Duhai Perempuan Jawa Oleh: @dodonugraha Di Sumatera, bany ak sekali perempuan keturunan Jawa bertutur kata halus dan sangat setia juga begit...


Duhai Perempuan Jawa


Di Sumatera,
banyak sekali perempuan keturunan Jawa
bertutur kata halus dan sangat setia
juga begitu peduli pada keluarga

Ingin ku katakan pada dunia,
salah satu Perempuan Jawa itu adalah dia
yang telah membuat hati ini meronta-ronta
tutur lakunya membuat aku terpana

Kata orang di luar sana,
perempuan Jawa mampu hidup sederhana
maukah dia diajak seperti itu
aku pun tak tahu

Aku juga tak tega,
semoga nanti bisa menjadikan dia bahagia
hidup aman dan sejahtera
hingga punya anak lima

Ingin ku katakan,
kulo tresno kaleh panjenengan
sandang, pangan hingga papan
dapat ku jamin pasti aman

Semoga dia dapat merasakan hal itu,
dan siap menunggu
jangan sampai diambil orang
kalau tak mau pukulan melayang

Jangan terkejut sama judulnya. Ini cuma click-bait! Ini bukan cerita tentang aku yang hendak ketemu istri kedua. Gimana, yaa.. Istri pertama...



Jangan terkejut sama judulnya. Ini cuma click-bait! Ini bukan cerita tentang aku yang hendak ketemu istri kedua. Gimana, yaa.. Istri pertama aja, aku belum punya.. Wkwkw.

Cerita ini berawal di waktu sore, dua hari yang lalu. Saat itu sedang hujan, sangat deras. Aku tengah memacu motorku, hendak pulang ke rumah dari suatu tempat. Total jaraknya sekira dua puluh dua kilometer. Namun, baru jalan tujuh kilometer, motorku mogok. Tiba-tiba mati. Ini lah penyakit motorku, kalau hujan dan terkena air dengan intensitas yang tinggi, tidak kuat.

Maka, aku memberhentikan motor di tepi jalan. Berteduh di bawah stasiun LRT di tengah kota. Aku terus mencoba untuk men-starter dan meng-engkol motorku. Masih saja tidak nyala. Maklum saja, motor ini sudah agak tua. Biasanya, motor ini akan nyala kembali jika didiamkan agak lama. Jika sudah kering dan tidak basah lagi.

Kebetulan Qadarullah, tidak jauh dari situ, ada toko buku Gramedia. Maka aku putuskan untuk mampir ke sana saja. Aku mendorong motor ke Gramedia. Lelah juga, ternyata. Ditambah lagi, tempat parkirnya luas dan naik turun. Tempat parkir motor terletak di paling belakang dan di basement bawah tanah. Untungnya, satpam di sana baik hati. Beliau mempersilahkan aku untuk memarkirkan motor di dekat pos satpam saja. Kasihan melihatku lelah mendorong motor, katanya.

Sebetulnya, niat utamaku ke Gramedia adalah hanya untuk numpang baca, sambil menunggu motor kering agar kemudian bisa nyala lagi. Namun, karena tidak enak sama pak satpam yang sudah baik hati, maka aku jadi kepengen beli buku di sana.
"ATM di sini ada di mana, pak?" Aku bertanya pada satpam.
"Waah, di sini kita sudah tidak ada ATM lagi, dek." Kata beliau.
Artinya, fiks. Berarti aku tidak jadi beli buku di sini. Numpang baca doang!

Aku menuju lantai tiga. Melihat-lhat tempat buku novel. Pekan lalu aku juga ke sini, membaca novel karya Bang Tere Liye. Namun, ketika sampai di sana, tidak ada lagi novel yang plastiknya sudah terbuka. Semua dibungkus rapi. Harapan melanjutkan bacaan pekan kemarin, sirna.
Akhirnya, aku berkeliling ke rak-rak yang lain. Aku tertuju pada buku karya Bunda Asma Nadia, judulnya Istri Kedua. Buku ini, merupakan lanjutan dari buku CHSI. Catatan Hati Seorang Istri. CHSI sukses menjadi buku best seller, sampai-sampai dijadikan sinetron di televisi. CHSI berisi curhatan ibu-ibu kepada Bunda Asma. Ada yang suaminya selingkuh, kawin lagi, nikah siri, poligami, anak terlantar dan sebagainya. Kira-kira itu isinya.
Aku mengetahui hal ini dari kata pengantar buku Istri Kedua.

Kemudian, apa beda dengan buku selanjutnya? Buku Istri Kedua, menurutku cukup unik. Jika selama ini, masyarakat umum memandang negatif kepada istri kedua, di buku ini istri kedua dikesankan positif. Maksudku, buku ini berasal dari perspektif istri kedua. Mereka adalah manusia biasa, sama seperti kita. Tidak berhak mendapat judge yang sedemikian rupa.


Banyak kisah unik dan inspiratif dari buku ini. Ada yang seorang suami berpoligami, diam-diam. Istri pertama menjadi sangat benci kepada istri kedua. Anak-anaknya juga. Istri pertama "men-doktrin" anak-anaknya untuk ikut benci kepada istri kedua.
Hingga di penghujung usia, istri pertama jatuh sakit. Maka si suami merawatnya sebab anak-anak mereka semua berada di luar kota. Artinya, si suami menjadi lebih intens kepada istri pertama, jadwal kunjungan ke istri kedua menjadi berkurang.
Singkat cerita, si suami menjadi ikut sakit. Suami dan istri pertamanya sama-sama sakit. Apa yang terjadi? Ternyata istri kedua datang kepada mereka, dan merawat mereka berdua. Sungguh di luar dugaan.

