Saban hari, di media sosial telah dihebohkan dengan se- fruit berita. Para mahasiswa kini tengah mengadakan kegiatan Ospek secara daring at...

Saban hari, di media sosial telah dihebohkan dengan se-fruit berita. Para mahasiswa kini tengah mengadakan kegiatan Ospek secara daring atau online. Namun, bukan kerana daring yang menjadi heboh. Akan tetapi, tersebab adanya perploncoan yang dilakukan daripada senior kepada juniornya. Perploncoan itu dilakukan secara daring pula.
Ketika khabar ini tersebar, banyak orang dewasa yang (seolah) terkejut. Mereka terbelalak akan adanya fakta ini. Padahal, praktek-praktek jahiliyah macam ini masih terus terjadi.
 
Pertama, mari kita samakan persepsi dahulu mengenai Perploncoan. Menurut kacamataku, kerana aku berkacamata, perploncoan adalah ketika senior marah-marah ke junior tanpa sebab. Terkadang, si senior mencari-cari kesalahan para juniornya. Mulai dari pakaian yang tidak rapi, ikat pinggang yang tidak pas, kaus kaki yang panjang sebelah, rambut yang dipotong kurang pendek, atau lampu sen yang mati hingga kaca spion yang kurang simetris.

Eh, tidak. Dua bagian terakhir, bukan perploncoan oleh senior, yaa. Itu adalah kelakuan oknum ******* yang kita temui di jalan raya. #gubrak
Abang tukang bakso, bawa walkie talkie, kijang satu ganti! ~

Dengan definisi seperti itu. Jika aku ditanya tentang pengalaman di-plonco, aku telah mengalaminya sejak zaman es-em-a hingga masa perkuliahan.
 
Dalam kegiatan ekstrakulikuler maupun organisasi di sekolah, akan ada pembekalan hingga pelantikan untuk anggota baru. Biasanya, kegiatan itu berisi dengan materi, games, dan juga tidak lupa.. Plonco dari senior.

Ketika kegiatan pembekalan delapan tahun lalu, ada yang namanya tes wawancara. Pertanyaan diajukan oleh senior kepada anggota baru. Awalnya pertanyaan yang simpel dan umum.
"Coba perkenalkan namamu, dari kelas mana, tinggal di mana."
"Kenapa kamu mau gabung ke organisasi ini?"
"Kontribusi apa yang akan kamu berikan ketika sudah diterima?"
 
Namun, lama-lama pertanyaan yang keluar semakin aneh.
"Jawaban macam apa itu? Orang seperti kamu tidak pantas masuk ke organisasi ini!"
"COBA WOOOY! ******* ***** ****!"
(Maaf kata-katanya disensor, karena aku lupa. Yang aku ingat cuma teriakan-teriakan tidak jelas dari mereka, wkkwkwk)

Pada akhirnya, seluruh yang mendaftar diterima di ekstrakulikuler itu. Semua hanya acting dari senior yang merasa sok hebat di depan juniornya.
Kemudian, kehidupan kembali berjalan normal seperti biasa (bagi senior). Namun tidak denganku, terkadang aku masih dendam kesal dengan kelakuan mereka, sampai sekarang. Buktinya, cerita ini masih tersimpan dengan rapi di dalam memori. Eheheee..
 
Cerita berlanjut ke tahun selanjutnya, kini aku yang menjadi senior. Aku tertarik bergabung sebagai tim pewawancara. Aku sudah memersiapkan acting marah terbaikku.
"WOOY, DEK! BLA BLA BLA!" Kataku dengan wajah sangar sambil memarahi junior.

Coba tebak, apa responnya?
Junior kampret satu ini malah bilang begini, "Bang, tidak usah marah-marah. Lucu, beneran." Dia bilang sambil tertawa.
Jadi, sebenarnya aku sudah dekat dengan adik-adik junior. Mereka sudah mengenalku sebagai pribadi yang ramah, lucu, baik hati, bersahaja, mengayomi, menggemaskan, suka menolong sesama hingga rajin menabung! Adalah aneh bagi mereka, ketika melihat aku marah-marah. Tidak seperti biasa.
Ketika tahun lalu aku dibuat kesal oleh senior, kemudian tahun ini dibuat kesal oleh junior.
Hadeeh.. Nasib-nasib.

Lanjut ke cerita kuliah.
Perploncoan ternyata masih terjadi. Ditambah lagi, aku kuliah di Fakultas Teknik yang banyak mahasiswa di  sana merasa over proud terhadap ke-teknik-an nya.
"Teknik ini susah, dek!"
"Teknik ini keras, dek!"
Responku; "Keras palak bapak kau!"
 
By the way, salah satu video yang viral di media sosial ternyata merupakan Ospek dari Fakultas Teknik di universitas yang ada di provinsi tetangga. Muncul perdebatan di kolom komentar video viral tersebut. Ada yang mendukung, ada yang tidak.

"Kehidupan di Teknik itu keras. Kuliahnya susah. Akan banyak tugas, praktikum dan segala tetek bengeknya. Jadi sudah harus dibiasakan sejak awal. Mental harus terlatih sejak dini!" Kata seseorang yang nampaknya mahasiswa Fakultas Teknik.

Ada yang membalas komentarnya seperti ini, "Kuliah yang susah tidak hanya Teknik, seluruh fakultas itu susah. Lihat anak-anak Kedokteran, mereka bahkan jarang tidur sampai hari ini untuk mengurus pasien Covid. Anak Teknik kemana? Tiduur!"
 
Kembali ke cerita sebelumnya. Ternyata, per-plonco-an di kampus lebih berat daripada masa sekolah. Jika ketika sekolah, plonco yang didapat hanya berupa verbal (makian dari senior). Sedangkan di kampus, selain dimaki-maki senior, hukumannya juga sudah mengarah ke fisik. Eh, maksudku bukan dipukuli, tapi kami hampir setiap kali disuruh untuk push-up. Bagi orang-orang sepertiku yang malas olah raga, hukuman push-up sangat melelahkan. Ditambah lagi, penyebab hukumannya sangat mengada-ada.

Contoh, ketika kami Ospek. Ada satu orang yang tidak menggunakan ikat pinggang, seharusnya dia sendiri yang dihukum. Lha, ini tidak.
"Kalian ini Teknik, kalian harus kompak! Kita adalah satu! Semuanya, turun! Ambil posisi push-up!"

Selesai push-up, lanjut orang kedua. Kesalahannya adalah potongan rambut yang kurang pendek, tidak sampai 1cm, tidak sesuai peraturan yang telah ditetapkan. Satu angkatan kembali push-up.

Setelah selesai, lagi-lagi masih ada yang harus dihukum. Sebabnya, dia tidak membawa buku yang seharusnya dibawa. Satu angkatan untuk kesekian kalinya kembali mengambil posisi push-up.
 
GITU AJA TEROOS PUSH-UP SAMPE KIAMAT!
 
Yaa, makna Kita adalah Satu, berarti... Jika ada satu orang yang melakukan kesalahan, semua orang juga dianggap salah. Kenapa begitu? Karena kesalahan kami tidak mengingatkan teman yang salah!
Sungguh definisi yang goblok!

Cerita masih berlanjut.
Ospek telah selesai, namun penderitaan ternyata belum usai. Setiap senin siang, kami masih harus diminta untuk berkumpul bersama senior untuk diplonco  lebih mengakrabkan diri. Agendanya terkadang sharing dari senior, dan segala macam. Tidak lupa, doktrin Kita adalah Satu masih tetap ada. Jadi, setiap senin kami pasti berolah raga.

