juga ada kayak ospeknya, terus ikutan ekskul di organisasi kampus juga ada lagi, astaga aku kenyang ikutan beginian

    BalasHapus
  36. Dari dulu sampe skr aku ga pernah setuju Ama plonco. Zaman aku jd senior aku ga prnh ikutan utk merisak anak2 baru. Ga peduli temen2ku ksh perintah apa, aku nolak ikutan.

    Pas kuliah aku sempet sebentar kuliah di Banda Aceh. Di fakultas ekonomi untungnya plonco ga terlalu serem, kami palingan cuma di jemur di lapangan, sambil pake aksesoris aneh2. Trus dibentak2 kayak biasa.

    Tapi di fakultas teknik mesin, itu serem. Temenku cerita, mereka dikerjain fisik, trus suruh buka baju, berbaris menyamping, tangan direntangkan sampe nyentuh ketiak temen di samping. Kan basah2 nya tuh ketiak. Trus disuruh cium masing2. Aku sampe mau muntah denger nya. Jijik

    Sinting kadang2 mereka itu

    Aku cuma 3 semester di Banda Aceh. Trus pindah kuliah ke Malaysia. Di sana ya mas, boro2 ada plonco. Kampusku malah ngadain acara malam menyambut anak2 baru di hotel berbintang, dengan tema2 tertentu. Aku sampe takjub, Krn ga prnh yg begitu ada di Indonesia. Justru dengan acara begitu jd akrab lgs antara senior dan junior.

    Makanya aku udh niat , anak2ku mending aku kuliahin di sana drpd di sini kalo hrs ngadepin plonco. Kalo model plonconya ga membahayakan sih oke. Lah pernah kejdian sampe hilang nyawa kan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. astagaa.. asli itu senior goblok bener mbak hahahaa

      Hapus
  37. Wah baca ini jadi nostalgia. Dulu jaman masuk SMA juga diplonco. Kepala sekolah sih udah bilang, "Tenang aja, gak ada balas dendam." Tapi prakteknya, ya para kakak kelas itu balas dendam ke murid baru sih. Mereka dulu dibentak2 seniornya, jadi mereka merasa harus balas dendam ke adek kelas nya

    BalasHapus