Cerita belum usai. Di luar dugaan, ternyata si suami yang lebih dahulu meninggal. Setelah itu, rupa-rupanya istri kedua tetap dengan ikhlas merawat istri pertama. Tidak dapat dibayangkan betapa akward momen itu. Orang yang sudah berpuluh-puluh tahun dibenci, tiba-tiba hari ini menjadi orang yang merawat ketika diri sudah lemah tak berdaya. Di akhir cerita, istri pertama akhirnya meninggal, menyusul sang suami. Anak-anak dari istri pertama kemudian dapat akur kepada ibu tiri mereka, alias si istri kedua.
Ini kisah nyata teman-teman, benar-benar terjadi!

Kisah di bab selanjutnya, ada dari perspektif seorang pria dewasa yang punya komunitas poligami. The Poligamiers, namanya komunitasnya memang begitu kalo gak salah, wkkwqk. Beliau menceritakan anggota dari komunitas itu, aku benar-benar berdecak "kagum" ingin mengikuti jejak komunitas ini. #Ehh, bukan gitu maksudnya.
Salah satunya adalah begini. Ada cerita dari anggotanya, yang istrinya membolehkan poligami seandainya si suami telah memiliki penghasilan 10 juta rupiah per bulan. Si istri memberikan syarat yang dianggap tidak masuk akal untuk saat itu, sebab gaji suaminya hanya 700 ribu rupiah. Harapan si istri, suaminya tidak akan bisa poligami.
Namun, tak disangka, beberapa tahun setelah itu si suami benar-benar memiliki penghasilan 10 juta rupiah per bulan. Sebab janji telah diucapkan, akhirnya sang suami benar-benar melakukan poligami. Hahaha!

Btw, aku tidak bisa bercerita banyak tentang buku ini. Sebab saat itu aku hanya membaca sekitar 40 halaman saja. Baru tiga bab yang aku baca. Baru tiga cerita dari belasan cerita yang disajikan di buku tersebut.

Sejujurnya, setelah membaca sedikit dari buku tersebut, terutama bab mengenai komunitas The Poligamiers, aku jadi punya keinginan untuk melakukan poligami juga. Awkwkokw. Tapi nanti dulu mau poligami, monogami pun belum.
Buat si doi kalo baca paragraf ini, jangan dianggap serius. Becanda doang!

Masyarakat kita hari ini, sering menganggap poligami sebagai sunnah rasul. Padahal... bener sih. Eh, tapi sunnah rasul tidak hanya itu. Ada banyak sunnah yg lain. Membaca Al-Qur'an, shalat Dhuha, shalat Rawatib, bersedekah dan lain sebagainya. Masih banyak sekali.

Tapi, apabila memang ada yang melakukan poligami, kita tidak boleh nyinyir, men-judge, apalagi sampai memperolok mereka. Sebab pertama, itu adalah pilihan pribadi dan tidak menyalahi hukum agama. Poligami adalah halal! Sebab kedua, poligami adalah aturan agama yang dibenarkan syariat, maka tidak patut untuk kita jika memperolok aturan agama.

Apakah aku akan ber-poligami? Aku tidak tahu. Tunggu saja puluhan tahun ke depan!
Semoga tidak, tapi kalo memang terjadi yaa apa boleh buat. EHEHEHEE.


Malam itu, hampir pukul sepuluh. Aku sedang makan malam ketika ponselku bergetar. Gawai itu sengaja di- silent -kan. Ternyata, ada empat pan...




Malam itu, hampir pukul sepuluh. Aku sedang makan malam ketika ponselku bergetar. Gawai itu sengaja di-silent-kan. Ternyata, ada empat panggilan tak terjawab. Ketika dicek, rupa-rupanya berasal dari adik tingkat di kampus. Ia adalah seorang ukhti. Bertubuh mungil, berkacamata dan berhijab lebar. Hijabnya cukup syar’i, menjulur sampai ke bawah dada. Terlihat dari foto profil di WhatsApp-nya yang cukup menggemaskan.
 
Karena aku adalah seorang kakak tingkat yang baik – terlebih dengan adik tingkat perempuan – maka aku meneleponnya balik.
“Haloo, assalamu’alaykum! Ada apa, Nur?” Kataku dalam sambungan telepon.
“Wa’alaykumussalam, mas. Gini, ada proyek untuk sampeyan!” Kata si ukhti. Sebut saja namanya Nur.
 
Proyek apakah itu?
Sebenarnya simpel. Proyeknya berupa penyediaan snack box, berisi tiga kue dan satu aqu*a air mineral. Jumlah pesanannya sebanyak dua puluh lima kotak.
For your information, aku adalah seorang yang memiliki bisnis kuliner. Aku menjual kue-kue yang diletakkan di dalam kotak. Target pasarku kepada mahasiswa dan anak sekolah. Sebagaimana kita tahu, mereka pasti sering mengadakan berbagai macam acara. Sebut saja pengajian, seminar, pelatihan, lomba, rapat, kongres, dan sebagainya. Dan, sudah barang tentu, dalam acara tersebut kerap kali butuh snack untuk pesertanya.
Begitulah bisnisku semasa kuliah. Namanya NugrahaSnack.