Suatu saat, aku sangat lelah. Saat itu ada tugas praktikum yang harus aku selesaikan, namun bersamaan dengan jadwal berkumpul satu angkatan dengan para senior. Aku hendak kabur dari jadwal kumpul hari itu, namun tetap izin ke senior.

"Bang, izin ya tidak hadir hari ini. Aku mau pulang, ada hal penting yang mau dikerjakan." Kataku ke senior, aku agak takut awalnya. Takut-takut tidak diizinkan.

"Oh, yaa. Silahkan. Hati-hati di jalan, yaa!" Kata seniorku dengan ramah. Tak disangka, ternyata aku diizinkan.
 
Bukannya langsung pulang ke rumah, aku malah menuju Perpustakaan untuk mengerjakan tugas kuliah. Menurutku, Perpustakaan lebih nyaman daripada rumah. Aku sedikit merasa bersalah telah 'menipu' seniorku. Tapi, menurutku tidak masalah sesekali. Toh, mereka para senior setiap saat 'menipu' kami.

Kemudian, aku telah mengambil posisi yang nyaman di Perpustakaan, mencari meja yang persis di bawah AC, sejuk sekali saat itu. Padahal di luar sedang panas-panasnya. Saat itu tahun 2015, sedang ada kebakaran hutan di Sumatera. Kabut asap dimana-mana.
Apablia sore hari tiba, adzan Ashar telah berkumandang. Aku bergegas menuju Mushalla Fakultas Teknik. Di sana, ada juga teman-teman yang shalat, juga termasuk senior.
 
Selesai shalat, senior menyapaku, "Doo, kenapa masih di sini? Katanya mau pulang ke rumah?"

"Eh, iya, bang. Bentar lagi. Tadi masih ada urusan, ini setelah shalat baru mau pulang."
"Oh yaa, hati-hati!" Kata seniorku, sambil tersenyum mencurigakan.
"Assalamu'alaykum, bang!"
"Wa'alaykumuusalam!"

Esok hari, ketika di kampus. Aku merasa ada yang aneh dari teman-temanku. Tidak seperti biasa. Sikap mereka menjadi berubah, nampaknya sangat kesal kepadaku. Aku tidak tahu kenapa. Karena pada dasarnya aku adalah orang yang apatis, aku tidak peduli akan hal itu.
Akhirnya, hari Senin kembali tiba. Kumpul angkatan bersama senior kembali terjadi. Aku dan teman lain sudah berada di kelas.

"Mana abang senior yang biasa hadir? Kok tidak ada?" Tanyaku kepada teman di sebelah.

"Mereka tidak akan hadir. Kita ada agenda khusus hari ini, kamu tunggu saja. Jangan kemana-mana!" Kata temanku, cara bicaranya nampak kesal. Aku heran, sudah satu pekan kenapa masih banyak orang yang seperti itu kepadaku.

"Jadi temen-temen semua, kita hari ini berkumpul untuk membahas kelanjutan kegiatan pekan kemarin." Kata ketua angkatan yang sedang berdiri di depan kelas.

"Eh, emang kemarin ada kegiatan apa? Aku kan tidak hadir." Aku kembali bertanya kepada teman yang duduk di sebelahku.

"Udah, Doo. Diem! Dengerin dulu ketua angkatan kita bicara!" Teman di sebelahku kembali menjawab dengan kesal.

"Oke, deh. Maap."

"Dodoo, kamu bisa tolong maju ke depan sini, ndak. Tenang saja, aku tidak bakal marah kok." Kata ketua angkatan. Semua mata langsung tertuju kepadaku.
 
"Eh, iya." Aku merasa ada yang tidak beres.
 
"Aku sekarang mau tanya, kenapa pekan lalu kamu tidak hadir ke sini?" Ketua angkatan bertanya kepadaku di depan teman-teman satu angkatan.
 
"Jawab, Doo cepetan wooy!" Seorang teman yang sedang duduk nyeletuk.
 "Iyaa, wooy! Jawab cepetan!" Celetukan dari teman yang lain lagi.

"Udah, sabar temen-temen." Kata ketua angkatan menenangkan.
 
Fixed! Memang ada yang tidak beres. Namun, aku masih belum menemukan dimana letak kesalahanku.
Aku menjelaskan kepada teman-teman, "Pekan kemarin aku udah izin ke abang senior. Aku bilang mau pulang ke rumah karena ada hal penting yang mau dikerjakan."

"Tapi, kata senior, kamu shalat Ashar di Mushallah Teknik. Katanya kamu mau pulang, kenapa masih ada di kampus?" Salah seorang yang duduk di kursi bertanya dengan mata menyala-nyala.

"Iyaa, rencananya aku memang mau langsung pulang. Tapi saat itu aku putuskan untuk buat tugas di Perpustakaan dulu."

"Tega kamu, Doo! Kamu membohongi senior. Gara-gara kamu, kami semua dihukum. Tahu gak kamu, hah!?" Seorang perempuan berkata dengan suara lantang, sambil menangis terisak.

"Eh, tunggu. Aku tidak berbohong. Beneran, aku bilang aku mau pulang. Diksi mau di situ, bukan berarti langsung dilakukan. Bisa aja bilang mau pulang-nya di siang hari, ternyata aku pulangnya sore. Aku tidak berbohong." Aku mengklarifikasi. Satu angkatan melongo mendengar penjelasanku.
 
"Tapi, tetep aja Doo! Karena kau, para senior kemarin marah sejadi-jadinya. Dan kami menjadi pelampiasan. Hukuman kemarin dua kali lipat daripada biasanya. Capek sekali badanku ini, malam harinya masih harus buat tugas praktikum!" Teman yang lain ikut menyuarakan pendapat, ia juga nampaknya kesal.
 
Lagi-lagi, ketua angkatan menjadi penengah, "Udah, gini aja. Siapa yang punya uneg-uneg sama Dodoo silahkan sampaikan di sini. Kita ini adalah saudara, setidaknnya sampai empat tahun ke depan. Jadi, kita harus tetap rukun. Ayoo silahkan sampaikan sekarang, jangan malah nanti jadi ghibah di belakang." Temanku ini, memang bijak. Cocok menjadi ketua angkatan.
 
Kemudian, ada sekitar enam orang yang mengeluarkan kekesalannya kepadaku. Aku diam saja, terima dengan lapang dada. Setelah itu aku meminta maaf kepada seluruhnya. Aku berjanji tidak akan mengulangi perbuatan aneh lagi.
 
Setelah drama permintaan maaf usai, adzan Ashar berkumandang. Kami shalat. Setelah itu, kembali lagi ke kelas. Kini, para senior hadir di kelas tempat kami berkumpul, suasana masih hening. Raut-raut muka kesal masih nampak dari wajah mereka, padahal baru saja selesai shalat. Nampaknya, mereka benar-benar dendam.
 
"Dodoo, sini maju ke depan!" Kata seorang senior dengan intonasi yang mengerikan.
 
"Gimana, masalah dengan teman satu angkatanmu sudah selesai?" Katanya, ketika aku sudah berada di depan kelas.

"Masalahmu dengan teman satu angkatan memang sudah selesai. Tapi dengan kami belum selesai. Kau tau, heh!" Kata seorang senior sambil berteriak. Kelas masih hening.
 
"Hari ini, kami tidak akan marah-marah. Udah capek melihatmu, kasihan juga dengan teman-teman yang lain." Kata senior yang lain.
 
"Iya, bang." Kataku, sambil menatap ke lantai.