Kembali ke ukhti yang bertubuh mungil. Bisnisnya, berfokus pada Palugada; Apa lu mau, gua ada. Nama brand dari bisnisnya adalah adogalo! Dalam Bahasa Palembang, ado galo berarti ada semua.

Nur mengatakan bahwa baru saja ada orang yang menghubunginya untuk memesan snack. Maka, Nur menghubungiku. Sejujurnya, aku cukup senang karena memang Nur sudah lama tidak menghubungiku. Chat terakhirku juga tidak dibalas olehnya, hanya di-read saja.
Eeeh, tunggu. Bukan gitu ceritanya.

Jadi, aku cukup senang karena sudah lama tidak ada pesanan untuk snack ini. Maklum saja, sampai hari ini, pandemi masih terjadi. Maka, acara-acara kampus dan sekolah dialihkan ke webinar. Acara daring, melalui Zoom Meeting atau Google Meet. Karena acaranya online dan pesertanya berada di rumah masing-masing, maka panitia tidak menyediakan snack kepada para peserta.

“Nanti sampeyan tinggal antar snack-nya ke Gedung X. Dan jangan lupa, seperti biasa, komisi buatku yaa mas. Tinggal transfer wae! Hehee.” Suara Nur terdengar di ujung telepon, sambil tertawa riang. Aku mengangguk pelan tanda mengiyakan.

***

Di esok hari, aku mendapati ponselku memiliki notifikasi. Dua panggilan tak terjawab dan empat pesan masuk. Semuanya dari Nur. Aku membaca pesan itu dengan saksama.
Mas, kata mereka ga jadi pesan snack buat besok.

Ga bisa gitu, dong. Kue-nya udah dibuat! :((
Aku membalas pesannya dengan singkat padat dan jelas.

Karena aku saat itu hendak dalam perjalanan pulang menuju rumah, aku menjadi tidak berkonsentrasi mengendarai sepeda motor. Pikiranku agak kalut, sumpah serapah hendak aku lontarkan, namun tidak jadi. Aku tetap mencoba berpikir positif. Kalau memang rezeki, yaa berarti rezeki. Kalo bukan yaa udah. Pasti masalah sepele ini akan ada jalan keluarnya.

Di atas motor, dalam perjalanan pulang ke rumah. Aku teringat dengan kisah yang terjadi sekira 14 abad yang lalu. Khalifah Umar ibn Khath-thab yang menjadi pemimpin Daulah Islam (negara Islam) bagi para kaum muslimin.
Eh, tunggu. Aku ga papa kan kalo pake istilah Khalifah. Nanti aku disangka anti ke-bhinneka-an. Wkkwkw.

Oke, lanjut.
Kisah ini terjadi di Kota Madinah. Saat itu, ada dua orang pemuda yang mendatangi Khalifah Umar, sambil membawa seseorang yang sedang terikat.
"Wahai Amirul Mukmin, pemuda ini telah membunuh ayah kami." Kata dua orang pemuda itu.

Sementara, orang yang terikat tangannya berkata, "Wahai Amirul Mukminin, dengarkanlah penjelasanku terlebih dahulu," pintanya.
"Tidak, hal itu tidaklah penting. Kamu beruntung kami tidak melakukan balas dendam padahal ayah kami telah engkau bunuh. Kami justru membawamu kepada Khalifah Umar," kata kedua pemuda itu dengan tensi yang panas, sepanas padang pasir di Arab.

Kondisi mulai tegang, Khalifah Umar segera menenangkan mereka yang saling beradu pendapat dan meminta mereka untuk tidak emosi dalam memberi penjelasan. Kemudian, pemuda yang terikat tangannya segera bercerita.
Ternyata, sebelum tiba di sini, ia sedang menaiki seekor unta untuk pergi ke satu tempat. Karena terlalu letih, pemuda yang terikat itu tertidur. Namun, ketika terbangun, ia mendapati untanya telah hilang.

Tak jauh dari lokasi dia tertidur, pemuda itu melihat untanya sedang asyik memakan tanaman di sebuah kebun, "Lalu aku berusaha menghalaunya, tetapi unta itu tidak juga berpindah dari tempat dia berhenti."
Tak lama kemudian, datanglah seseorang dan terus melempar batu ke arah untanya. Lemparan itu tepat ke arah kepala untanya. "Maka unta milikku seketika langsung mati." kata pemuda itu.

Pemuda itu mengakui, setelah melihat untanya mati akibat lemparan batu tersebut, ia marah dan kesal. "Lalu saya mengambil batu dan melempar batu tersebut ke arah orang yang melempari untaku itu." Tak disangka, batu itu mengenai kepalanya hingga lelaki itu jatuh tersungkur dan meninggal. "Sebenarnya, aku tidak berniat untuk membunuhnya," kata pemuda itu kepada Khalifah Umar.

Mendengar penjelasan sang pemuda, Khalifah Umar memutuskan bahwa ganjaran atas perbuatannya itu adalah qishas, alias hukuman mati. Pemuda itu ikhlas menerimanya.
"Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishas atasku. Aku ridho pada ketentuan Allah, tetapi izinkan aku menunaikan semua amanah yang tertanggung dulu."
Amanah itu mengenai adiknya. Sebelum meninggal, ayahnya telah mewariskan harta. "Dan aku menyimpannya di tempat yang tidak diketahui oleh adikku."

Maka, ia meminta Khalifah Umar berkenan memberi waktu selama tiga hari untuk pulang ke kampung agar ia bisa menyerahkan warisan dari orang tuanya kepada adiknya. Mendengar permintaan itu, Khalifah Umar tidak buru-buru mengabulkannya sebelum ada yang memberikan jaminan. "Siapakah yang akan menjadi penjaminmu?" tanya sang khalifah.

Pemuda itu tertunduk bingung siapa yang akan menjadi penjaminnya.
"Jadikanlah aku sebagai penjaminnya, wahai Amirul Mukminin!" Suara itu, seperti dikisahkan dalam buku 19 Kisah Sahabat Nabi, adalah suara Salman al-Farisi.

"Salman?!" hardik Khalifah Umar. "Demi Allah, engkau belum mengenalnya! Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini! Cabut kesediaanmu!" perintah Umar.
Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap perintah Khalifah Umar, Salman berkata, "Pengenalanku padanya tak beda dengan pengenalanmu, wahai Khalifah Umar. Aku percaya kepadanya sebagaimana engkau memercayainya." kata Salman yang membuat orang-orang tertegun mendengar kata-kata bermakna itu.
Dengan berat hati, Umar melepas pemuda itu dan menerima penjaminan yang dilakukan oleh Salman. Sementara, dua pemuda yang ayahnya terbunuh itu harap-harap cemas.

Pada hari ketiga, Khalifah Umar dan seluruh penduduk menunggu pemuda tersebut. Hingga tengah hari, pemuda itu belum juga datang. Jika ia tidak datang, Salman al-Farisi yang akan menjadi pengganti untuk menerima hukuman mati.
Akhirnya, Salman al-Farisi dengan tenang melangkah ke tempat hukuman mati sebagai penerima jaminannya. Ketika Salman sudah berada di tempat akhir hukuman, tiba-tiba sesosok bayang-bayang berlari terseok, lalu bangkit dan nyaris merangkak. Pemuda itu dengan tubuh ambruk ke pangkuan Khalifah Umar.
"Maafkan aku hampir terlambat!" ujar pemuda itu. Pemuda itu langsung menggantikan posisi Salman. Ia berterima kasih kepada Salman telah bersedia menjadi penjaminnya meski ia belum dikenalnya sama sekali.
Umar protes atas keterlambatan pemuda itu.
Namun, sang pemuda berkata, "Urusanku memakan waktu. Aku memacu tungganganku tanpa henti hingga sekarat di gurun dan terpaksa kutinggalkan, lalu aku berlari ke sini.”
Sebelum melakukan hukuman, Khalifah Umar berkata. "Demi Allah, bukankah engkau bisa lari dari hukuman ini? Mengapa susah payah kembali?" kata Umar sambil menenangkan dan memberinya minum.
Setelah menerima pemberian dari Umar, pemuda itu berkata, "Supaya jangan sampai ada yang mengatakan di kalangan Muslimin tak ada lagi kesatria tepat janji," kata pemuda itu sambil tersenyum.

Khalifah Umar kemudian mendekati Salman yang tidak jauh dari pemuda yang akan dieksekusi mati itu. "Mengapa kau mau menjadi penjamin seseorang yang tak kau kenal sama sekali?"
Dengan tegas tetapi lembut menjawab pertanyaan Khalifah Umar, Salman berkata, "Agar jangan sampai dikatakan di kalangan Muslimin tak ada lagi saling percaya dan menanggung beban saudara," tuturnya.

Kedua lelaki yang ayahnya telah terbunuh lalu merasa terharu dengan sikap sang pemuda dan keberanian Salman. Mereka berkata, "Wahai Amirul Mukminin, kami mohon agar tuntutan kami dibatalkan. Kami telah memaafkan pemuda penepat janji ini."
Mendengar perkataan tersebut, Khalifah Umar bertanya, "Mengapa kalian berbuat seperti itu?" tanya Umar.
"Agar jangan ada yang merasa di kalangan kaum Muslimin tak ada lagi saling memaafkan dan kasih sayang," katanya.

"Wahai Salman, kamu sungguh berani, dan wahai pemuda, kamu adalah al-Wafi. Kamu berdua sangat mulia, lalu bersalamanlah dan kuatkan persaudaraan di antara kalian," kata Umar.

***

Apakah kisah di atas merupakan cerita fiksi atau dongeng?
Tentu saja tidak, kawan. Cerita tersebut benar-benar terjadi. Khalifah Umar dan Salman al-Farisi adalah tokoh yang benar-benar nyata, tercatat di dalam sejarah. Kisah tersebut mengajarkan kepada kita tentang satu hal, yang barangkali beranjak disepelekan dalam kehidupan sekarang, menepati janji.

Apa korelasinya dengan cerita aku berjualan snackTentu saja ada. Sebab, snack yang aku jual, bukanlah aku yang membuat sendiri. Aku membeli kue kepada ibu-ibu tetanggaku yang kebetulan memang berjualan di pasar. Kemudian kue-kue tersebut yang baru aku bungkus. Aku mengemasnya dalam kotak, yang akhirnya dengan begitu baru dijual.