"Gini, kita sekarang bicara baik-baik aja. Kenapa kamu membohongi kami, bilang mau pulang ke rumah. Nyatanya, shalat Ashar kita bertemu di mushallah Teknik, kamu belum pulang. Kalau memang mau bohong, janganlah shalat di Teknik, kamu bisa shalat di Mushallah fakultas lain. Kampus kita punya sepuluh fakultas!"

"Aku tidak berbohong, bang. Kan aku bilang mau pulang, kan bisa aja mau pulang itu nanti sore, bisa saja besok, atau malah bulan depan hingga tahun depan. Kenapa aku melakukan itu? Sejujurnya aku lelah, bang. Aku mau buat tugas."
 
"Tapi, yang punya tugas tidak hanya kamu, kami juga punya tugas. Temen-temenmu yang lain juga punya tugas. Lihat nih, si Nur. Kamu buat tugasnya di sini,  kan. Sambil mendengarkan materi dari kami?" Si senior melirik ke Nur.
 
"Iya, bang. Betul. Aku sambil membuat tugas di sini." Nur mengamini ucapan si senior.

"Tapi, aku masih tidak terima jika dibilang berbohong. Aku tidak berbohong, bang!" Aku masih menyanggah.

"Kenapa bisa gitu? Kamu jelas-jelas membohongi kami!"

"Jadi, alasan aku begitu karena ingat salah satu kisah nabi Muhammad. Cerita ini aku dengar ketika di sekolah dulu, dari guruku. Suatu saat, ada seseorang yang dikejar-kejar oleh Yahudi untuk dibunuh. Kemudian orang itu melewati Nabi dan berkata, "Wahai Nabi, tolong selamatkan aku. Aku sedang dikejar Yahudi dan hendak dibunuhnya." Orang itu melanjutkan pelariannya. Kemudian, tak lama berselang, si Yahudi yang hendak membunuh orang sebelumnya juga melewati Nabi. "Wahai Nabi, apakah kamu ada melihat orang yang melarikan diri ke sini? Aku hendak membunuhnya!" Apa kata Nabi? Beliau kemudian berdiri dan berkata, "Selama aku berdiri di sini, aku tidak melihat seorang pun lewat!" Yaa, nabi telah menyelamatkan orang yang hendak dibunuh, dan Beliau tidak berbohong. Karena beliau menggunakan diksi selama aku berdiri, faktanya memang beliau baru berdiri dari duduknya dan tidak melihat orang lewat. Jadi, aku menirunya dalam permainan kata-kata. Kata guruku, kita tetap harus jadi orang jujur, namun jangan jadi orang polos. Begitu bang alasanku."

Seisi ruangan hening, teman-temanku kembali melongo, termasuk senior. Nampaknya  mereka tidak percaya dengan jawaban 'brilian' yang baru saja aku sampaikan.

***

Pertemuan sore itu usai. Pekan depan kumpul angkatan kembali dilakukan bersama senior. Namun ada yang berbeda. Hukuman push-up mulai berkurang, malah cenderung tidak ada di pekan-pekan selanjutnya. Kumpul angkatan hanya terjadi di semester pertama. Semester kedua kami benar-benar merdeka. Namun sesungguhnya, masa-masa yang cukup aku rindukan bersama teman-teman adalah masa di semester pertama.

Bagaimana dengan senior-senior tadi? Aku menjadi dekat dengan mereka, aku beberapa kali bergabung dalam organisasi yang sama. Kami terus akrab hingga hari ini. Kini, mereka ada yang sudah di Benua Eropa melanjutkan studi pasca sarjana, di negara tempat belajar Presiden Indonesia ketiga. Ada pula yang di Tanah Papua, bekerja di perusahaan pertambangan logam mulia. Senior yang lain, kini menjadi staf wakil rakyat dari partai Gerin*dra.

Akhir kata, maafkan aku teman-temanku dan para seniorku. Telah membuat kalian pusing, lima tahun lalu. Huhuhuu..
Harapanku, semoga perploncoan segera hilang!


Foto ketika satu angkatan dikumpulkan oleh para senior

Saat ini menunjukkan pukul sepuluh pagi. Aku sedang duduk santai di ruang tamu, sedang membuka Twitter, membaca perdebatan netizen. Banyak h...


Saat ini menunjukkan pukul sepuluh pagi. Aku sedang duduk santai di ruang tamu, sedang membuka Twitter, membaca perdebatan netizen. Banyak hal yang diperdebatkan, mulai dari yang penting sampai hal yang retjeh. Sesekali, aku ikut mendebat para Libertard yang open-minded. 
Sementara itu, adikku tengah duduk di depan laptop. Nampaknya sedang mengerjakan tugas dari dosennya yang bertubi-tubi tiada henti.
 
Tanpa angin dan hujan, tiba-tiba adikku berseloroh, "Mas, minta kontak Mbak Fulanah dong!"

"Eh, untuk apa?" Aku bertanya penasaran, ada hal apa dia menanyai kontak sahabat-ku. Fulanah adalah 'sahabat'ku, dalam 'tanda kutip' yaa. Ehehehe.

"Ndak, mas. Aku ada perlu saja." Jawab adikku polos.
 
"Beneran?"
 
"Iya, bener mas."
 
Oh yaa, adikku adalah seorang mahasiswa baru di fakultas yang sama denganku. Aku berbeda usia satu setengah tahun dengannya. Kata orang, kami seperti kembar karena saking miripnya. Hanya berbeda di kaca mata. Aku pakai kaca mata, dia tidak.

Kembali ke twitter.  Setelah melayani permintaan adikku, aku kembali berselancar di dunia maya. Aku begitu kesal dengan netizen yang punya pemikiran aneh. Ada yang bikin twit begini. "Aktivitas hubungan seksual tidak harus dilakukan dalam bingkai pernikahan. Kalo udah sama-sama suka, ga masalah."
 
Aku tidak habis thinking. Kok bisa ada yang berpikir begitu. Apakah penduduk Indonesia hari ini semakin sekuler dan liberal? Entahlah, semoga saja tidak.

Dua hari kemudian, pada sore hari di terminal bus kampus. Aku dan adikku hendak pulang ke rumah menggunakan bus. Di sana juga ada Fulanah yang sedang duduk manis di halte. Saat itu, ia menggunakan gamis berwarna ungu dan hijab putih lebar yang menjulur sampai ke bawah  dada.
 
"Waah, ada mbak juga di sini. Akhirnya kita ketemu juga nih, setelah dari kemarin hanya mengobrol di WhatsApp." Adikku menyapa si Fulanah.
 
"Hehe, iya dek. Akhirnya bertemu juga. Tumben nih, bareng masnya. Biasanya kalian pulang sendiri-sendiri. Lagi akur, nih!" Fulanah merespon basa-basi adikku.
 
Adikku kemudian memberikan sebuah kotak kardus ke Fulanah. Kotaknya cukup besar, dua kali lipat dari kardus Indo*mie.
"Mbak, ini ada hadiah dari Mas Dodoo. Katanya selamat ulang tahun. Dia malu mau ngasih sendiri, jadi aku yang mewakilkannya."

Fulanah menoleh ke arahku, "Heeh?"

Aku terkejut. Sekarang aku melotot ke adikku. "Haah?!"
 
Kami saling ber-hah-heh.
 
Fulanah tertawa kecil melihatku yang tengah melotot ke adikku.
"Hiihii, makasih ya Doo. Makasih juga, dek." Dia mengucapkan terima kasih kepada adikku dan aku.

"Emm... Sa.. sama-sama." Aku berujar sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
 
"Doo, dek. Duluan yaa. Assalamu'alaykum!" Fulanah masuk ke bus yang hendak berangkat, sedang aku dan adikku masih duduk di halte. Kami lebih memilih untuk naik bus selanjutnya.