Jadi, aku sudah janji pada mereka bahwa esok pagi, aku akan datang membeli kue mereka.
Mereka akan sangat kecewa apabila aku tidak datang. Jika aku tidak jadi membeli kue mereka. Biarin aku rugi, yang penting ibu-ibu itu tidak kecewa. Uang masih bisa dicari. Pantang sekali bagi mengecewakan orang lain dengan membatalkan janji. #Eaakk

Bagaimana ending ceritanya?
Nur kembali menghubungiku. Bilang kalo mereka batal untuk membatalkan pesanannya. (Nah, lho!)
Artinya, mereka tetap jadi memesan snack. Tidak jadi untuk tidak jadi memesan. Namun, pesannya sedikit berubah. Yang awalnya pesan tiga jenis, berubah menjadi dua jenis kue saja. Sejujurnya, aku tetap protes ke Nur. Satu jenis kue yang sudah dipesan mau diapakan, tidak mungkin dibatalkan.

Akhirnya, diambil kesimpulan yang win-win solution. Satu jenis kue yang tidak jadi dijual, diambil oleh Nur. Namun, komisi untuknya tidak aku bayarkan.
Tidak masalah rugi sedikit, namanya juga berjualan. Ada kalanya untung, ada kalanya rugi.



Dua pekan lalu, sepupuku baru saja melakukan hajatan . Resepsi pernikahan yang sempat tertunda. Sebelumnya, ia telah melakukan akad nikah l...




Dua pekan lalu, sepupuku baru saja melakukan hajatan. Resepsi pernikahan yang sempat tertunda. Sebelumnya, ia telah melakukan akad nikah lima bulan lalu. Saat itu, yang hadir hanya keluarga dan teman dekat saja. Bahkan, tetangga kiri-kanan pun tidak diundang.

Di acara resepsi ini, sudah agak sedikit berbeda dengan acara akad nikah. New normal, kata orang. Acara resepsi di khalayak ramai sudah mulai diizinkan oleh aparat, namun tetap saja dengan protokol kesehatan yang tidak ketat. Banyak tetamu yang datang, dari seluruh penjuru negeri. Maklum saja, keluarga kami besar. Bapakku sembilan bersaudara, Saudara-saudara bapak (Pakde) tersebar di seluruh Indonesia.
 
Saat itu, yang menikah adalah anak dari Pakde yang nomor tiga. Beliau adalah pejabat tinggi di pemerintah pusat. Pangkatnya sudah es-melon satu alias Esselon 1. Jabatannya juga hanya terpaut satu tingkat di bawah Direktorat Jenderal (Dirjen) di Kementerian. Itulah sebabnya, beliau banyak kenal dengan orang penting di negeri ini.
 
Salah satu tamu penting yang diundang adalah Menko-saurus. Menteri Koordinator Segala Urusan. Entahlah, segala urusan pasti bapak ini turun tangan di dalamnya. Mulai dari kemaritiman, investasi, konflik agraria, penegakkan hukum, kepastian HAM, hingga perkara olahraga sepak bola pun, bapak ini mesti ikut ambil bagian. Menko-saurus bukan salah satu nama spesies dinosaurus, yaa. Hahaa.
 
Walaupun Pak Menko-saurus menjadi salah satu tamu undangan, sejujurnya aku tidak peduli. Aku ra-urus!
BtwMenko-saurus bukan nama jabatan resmi beliau, itu hanyalah satire yang sering berkembang di media sosial.

Pak Menteri datang bersama rombongan. Tidak banyak sih, hanya tiga orang. Mungkin mereka adalah ajudan pribadi beliau. Pak Menteri pasti sangat butuh ajudan dan pengawal. Terang saja, beliau saat ini menjadi public enemy masyarakat. Terutama dari kelompok oposisi pemerintah. Pernyataan beliau di media, sering membuat geleng-geleng kepala.
Jadi, kamu pasti tahu siapa Menko-saurus yang aku maksud, kan? Beliau adalah... sebagian teks hilang...
 
Oke, lanjut. Ada apa di resepsi itu?
Jadi, beliau dan rombongan telah tiba sejak Sabtu malam, padahal acaranya di hari Minggu Ahad. Sebenarnya adalah wajar, sebab acara resepsi pernikahan ini tidak dilaksanakan di kota besar, melainkan di sebuah desa. Desa ini terletak di salah satu Kabupaten yang ada di pedalaman Sumatera.
Mereka menginap di salah satu rumah Pakde-ku. Mereka tidur di ruang tamu, hanya di atas tikar dan di depan televisi. Hanya mengenakan kaus singlet dan celana pendek. Sungguh, ini adalah penampakan yang luar biasa bagiku. Di tengah sosoknya yang sangar dan tampak glamour di media, ternyata menyimpan sosok kesederhanaan luar biasa.
Menurutku, orang sekaliber pak Menteri seharusnya tidur di hotel saja. Namun, ini adalah pilihan beliau. Alasannya ketika aku tanya, katanya agar lebih berbaur dengan masyarakat. Sungguh contoh pejabat publik yang sangat memberi teladan pada kita semua.
 
Ini yang ingin aku ceritakan. Saat itu, di hari Sabtu malam. Kami para panitia pasti sangat sibuk. Mempersiapkan tenda, memasang kursi, menata dekorasi dan ini itu. Pekerjaan itu dilakukan sampai larut malam, sekira setengah satu dini hari baru selesai. Bahkan, ada di antara kami yang begadang untuk menjaga peralatan sound system milik organ tunggal (OT). Bisa saja, apabila seluruh panitia tertidur, maling dengan mudah menggondol berbagai piranti yang ada di sana.
 
Tersebab aku tidur sudah cukup larut, ditambah tubuh yang sudah lelah. Aku bangun kesiangan. Waktu telah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Adzan Shubuh telah berkumandang satu jam yang lalu. Maka, saat itu aku tidak bisa melaksanakan shalat Shubuh berjama’ah di masjid. Sebab jama’ah pasti sudah pulang sejak tadi. Haha.
Aku putuskan untuk shalat sendirian di rumah Pakde.
 
Tempat yang paling pas dan nyaman untuk aku shalat, adalah ruang tamu. Di sana ada sedikit space yang cukup untuk meletakkan sajadah. Namun, seperti yang telah aku singgung di awal, di ruang tamu saat ini ada pak Menteri dan rombongan yang sedang tidur. Seingatku, mereka non-muslim. Jadi aku tidak mau membangunkan tidur mereka. Tidak mungkin aku mengajak mereka shalat Shubuh bersama. Biarkan saja mereka ber-istrirahat, eh beristirahat.
 
Namun, di ruang tamu itu, mereka tidur dengan televisi yang menyala. Nampaknya, mereka dari semalam menonton televisi dan lupa mematikannya. Karena aku hendak shalat – tidak mau konsentrasi terganggu – aku mematikan televisi itu.
 
Petaka itu terjadi. Ketika aku mematikan televisi, Pak Menko-saurus malah terbangun. Bak dinosaurus yang baru saja bangun dari tidur panjangnya. Seram sekali.
Mungkin, suasana yang tiba-tiba menjadi hening membuatnya terbangun.
 
“Televisinya kenapa kamu matikan? Kamu tidak suka saya menonton televisi di sini?” Pak Menteri berkata dengan serius kepadaku.
 
“Apa sih nih orang, baru bangun tidur langsung marah-marah ga jelas.” Aku bergumam dalam hati. Tidak mungkin aku katakan langsung ke beliau. Hahha.
 
“Eh, bukan begitu pak. Saya di sini mau shalat. Biar bisa konsentrasi dan tidak ada gangguan. Saya juga lihat, bapak sedang tidur. Jadi saya matikan saja televisinya. Mohon maaf sekali lagi, pak.” Aku meminta maaf saja. Kalau diteruskan, pasti bakal panjang berurusan dengan pejabat.
 
“Heeh? Melawan kamu sama saya? Kamu tidak tahu siapa saya?” Respon Pak Menteri malah seperti itu.
 
Orang ini benar-benar gila hormat.
 
Aku kemudian shalat, membaca Surat Al-Fatihah, dan surat pilihan selanjutnya. Tiba-tiba, televisi kembali menyala. Sayup-sayup aku mendengar suara televisi, sedang menayangkan serial kartun Sponge Bob. Kemudian, sambil menonton, Pak Menteri dan para ajudannya tertawa-tawa. Jarak mereka dengan tempatku shalat, hanya terpaut dua meter saja.
 
Konsentrasi dalam shalatku terganggu. Aku menyumpah serapah orang-orang itu.
Dasar orang tua gila! Orang mau shalat, kenapa diganggu. Kataku, di dalam hati. Astaghfirullah!
 
***
 
Apakah kisah ini benar-benar terjadi? Tentu saja tidak, kawan.
Kisah ini tidak benar-benar terjadi di dunia nyata. Kisah ini hanya terjadi di dalam mimpi, sekira tiga hari yang lalu. Ketika aku (ter-)tidur lagi setelah shalat Shubuh. Btw, jangan ditiru, yaa!
 
Sebetulnya, aku agak sedikit ragu ketika hendak menceritakan ini. Kenapa? Sebab dalam pemahamanku, dalam ajaran Islam, tidak baik menceritakan mimpi buruk.
Eh, tunggu. Apakah dimarahin Pak Menko-saurus termasuk pengalaman mimpi buruk? Aku rasa itu pengalaman kocak.. Wkkwk!

Menyambung postingan sebelumnya mengenai Cara Mendapatkan Office 365 secara Legal , namun gagal. Kemudian muncul pertanyaan, apakah aku masi...


Menyambung postingan sebelumnya mengenai Cara Mendapatkan Office 365 secara Legal, namun gagal. Kemudian muncul pertanyaan, apakah aku masih menggunakan Office yang ilegal atau bajakan?
Jawabannya adalah, aku masih menggunakan Microsoft Word, Microsoft Excel dan Microsoft PowerPoint dengan versi lain yang lebih ringan, yakni versi mobile (untuk ponsel). Jadi, aku menggunakan aplikasi untuk mobile di PC. Aplikasi ini insyaa Allah gratis alias free.

Bagimana caranya?
Kamu tinggal download saja di microsoft.com. Aplikasinya bernama Word Mobile, Excel Mobile dan PowerPoint Mobile. Gambar di bawah ini adalah contoh untuk Word Mobile. Untuk Excel Mobile dan PowerPoint Mobile aku tidak memberi contoh karena malas. Silahkan download saja sendiri. :)


Kemudian, beginilah tampilan awal sebelum masuk.


Dan ini adalah tampilan halamannya. Memang sedikit agak berbeda dengan Microsoft Word yang biasa.