"Yaa, 'alaykumussalam!" Kami berdua menjawab dengan kompak.

Sepuluh menit kemudian, bus selanjutnya tiba. Kami naik ke bus itu, aku ingin mengintrogasi adikku dalam perjalanan pulang.
 
"Kamu ngapain tadi ngasih hadiah?" Aku memulai sesi introgasi di dalam bus yang sedang berjalan.
 
"Memberikan surprise ke mbak Fulanah, mas. Dia kan ulang tahun, dan sebenarnya aku sekalian mau bantuin mas. Setahuku, mbak Fulanah kan saat ini lagi deket sama mas. Siapa tau berjodoh dengan njenengan, mas. Hehehe." Adikku menjawab dengan jujur.

"Astaga!" Aku terkejut mendengar responnya. Sepertinya adikku penonton setia story Instagram si Fulanah. Itulah sebabnya kedekatan kami diketahui adikku.
 
"Terus, kamu beliin apa saja tadi untuk kado itu. Kenapa besar sekali box-nya?"

"Aku beliin magic-com, tas, gamis, kerudung, buku tulis, pulpen dan pensil. Oh ya, satu lagi. Kertas A4 80 gram satu rim beserta tinta juga,untuk nge-print. Sebagai seorang mahasiswi, mbak Fulanah pasti butuh barang-barang seperti itu, mas."

Hening.
Aku bengong sejadi-jadinya.

"Banyak sekali yang dibeli, berapa total harganya?"

"Enam ratus lima puluh ribu, mas." Adikku masih menjawab dengan polosnya.

"Astaghfirullah." Hanya ini respon yang bisa ku berikan.
 
"Kenapa, mas?"
 
"Uang darimana kamu? Kok bisa belanja sebanyak itu?"

"Kan aku ada uang beasiswa Bidikmisi. Lha, kan mas juga dapat itu uang Bidikmisi. Piye, tho?"

Hening kembali.

"Yaudah, mau diganti ndak uangmu?"

"Eeh, boleh deh mas. Hehehe."

"Mas ganti setengahnya yaa. Nih, tiga ratus lima puluh ribu, kontan!" Aku mengeluarkan uang dari dompet, memberikannya ke adikku.

Aku kembali penasaran dengan kepolosan adikku. "Terus, apalagi yang kamu lakukan ke mbak Fulanah?"

"Oh ya, aku beliin sate, mas."

"SATE?" Aku berseru tanda tidak faham.

"Iya, mas. Kan itu ada magic-com yang aku kasih. Mungkin sampai di rumah nanti, mbak Fulanah lapar dan kepengen makan sate. Bisa langsung makan, dengan cara dihangatkan dulu menggunakan magic-com baru itu." Adikku menjawab dengan benar-benar lugu, bukan hendak bercanda.

"ASTAGA ADIKKU!!" Aku kali ini benar-benar speech less.
 
Kemudian, entah darimana. Ada ibuku di dalam bus itu, dia mendekati tempat duduk kami.
Kemudian beliau berkata dengan suara melengking khas emak-emak, "Dodoo, banguun. Sudah jam tujuh pagi masih aja di atas kasur. Udah dibilangin, habis shalat Shubuh, jangan tidur lagi!"
 

Ternyata, cerita di atas hanyalah mimpi belaka.
 

Pertama, sebelum cerita lebih jauh. Ini bukanlah tulisan mengenai promosi BSM a.k.a. Bank Syariah Mandiri. Nasabah BSM adalah nam...



Pertama, sebelum cerita lebih jauh. Ini bukanlah tulisan mengenai promosi BSM a.k.a. Bank Syariah Mandiri. Nasabah BSM adalah nama grup kami di WhatsApp, sebuah grup pertemanan absurd. Entahlah, kenapa kami satu sama lain menjadi cocok untuk berteman. 
Well, kenapa namanya harus Nasabah BSM?
Simpel saja, kami mencari suatu kesamaan. Kami semua adalah sama-sama nasabah dari Bank Syariah Mandiri. Maka, nama grupnya menjadi demikian. Sesimpel itu. 
Oh ya, kelompok pertemanan ini terdiri dari tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan. Kata orang, laki-laki dan perempuan tidak akan bisa berteman hingga bersahabat. Tapi, kami bisa kok. Kami sudah berkomitmen satu sama lain untuk tidak saling jatuh cinta, Insyaa Allah. Ehe... Hehe...
 
Suatu saat, dalam percakapan kami melalui sambungan video call. Salah seorang bilang bahwa dia mendapat informasi lowongan pekerjaan.

"Hooy, aku dikirimin dosenku lowongan kerja di Bank Indonesia. Beliau suruh aku daftar itu."


"Terus?"
 

"Aku bilang ke beliau, tidak bisa ikut lah. Lha wong itu bank. Terus kata bu dosen, jadi orang tuh jangan terlalu idealis!" 
Kami semua tertawa mendengar ucapan itu, seoalah menertawai ucapan si dosen.
Yaa, kami semua di grup itu bisa dikatakan agak sedikit idealis. Walaupun mayoritas dari kami masih merupakan job seeker, kami tidak mau memilih kerjaan yang sembarang. Kerjaan yang dicari harus halal.

Kami tidak mau bekerja di bank. Tidak juga di perusahaan asuransi, pegadaian, peminjaman modal, hingga pasar uang reksadana dan sebagainya. Kenapa? Karena di sana ada riba yang sudah jelas diharamkan di kitab suci kita.
Memang saat ini bank, pegadaian, asuransi hingga reksadana punya anak perusahaan mereka yang bergerak dengan sistem syariah. Namun, tetap saja sistemnya belum full 100% syari dan bukan seperti itu yang kami inginkan.  

Satu lagi, selain hal-hal yang beruhubungan dengan riba. Beberapa perusahaan lain kami juga anti terhadapnya seperti perusahaan rokok, minuman keras, perjudian, dan hal-hal haram lainnya. Kami tidak mau bekerja di perusahaan  yang bergerak di bidang-bidang tersebut.
Bagi kami, kehalalan dan kejelasan rejeki adalah yang terpenting. #eaaa

"Walaupun begitu." Kata seorang teman, "Tetap saja kita tidak boleh men-judge teman kita yang lain apabila ada yang hendak bekerja di bank."

"Yaa, aku sepakat!" Kataku, "Adalah hak mereka mau bekerja dimana saja. Yang penting kita tidak saling ganggu dan harus saling menghormati pilihan masing-masing."

Teman yang lain lagi ikut nimbrung, "Yang harus kita ingat adalah, batasan. Cukup bagi kita saja untuk tidak mau bekerja di bank. Orang lain mah, terserah. Kita jangan!"

Semua berseru, "Sepakat!" 

Okeey, aku rasa doktrin kepada para pembaca cukup sampai di sini.
AWKOWKWKW. 

Kali ini, aku hendak bercerita pegalaman kami, para Nasabah BSM pergi berwisata ke Punti Kayu. Tempat ini bisa kita sebut sebagai hutan wisata atau semacam kebun binatang yang ada di kotaku; Palembang.

Aku sudah dua puluh tahun tidak pergi ke sana. Terakhir ke sana adalah ketika berusia tiga tahun. So, kamu bisa tebak umurku, kan?

Saat itu, aku pergi ke sana bersama orang tua dan adikku. Aku masih ingat betul, adikku masih digendong ibuku ketika itu. Aku melihat berbagai hewan dan pepohonan. Rasanya, saat itu aku naik ke gajah. Duduk di atas punggungnya, si gajah berjalan beberapa meter dalam arena selama sepuluh menit. Di dalam pikiranku, aku adalah anak kecil paling bahagia di dunia-akhirat. 