Menu yang tersedia di sini memang lebih sedikit dan simpel. Tapi, beruntungnya menu yang tersedia memang yang benar-benar sering kita pakai. Sebagai contoh, berikut ini adalah tampilan menu Home, Insert dan Layout.




Jadi, apa yang aku rasakan ketika memakai aplikasi Word Mobile?
Untuk kelebihannya, pastinya harganya gratis. Kemudian, penggunaannya yang lebih enteng dan simpel daripada Microsoft Word biasa.

Sedangkan, untuk kekurangannya, kamu tidak akan menemukan menu Save as. Dokumen akan otomatis tersimpan sendiri di cloud, dengan nama Document 11. (misal). Jadi, ketika akan mengubah nama dokumen, harus memilih menu Save a copy of this file. Menurutku, langkah-langkah seperti ini kurang efektif, tidak bisa langsung menyimpan dokumen.
Tetapi, wajar saja sih ada kekurangan yang membuat pengguna tidak nyaman. Namanya saja aplikasi gratis, hehehe..


Oh yaa, review terakhir untuk aplikasi Word Mobile adalah pada menu export file. Hanya tersedia satu pilihan selain .docx yaitu .pdf.
Apakah hal ini merupakan suatu kelebihan atau kekurangan? Tergantung persepsi masing-masing untuk menjawabnya.



Oke lanjut ke aplikasi kedua, Excel Mobile.



Beginilah tampilan awalnya ketika hendak masuk ke aplikasinya.


Bisa kita lihat pada gambar di bawah ini, bahwa Excel Mobile tidak berbeda jauh dengan Word Mobile. Keduanya sama-sama simpel. Menu-menu dibuat menjadi lebih sederhana.
Aku tidak bisa me-review lebih banyak. Karena aku tidak terlalu sering menggunakannya. Aplikasi ini hanya aku gunakan untuk mendata perkembangan bisnis dagangan dan memantau pengeluaran bulanan. Tidak terasa, sudah lebih dari 700 ribu pengeluaranku di bulan ini. Wkwkw.



Aplikasi terakhir, PowerPoint Mobile.


Untuk tampilan awalnya seperti ini.



Bisa kita lihat bersama, menu yang tersedia cukup sederhana. Sejujurnya, hal ini menyulitkan bagiku. Sebab, aku terbiasa membuat desain gambar sederhana dengan PowerPoint. Namun, pada aplikasi ini, banyak fitur yang dihilangkan. Ini adalah isi dari menu Insert dan Design. Sangat sedikit sekali.



Satu lagi hal yang paling menganggu di PowerPoint Mobile adalah format penyimpanan.
Aku biasa menyimpan gambar desain dari aplikasi ini dengan format .jpg atau .png. Di Microsoft PowerPoint biasa, hal ini dapat dilakukan dengan cara export file atau save as. Akan tersedia berbagai jenis format selain .pptx, seperti .jpg, .png, .pdf, .gif, .bmp, .tif, dan sebagainya.
Di aplikasi PowerPoint Mobile, seluruh format tersebut tidak tersedia. Hanya tersedia satu format saja, yakni .pptx.


Dan di bawah ini, adalah contoh desain gambar yang aku buat. By the way, desain gambar ini di-upload di Instagram sebagai konten microblog ala-ala. Hihihii.
Dengan segala keterbatasannya, maka PowerPoint Mobile tidak bisa digunakan untuk menyimpan hasil gambar. Aku menggunakan aplikasi lain yaitu WPS Power Point. Di sana, tersedia format .png dan .jpg.

Tampilan di PowerPoint Mobile


Tampilan di WPS Office, ketika hendak menyimpan

***

Demikianlah review dariku mengenai tiga aplikasi tersebut. Semoga bermanfaat!
Sebenarnya, ada satu rahasia. Aku men-download ketiga aplikasi tersebut dengan email student yang didapat dari kampus. Dilema, sih. Sebab, saat ini aku bukan lagi student. Tetapi, masih menggunakan akun tersebut. Di sisi lain, dari pihak kampus kenapa belum menon-aktifkan akunku. Maka, aku masih tetap bisa memakainya dong, ehehee.
Jadi, apakah aplikasi ini halal bagiku? Entahlah, hehe.

Oh yaa, terakhir. Katanya, jika kamu menggunakan email biasa (gmail, misalnya), maka aplikasi ini tidak akan bekerja. Tidak bisa digunakan untuk mengedit sesuatu, hanya berfungsi read-only saja. Word Mobile dan kawan-kawannya harus di-download menggunakan email student.
Apakah mitos tersebut benar? Aku tidak tahu. Aku sarankan kamu untuk segera men-download-nya dan share pengalamanmu tentang ini di kolom komentar, yaa!


  Haloo gaysss.. Kali ini aku akan membuat suatu postingan yang agak berbeza . Aku mau sedikit sharing mengenai tutorial cara mendapat aplik...

 



Haloo gaysss.. Kali ini aku akan membuat suatu postingan yang agak berbeza. Aku mau sedikit sharing mengenai tutorial cara mendapat aplikasi Microsoft Office yang ori alias bukan bajakan. Iyaa, beneran ori 100%. Disclaimer dahulu, ini bukan click-bait yaah! Hihihihiii..