Sebelum berangkat bersama teman-teman Nasabah BSM, aku sudah membayangkan untuk mengulang memori masa kecil. Memori dua puluh tahun lalu. Aku sudah membayangkan akan kembali naik gajah, kemudian berkuda sambil membonceng si doi, memberi makan rusa, dan melihat hewan-hewan lainnya. 

Namun, semua itu sirna.
Kami batal ke Punti Kayu, maka harapan aku untuk kembali naik gajah harus diurungkan. Kami janjian jam satu siang, namun satu jam sebelum itu, seorang teman bilang di grup, "Gimana kalo kita ke tempat lain saja?" 

Aku tidak tahu alasannya. Setelah merenung dan bertapa di gua, alasannya kemudian dapat diketahui. Nampaknya, tiket masuk Punti Kayu cukup mahal bagi pengangguran seperti kami. Tiket masuk seharga Rp 30.000 dan bayar parkir Rp 5.000.
Aku bilang ke grup, "Sejak kapan duit jadi masalah?"


Krik krik..
Tidak ada yang merespon.


Akhirnya, kami, para Nasabah BSM memutuskan pergi ke Benteng Kuto Besak (BKB), terletak di pinggir Sungai Musi, tidak jauh dari Jembatan Ampera. Selanjutnya dipilih rumah salah seorang teman sebagai titik kumpul.
 

"Doo, kamu berangkatlah ke rumahku sekarang!" Ujar my girl friend alias teman perempuanku, dalam sebuah chat di WhatsApp. Sebagai informasi, rumahku adalah yang paling dekat dengan si doi, dibanding teman-teman yang lain. 

Aku membalasnya, "Eeh, jangan. Aku tunggu teman-teman yang lain aja, baru bisa ke rumahmu. Aku belum siap ketemu Abi." Sangat tidak mungkin jika aku ke rumah teman perempuan sendirian, tidak ada teman. 

Doi hanya menjawab, "-...-"

Fyi, Abi-nya my girl friend alias teman perempuanku ini adalah seorang ustadz sekaligus pengurus parpol Islam. Parpolnya cukup berpengaruh di Indonesia. Aku tidak mau memberi tahu kamu partai apa yang dimaksud. Aku hanya mau memberi tahu inisialnya saja, yakni.. PKS. 

Sebakda shalat Ashar, kami telah tiba di sana.
Nampaknya, kostumku berbeda sendiri. Temanku menggunakan baju kemeja. Aku hanya menggunakan baju kaus oblong dan jaket. Yang lain menggunakan sepatu, aku hanya menggunakan sandal. Hehehee.




Kemudian, kami menuju restoran apung yang ada di BKB. Restoran ini berbentuk ketek yang tersandar di pinggir Sungai Musi. Ketek adalah sebutan untuk kapal atau perahu di Palembang, yaa.



Restoran perahu Ketek di pinggir Sungai Musi

Restoran ini menjual berbagai makanan Palembang seperti pempek, model, tekwan dan sebagainya. Kalau boleh sedikit me-review makanan yang dijual di sini, menurutku rasanya biasa-biasa saja. Tidak berbeda jauh dengan yang ada di kantin-kantin sekolah.
Mohon maaf, aku punya standar yang tinggi untuk makanan Palembang, ehehehee. Karena aku biasa memakan pempek buatan ibuku yang menggunakan komposisi dan takaran yang pas. Ibuku menggunakan perbandingan 1:1 untuk daging ikan dan tepung tapioka. Daging ikan yang digunakan juga menggunakan ikan gabus.
Untuk restoran ini, aku tidak yakin. Sepertinya perbandingan ikan dan tepung tidak 1:1. Aku rasa, lebih banyak tepung daripada ikan, dan nampaknya mereka juga tidak menggunakan ikan gabus.



Jembatan Ampera di sebalik perahu Ketek

Girl friend bertanya, "Gimana rasa makanannya, Doo?"

"Biasa saja." Kataku.

 

"Oh ya? Menurutku ini enak loh!" Ujar girl friend yang satu lagi.
 

Aku merespon, "Rasa makanan kali ini tidak terlalu penting, yang terpenting adalah dengan siapa kita makannya. Eaaa."
 

Lagi-lagi.. krik krik.



Selepas itu, kami duduk-duduk santai di pinggir Sungai Musi, sambil ngobrol ngalur ngidul dan ber-ghibah ria.
Mulai dari ngomongin kejelekan tetangga hingga keburukan negara. Ternyata asyik juga, ditemani semilir angin sore, ditambah ombak air sungai yang bergelombang ketika ada ketek lain lewat. Kami terus mengobrol hingga akhirnya sayup-sayup suara adzan terdengar.

Adzan Maghrib telah berkumandang, saling sahut-menyahut di sepanjang Sungai Musi. Matahari akhirnya benar-benar tenggelam di sebalik aliran sungai terpanjang di Sumatera. Tanda hendak usainya pertemuan kami di hari itu.
Kami semua berjalan menuju mushalla yang ada. Berjalan kaki.

"Eh, Doo. Kenapa ya saat ini banyak orang yang kek ndak sadar. Ini sudah adzan loh, kenapa banyak yang masih santai-santai saja. Sangat sedikit sekali yang terlihat bergegas shalat ke mushalla." Seorang girl friend memecah keheningan kami.

"Hemm.. Iya juga ya." Lagi-lagi, girl friend yang satunya ikut nimbrung.

"Udahlah, ingat obrolan kita beberapa hari yang lalu di video call. Tidak usah men-judge orang. Selalu berfikir positif kepada orang lain." Kata my boy friend alias teman laki-laki ku.

Kami semua mengamini perkataan boy friend. Yang harus difokuskan saat ini adalah, jangan saling men-judge dan bagaimana orang-orang yang tidak shalat, menjadi mau shalat.
Kalau terus men-judge, mereka shalat tidak, kabur iya.
#eaa

Kling klong.. Ponselku berdering, tanda ada pesan masuk dari aplikasi WhatsApp. Apabila aku lihat, ternyata pesan tersebut berasal...



Kling klong..

Ponselku berdering, tanda ada pesan masuk dari aplikasi WhatsApp. Apabila aku lihat, ternyata pesan tersebut berasal dari my girl friend. Ia bertanya sesuatu.

"Assalamu'alaykum. Doo, kamu punya kontak ustadz yang faham mengenai fiqih syariah, ndak?"

Aku dengan sigap langsung membalas, takut membuat ia kecewa, "Wa'alaykumussalam. Yaa, ada. Ini kontaknya."
Aku mengirim dua kontak ustadz lulusan Universitas Al-Azhar Cairo Mesir. Sebut saja Ustadz Ahmad dan Ustadz Idrus (bukan nama sebenarnya).

"Kamu dong yang tanyain ke ustadz, kan sesama laki-laki. Aku ndak enak. Ehehee." My girl friend membalas pesanku.

"Eh, emang mau tanya apa? Aku juga tidak kenal sama mereka sih."

"Jadi gini, Doo. Aku kan sedang interview kerja di salah satu perusahaan swasta." Dia mulai menjelaskan.

"Waah, selamat yaa!" Kataku.

"Tolong tanyakan pertanyaannya seperti ini. Kalau kita bekerja di suatu perusahaan teknologi, dan kita ditugaskan menjadi teknisi di bank. Kerjaannya halal atau ndak, yaa?"

"Hemm.."

"Maksudnya gini, Doo. Misal aku kerja nih di Perusahaan X, kemudian Perusahaan X diminta oleh Bank Y untuk memperbaiki sistem pada bank mereka. Itu kan sama saja aku mendapat uang dari bank. Aku ndak mau lah menerima uang haram."

"Kok bisa haram?" Aku bertanya penasaran.

Dia menjawab dengan dalil Al-Quran, "Iya, jelas haram. Di bank kan ada bunga. Bunga merupakan riba. MUI telah berfatwa bahwa bunga dalam bank adalah riba, dan itu adalah haram hukumnya. Kita bisa lihat di Al-Quran surat Al-Baqarah, ayat 275 ... Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba ..."

"Oke, siapp bu bos. Nanti akan aku tanyakan. Tapi tidak dengan kedua ustadz yang tadi, aku tidak kenal. Aku tanyakan dengan guru yang lain yaa."

"Syukran!"
 (terima kasih)

"Oke, 'afwan!"
(sama-sama)

Obrolanku usai dengan my girl friend, alias teman perempuanku. Yaa, my girl friend di sini bukan pacar.
Aku adalah seorang jomlo! Hiksss :((
Fyi, aku punya sebelas girl friend dari program studi di kampusku. Sedangkan untuk boy friend, aku punya sekitar empat puluh orang.
Sungguh informasi nir-faedah!

   Baca juga dong;

Aku kemudian menghubungi guru-guruku. Pertama, aku menghubungi Bang Fatih. Beliau guru ngaji-ku ketika SMA. Walaupun sekarang aku sudah tidak lagi ngaji ke beliau, hubungan kami masih tetap baik.

Beliau menjawab pertanyaanku,
"Yang memberi gaji dari bank atau perusahaan? Kalau digaji oleh perusahaan, insyaa Allah halal. Karena tugas itu baik dan bukan kriminal. Kalaupun yang memberi gaji adalah dari pihak bank, itu bukan untuk maksiat, tetapi kemaslahatan. Itu pun sebagian ulama membolehkan karena kita mengambil upah sebagai karyawan. Walaupun, di sisi lain sebagian ulama tetap mengharamkan menerima gaji dari bank."

Bang Fatih melanjutkan, "Coba kamu tanya ke Ustadz Ahmad juga. Siapa tahu dia bisa memberikan jawaban yang lebih memuaskan."
Ustadz Ahmad adalah ustadz yang kontaknya tadi aku berikan ke my girl friend.

"Terima kasih banyak, bang."

"Kamu diterima kerja di perusahaan itu?" Bang Fatih kini bertanya kepadaku.

"Eh, tidak bang. Itu temen yang bertanya kepadaku."

Percakapan selesai.
Selanjutnya, aku bertanya kepada adik tingkatku di kampus. Setahuku, dia sering ikut pengajian Habaib.

"Dek, tolong tanyain ke Habib dong!" Aku mengirimnya pesan.

"Tanya apa, mas?" Si adik tingkat membalas pesanku, walaupun setelah satu jam. Dasar slow respon.

Setelah satu jam lagi aku menunggu, adik tingkat itu mengirimku pesan forward dari sang Habib, "Tidak termasuk haram kerjaan seperti itu. Yang haram itu kalau bekerja yang langsung berkaitan dengan riba."

Aku mengucapkan terima kasih.

Terakhir, aku menghubungi Ustadz Egi (bukan nama sebenarnya).
Aku saat ini rutin mengaji dengan beliau sepekan sekali. Jadi, selepas SMA ketika masuk kuliah, aku pindah pengajian. Dari Bang Fatih ke Ustadz Egi.
Sama seperti sebelumnya, isi chat dari girl friend langsung aku copy ke Ustadz Egi, mentah-mentah.

Beliau menjawab, "Wlkmslm. Halal, tapi ada batasannya. Kamu harus mencari atau melamar pekerjaan lain, dan kalau sudah diterima di tempat lain yang lebih jelas, segera tinggalkan pekerjaan yang lama."

Aku membalas chat sang ustadz, mengucapkan terimakasih. Kemudian, aku bertanya perihal jadwal pengajian rutin kami, "Jadi, besok malam kita tetap ngaji seperti biasa ya pak?"

"Gimana kalo kita makan-makan? Pengajian daring menggunakan Zoom kita tunda dulu untuk pekan ini." Jawab sang ustadz, diakhiri dengan emoticon ketawa.
Oh ya, di masa pandemi ini kami tetap melakukan pengajian, tetapi online. Kami sudah lima bulan mengaji dengan tidak bertatap muka.

"Eh, boleh pak. Dimana? Ehehe.." Aku menjawab dengan mengikuti gaya sang ustadz, aku mengakhiri dengan emoticon ketawa juga.

"Terserah kalian saja, silahkan diskusikan dengan teman-teman."

"Baik, pak. Terima kasih banyak."

"Oh ya, nanti uangmu cukup atau tidak? Kalau tidak cukup, nanti akan saya tambahin kekurangannya."

"Eeeeh, iya pak. Siap."

Percakapan kami di WhatsApp berakhir.
Aku merasa ada yang tidak beres. Otakku mencoba menganalisis, tujuh belas detik kemudian aku mendapat kesimpulan.
Ahha!

Kesimpulan pertama, karena sekarang sudah masuk fase new normal. Kami tidak lagi mengaji melalui daring. Maka, untuk merayakan berhentinya pengajian daring, dimulai dengan makan bersama. Prediksiku, pekan depan kami telah akan mengaji dengan tatap muka seperti biasa. Seperti sebelum ada pandemi.

Kesimpulan kedua, sang ustadz mengira bahwa aku baru saja diterima kerja. Dan makan-makan bersama adalah cara untuk merayakan ini. Kemungkinan besar aku yang akan menanggung biaya makan dengan teman-teman. Jika uangku kurang, sang ustadz akan menutupi kekurangan itu.
Sepertinya, kesimpulan kedua adalah tepat, alias... MAMPUS GUE GA PUNYA DUIT!

Aku langsung memberi kabar ke teman-teman pengajianku di grup WhatsApp.
By the way, kami punya dua grup. Grup pertama, ada sang ustadz di dalamnya. Sedangkan grup kedua, tidak ada ustadz di situ. Sudah barang tentu kami sering berkomunikasi di grup yang tidak ada ustadznya, ehehehe.
(Maafkan muridmu, tadz. Semoga ustadz tidak baca blog ini. Hiihihi)

"Teman-teman semua, besok malam kita ngaji-nya tidak daring lagi. Kita diajak ustadz makan-makan ke restoran ********. Harap datang, yaa!" Aku memberi kabar ke teman-teman di grup.

"Kita tidak ngaji online lagi, Doo?" Seorang teman bertanya.

Aku jawab, "Mungkin tidak lagi. Sepertinya, pekan depan sudah normal. Kembali bertatap muka seperti biasa. New normal."

"Siapa yang bayar nih?" Teman yang lain ikut bertanya.
Yaa, pertanyaan ini cukup penting, mengingat kami mayoritas di grup itu adalah pengangguran, baru wisuda beberapa bulan yang lalu. Ada juga yang wisudanya tertunda (atau, ditiadakan?) kerana Corona. Ada juga yang masih mengerjakan skripsi.
Kami semua masih missqueen.

Aku menjawab dengan gamblang, "Kita nanti bawa duit aja sendiri-sendiri. Tapi, katanya sih ustadz bakal nambahin."

***

Esok hari, jam delapan malam. Aku dan enam orang boy friend sudah berada di restoran yang disepakati. Aku memesan paket menu yang paling murah saat itu, nasi dengan lele goreng dan es teh. Harganya Rp 13.500. Teman-temanku yang lain memesan makanan yang lebih mahal, nasi ayam panggal Rp 20.000, ditambah jus alpukat Rp 16.000. Totalnya, Rp 36.000 untuk sekali makan satu orang.
Dompetku menangis, uang makan mereka masih lebih besar daripada uang jajan yang ibuku berikan dalam tiga hari. Wkwkwk.