Isu memilih menggunakan aplikasi resmi atau memilih menggunakan aplikasi bajakan sudah cukup sering menjadi perbincangan di kalangan teman-temanku. Ada yang mengatakan tidak mengapa menggunakan aplikasi bajakan, toh kalau beli aplikasi yang resmi harganya cukup mahal. Ada pula yang mengatakan menggunakan aplikasi bajakan tidaklah dibenarkan. Kita masih bisa menggunakan aplikasi lain yang serupa, yang sifatnya open source dan free alias gratis tis tiss..

Jika boleh menggunakan sedikit bahasa agama, aplikasi bajakan atau ilegal tidaklah halal alias haram, karena sama saja mencuri. Sedangkan jika menggunakan aplikasi resmi yang legal, adalah halal. Kira-kira seperti itu.
Namun, mari kita sudahi perdebatan halal-haram ini. Karena baru beberapa bulan ini saja aku menggunakan aplikasi yang legal. Bertahun-tahun sebelumnya, aku masih menggunakan aplikasi ilegal a.k.a. bajakan. HAHAHA.
 
Aplikasi apa yang sering dibajak orang?
Yaa, sesuai judul postingan ini, Microsoft Office merupakan program aplikasi yang kerap kali dibajak secara terang-terangan. Entahlah, banyak orang yang mungkin tidak tahu bahwa aplikasi yang mereka gunakan adalah bajakan. Banyak yang mengira, termasuk aku (di zaman dahulu kala), bahwa Microsoft Office dapat digunakan secara gratis dan cuma-cuma.
 
Well, apa sebab aku ber-hijrah daripada aplikasi ilegal kepada aplikasi legal?
Jawabnya ialah, kerana suatu story di aplikasi WhatsApp.
Saat itu, aku mengunggah suatu gambar yang di-design menggunakan aplikasi Microsoft PowerPoint bajakan. Kemudian, story tersebut di-reply oleh seorang guru. Intinya, belio menasihatiku bahwa tidak “berkah” menggunakan aplikasi bajakan.
Belio menyarankan menggunakan aplikasi open source saja seperti LibreOffice atau menggunakan GoogleDocs yang bisa diakses secara online dan gratis. Sebagai murid yang baik, aku mengamini perkataan belio. Aku memilih menggunakan program WPS Office, sebab program ini yang paling mirip dengan Microsoft Office.
 
Skip.. Skip..
Tiga hari yang lalu. Aku dan temanku, Aldan, berencana untuk membeli Microsoft Office yang resmi. Kami berencana membeli Microsoft 365 Family, harganya Rp 1.199.999 per tahun alias 1,2 juta rupiah. Paket ini untuk enam orang. Artinya, satu orang membayar Rp 200.000 setiap tahun. Ternyata, tidak terlalu mahal.
 



Aku selanjutnya men-japri beberapa teman untuk mengajak membeli produk ini. Harapannya, agar terkumpul enam orang.
Kemudian, ada teman yang membalas chat dariku, “Aku sudah punya Office yang ori, Doo. Dapat dari kampus. Hahaha.” Temanku itu berkuliah di salah satu kampus top di Indonesia.

Ahha! Aku ada ide. Kenapa aku tidak mencoba men-download aplikasi Microsoft Office dengan menggunakan email kampus. Gratis pikirku. Lumayan, tidak jadi keluar uang dua ratus ribu rupiah, ehehee.

 
Oke, tanpa basa-basi lagi. Beginilah langkah-langkahnya.

Pertama, pastikan kamu punya akun email dari kampus.
Aku akan menggunakan akun email yang didapat dari kampus, ***********@student.un***.ac.id.



Kedua, mendaftar akun Microsoft menggunakan email tersebut.
Buka browser, silahkan menuju www.microsoft.comKemudian daftar akun menggunakan email kampus. Setelah itu login seperti biasa.



Ketiga, cari produk untuk Student.
Setelah itu, akan muncul tampilan di halaman seperti ini. Pilih Microsoft 365.



Pilihlah Microsoft 365 untuk pelajar dan pengajar. Caranya simpel, tinggal di-klik. Hehe.




Setelah itu, muncul seperti ini. Masukkan alamat email student-mu. Pilih segera mulai.



Selanjutnya, pilih I'm a student. Kemudian Sign in, dan OK, got it.





Tadaa.. Tampilan menu di halaman sudah berubah. Kini, Office 365 telah siap untuk di-download. Kamu tinggal klik Install Office, kemudian klik kotak dialog yang muncul. Install Software.



Surprisingly, ternyata Office 365 untuk Student gagal di-download. HEHEHEHEEEEE...

Terdapat tulisan seperti ini.
You currently have not been assigned an Office license that includes the Office desktop apps. Contact your admin for more information about how to get Office for your organization.

Terjemahan bebas dari kalimat tersebut bahwa aku belum diberi lisensi Office dan aku diminta untuk menghubungi admin dari organisasi aku berasal. Mungkin maksudnya adalah pihak Rektorat kampus.

 

Maka, aku bisa mengambil kesimpulan bahwa nampaknya kampusku belum melakukan kerjasama apapun dengan pihak Microsoft. Jadi, program aplikasi Office for Student belum bisa diakses.
Kesimpulannya, tutorial kali ini gagal. Tutorial ini akan berhasil apabila kampus telah bekerjasama dengan pihak Microsoft.


Yaa, yang namanya Tutorial. Sama seperti kehidupan di dunia yang fana..
Tidak harus selalu berhasil, kadang juga ada masa gagal, kan!

Hehehe.....