Kami makan seperti biasa, tidak ada yang aneh. Kemudian, sambil berbincang-bincang, salah seorang teman bertanya.
"Jadi pekan depan kita kembali ngaji tatap muka, tadz?" 

Ustadz Egi menjawab, "Tidak, pekan depan kita kembali menggunakan Zoom. Untuk pekan ini saja kita makan-makan di luar."

"Jadi, dalam rangka apa kita makan-makan di sini, tadz? Aku kira ini karena kita hendak ngaji lagi tatap muka. Karena new normal."

"Dodoo tidak memberi tahu kalian kah? Bukanya makan-makan ini karena syukuran dia yang baru diterima kerja." Ustadz Egi memberi penjelasan yang membuat kami semua terkejut.

"Haaah?!" Aku tersedak.

Ustadz Egi tidak mau kalah, "Haaah?"

Kami berdua saling ber-hah-hah.

"Eh, maaf pak. Saya belum diterima kerja kok. Hehee." Aku menjelaskan. Renungan aku kemarin, terbukti.

"Lha, bukannya kamu kemarin bilang bahwa diterima di perusahaan teknisi untuk Bank?"

"Bukan, pak. Itu temanku yang bertanya. Dia mau kerja di sana, tapi ragu takut terkena dosa riba. Jadi, pertanyaan itu akun tanyakan ke bapak."

"Jadi kamu sekarang?"

"Masih menganggur, pak. Mohon doanya agar segera dapat kerja. Ehehehe." Aku menjawab dengan polos.

GUBRAKK

Makan malam kali itu berakhir tepat jam sembilan. Akhirnya, seluruh makanan malam itu ditraktir oleh ustadz.
Aku menyesal.. kenapa pilih makan yang termurah. Seharusnya aku bisa memesan makanan yang lebih mahal.
Hahahaa!



Cerita ini adalah nyata, namun ditambah sedikit bumbu penyedap agar lebih terkesan dramatis.



Namanya Clara. Kami merupakan rekan kerja di kantor. Kami bekerja di salah satu perusahaan swasta di kota Depok, Jawa Barat. Aku pertam...



Namanya Clara. Kami merupakan rekan kerja di kantor. Kami bekerja di salah satu perusahaan swasta di kota Depok, Jawa Barat. Aku pertama kali bertemu ketika tengah berada di dalam bus Trans Jakarta. Ah, Trans Jakarta juga tidak hanya melayani rute dalam Provinsi DKI Jakarta saja. Bus ini juga beroperasi di daerah sekitarnya termasuk Depok.

Aku telah duduk manis di dalam bus sambil mendengar musik yang diputar. Saat itu, pengeras suara di dalam bus memainkan lagu Selow milik Via Vallen. Tiga halte kemudian, ada seorang naik ke dalam bus. Aku tidak terlalu peduli. Dan ketika bus Trans Jakarta yang aku tumpangi telah tiba di halte yang aku tuju. Aku turun, demikian pula dengan perempuan itu. Kami kemudian berjalan bersama, masuk ke gedung yang sama. Namun tanpa bertegur sapa.

Hingga pada hari ke sepuluh. Akhirnya dia yang memecah keheningan. Kebetulan, saat itu bangku yang berada di sebelahku kosong. Perempuan itu langsung duduk di sebelahku.

"Gue boleh duduk sini, mas?" Ujarnya basa-basi.

Jelas saja boleh karena bangku itu kosong. Yang tidak boleh itu, kalau perempuan itu duduk di atas pangkuanku. Itu bisa berbahaya dan mengakibatkan hal-hal yang diinginkan. Hiihi..

Aku menjawab, "Aah, iya. Silahkan, mbak." diakhiri dengan senyuman terbaik yang aku berikan.

"Gue tau, lo pasti kenal sama gue. Dan gue juga tau siapa nama lo." Perempuan itu langsung berbicara bak harimau yang hendak menerkam mangsa.

"Eh, nama mbaknya Clara, kan. Kalau nama saya Dodoo. Kita kan bekerja di satu kantor. Toh, kita turun bareng dari bus ini. Maafkan saya yang tidak pernah menyapa mbak sebelumnya."

"Udah, biasa aja. Eh, lo dari divisi apaan? Kita emang satu kantor tapi kan ketika naik ke lift beda tujuan. Gue dari divisi Marketing."

Karena dia menggunakan lo-gue, aku mencoba juga berbicara dengan bahasa seperti itu, ditambah campur-campur menggunakan Bahasa Inggris. Biar dikira keren. Di daerah Jabodetabek, orang-orang berkomunikasi jarang menggunakan aku-kamu. Katanya, itu sering digunakan untuk orang yang saling memadu kasih alias pacaran. Takutnya, si mbak malah jadi baper.

"Well, gue adalah Engineer di divisi Teknik. Baru keterima di sini sepuluh hari yang lalu, mbak."

Karena aku adalah orang Jawa yang berbicara agak medhok, maka menjadi lucu dengan berbicara seperti itu. Jadinya seperti.. ghu-whe.

"Gak usah panggil mbak. Panggil nama aja. Clara. Gitu doang, cukup."

Begitu awal mula aku mengenal Clara, si perempuan aneh.
Clara adalah seorang yang cukup cantik dan manis. Badanya sangat wangi seperti baru selesai mandi. Aku tidak tahu, parfum apa yang ia gunakan. Awetnya sampai sore. Wajahnya putih bersih, hidungnya kecil, matanya tajam berwarna hitam kecokelatan. Rambutnya berwarna pirang, diikat sebahu. Aku tidak yakin rambut itu asli pirang, tidak mungkin dia seeorang bule. Pasti itu menggunakan pewarna.

Kenapa aku bilang Clara adalah perempuan aneh?
Karena bagiku, ia perempuan yang beda dari kebanyakan yang tinggal di kota besar. Katanya, dia tidak pernah dugem alias clubbing, tidak pernah minum alkohol, dan belum pernah pacaran. Padahal, dengan paras yang menawan dan bodi yang aduhai seperti itu, sudah barang tentu mudah baginya untuk mencari pasangan.
Sungguh berbanding terbalik dengan teman-teman kantorku yang lain, seperti si Bunga atau si Mawar. Mereka seperti biasa-biasa saja datang ke clubbing. Aku mengetahui ini dari insta story mereka.

"Sejauh ini belum ada yang cocok sama gue, Doo." Ujar Clara suatu saat di dalam bus Trans Jakarta sepulang kerja. By the way, kami menjadi selalu pulang bareng dan duduk sebelahan usai kejadian itu.

"Kok bisa gitu?" Aku pura-pura antusias, padahal tengah mengagumi indahnya ciptaan Tuhan.

"Yaa, belum cocok aja. Gue masih belum sreg sama orang-orang yang ngedeketin gue. Si Adit perokok. Kalo Paijo hobinya mabok. Ga ada yang bener."

"Hemm.." Aku masih terus memerhatikan wajah manisnya.

"Woyy, Doo! Istighfar. Lo lagi mikirin apaan? Gue tau, lo dari tadi merhatiin wajah gue. Inget, di dalam agama lo kan disuruh jaga pandangan. Kalo ga salah dalilnya Surat An-Nur ayat 30 yaa."

Aku tersadar dari fantasiku.

Yaa, begitulah Clara, lagi-lagi keanehannya muncul. Ia tahu beberapa dalil dari ayat Al-Quran, padalah dia seorang non-muslim. Berbeda dengan kita yang muslim namun banyak tidak tahu dalil apapaun. Hiksss :((

"Doo, lo tau gak. Gue sebenernya suka saama lo. Dan gue juga tau. Lo suka sama gue, haha!" Tanpa tedeng aling-aling, Clara berbicara kepadaku di bus. Saat itu kami hendak berangkat kerja di pagi hari. Ucapannya membuatku gagal fokus di kantor sepanjang hari.

"Ghhu-whhe ssu-khha sha-ma lhhoo?" Aku berbicara sedikit gugup, terkejut. Dan sudah barang tentu, logat Jawaku kembali keluar.

"Udaah, woles ajee. Gue tau kok, kita gak mungkin bisa menikah. Kan agama lo melarang nikah beda agama. Eh, bahkan kita pacaran aja gak boleh yaa?"

Aku masih diam saja.

"Gak usah gugup, woy! Gue suka sama lo sebagai temen. Ga usah baper. Kita gak bakal bisa menikah. Lo enak diajak diskusi, apalagi soal agama, walaupun gue tau. Lo bukan penganut agama yang taat. Hahhaa."

"Enak aja, gini-gini gue shalat lima waktu gak pernah tinggal, kok!"

"Bisa aja, lo! Haha." Clara tertawa sambil menyubit gemas lenganku. Awalnya aku hendak bilang bahwa aku dilarang bersentuhan dengan perempuan yang bukan mahram. Namun aku biarkan, karena menikmatinya. WKWKWKWK.

WOY TOBAT WOY, TOBAT!

   Baca juga dong;

Suatu hari, di dalam kedai kopi Starbaks di malam minggu. Kami pergi berdua, nampaknya aku terperangkap friendzone beda agama. Obrolan kami nampak seru.

"Doo, aku sebenernya kasihan sama perempuan dari agama lo."

"Kenapa gitu?"

"Kalo kita lihat di sini, yang sering clubbing, dugem, yang sering pake pakaian ketat, hingga open BO. Itu mayoritas dari umat lo."

"Hemm.. Iya juga, ya."

"Jangan iya-iya aja. Kasih solusi dong. Umat agama lo, yang gue lihat udah banyak yang kek kehilangan jati diri. Kalian pake jilbab di masjid doang. Pulang dari sono, lepas lagi."

"Biarin, namanya juga proses."

"Harusnya lo dakwahin mereka!"

"HEEH! Mana bisa gitu! Gini aja, lo aja yang dakwahin mereka. Kan yang gue lihat pakaian lo, jujur, lebih sopan daripada mereka. Pakaian lo tertutup dari atas ampe bawah, longgar, celana lo ga ketat. Lekuk tubuh juga ga nampak. Cuma satu yang kurang, sih dari pakaian lo."

"Apaan?" Clara bertanya penasaran.

"Lo ga pake jilbab, wakakwak." Aku tertawa, namun segera tersadar jokes tersebut menurutku kurang sopan sebab ia seorang non-muslim.

Lagi-lagi, Clara mencubitku. Aku masih diam saja di-grepe seperti itu.
"Geblek, lu! Haahaa. Eh, tapi gimana kalo gue beneran pake jilbab, terus gue jadi ehm, muallaf. Apa lo jadi tambah suka sama gue?"

Aku tersedak mendengar pertanyaan Clara. Lagi-lagi, gadis ini benar-benar aneh.

"Terus kita bisa menikah, Doo. Lo dan gue bisa membangun peradaban Islami yang lo idam-idamkan." Clara melanjutkan celotehannya.

Aku kembali tersedak. Es kopi yang hendak aku minum, tumpah.

"HAHAHHAA. LO TERSEDAK DUA KALI. ARTINYA LO BENERAN SUKA SAMA GUE." Clara sangat girang, seolah telah membunuh raja terakhir dalam sebuah game.

"Well, kita ga tau masa depan. Gue sih ga berharap gitu. Gue ga memaksa lo masuk Islam kok. Gue hanya pengen berteman sama lo. Yang gue suka sama lo, lo itu orangnya open-minded yang benar." Obrolan kali ini menjadi serius. Aku berbicara dengan sedikit sok berwibawa.

"Maksudnya gimana tuh open-minded yang benar?"

Clara mencondongkan badannya menjadi lebih dekat denganku daripada sebelumnnya, tanda ia tertarik dengan topik pembicaraan.
Jika Clara menjauhkan badannya dan sering membuka hape, tanda ia tidak tertarik dengan topik obrolan.
Jika Clara berada di lantai -  tidak berada di kursi yang seharusnya - itu berarti ia sedang terjatuh.

"Open-minded yang sering berisik di Twitter itu sesat. Inti ocehan mereka adalah malas beribadah, anti agama, memperolok-olok agama, pengennya mabok, minum alkohol, hidup bebas, dan cuma pendapat mereka yang benar. Lha, elo yang gue kenal ini beda. Open-minded dalam pikiran lo adalah menghargai toleransi, tidak men-judge orang berusaha taat dalam beragama, dan hal-hal positif lainnya." Aku menjelaskan opiniku.

Clara menyimak dengan seksama.

Aku melanjutkan, "Oh yaa, satu lagi. Lo ga pernah bilang kalo agama gue teroris. Beda sama temen-temen lo yang ngaku open-minded, cuma berani bilang agama gue yang teroris. Nyatanya, di dunia ini orang-orang agama gue lah yang sering tertindas. Orang-orang Uighur, Rohingya, Gaza, dan belahan bumi lainnya."

"Jadi, itu yang membuat lo suka sama gue?" Kali ini, Clara bertanya dengan hati-hati.

Aku mengangguk pelan.

"Gue juga suka sama lo. Daripada kita gini terus, hubungan ga jelas. Ayo kita ke hubungan yang lebih serius. Hemm.. Pacaran kek, gimana nantinya, itu urusan lain. Nanti kita pikirkan."

"Hemm.. Gue rasa ga bisa. Kita beda iman, dan itu jelas dilarang dalam agama gue. Gue lebih nyaman kita gini aja, berteman dan saling tukar pikiran mengenai perspektif kita masing-masing."

"Lo bener juga, itu adalah iman lo yang ga bisa gue paksakan. Gue terlalu naif, maafin gue, Doo."

"Gak, lo ga perlu minta maap. Woles ajaa kali."

*hening*

"Jadi, makanan dan minuman kali ini siapa yang bayar, nih?" Aku sedikit menggodanya lagi, untuk memecah suasana canggung kami.

"Yeeeh, elo. Masih aja. Padahal suasana lagi intim banget tadi." Clara kembali mencubit lenganku.

Kemudian ia menyandarkan kepalanya ke bahuku dan tangannya menggenggam tanganku.
Aku masih diam saja terhadap perlakuan Clara si gadis aneh. Si perempuan non-muslim, yang secara tampilan dan pemikiran jauh lebih islami dari perempuan-perempuan muslimah mainstream yang aku kenal.

Di bawah langit kota Depok yang gemerlap, dua anak manusia telah tersadar mereka saling mencinta.
Namun, cinta kepada Tuhan mereka masing-masing, jauh teramat besar. Menghalangi cinta mereka.



ADINDA Oleh:  @dodonugraha Adindaku Bukan ku tak mau menggengam erat tanganmu Merasakan hangatnya sentuhanmu Hingga kita bercanda...



ADINDA

Oleh: @dodonugraha

Adindaku
Bukan ku tak mau menggengam erat tanganmu
Merasakan hangatnya sentuhanmu
Hingga kita bercanda ria di bawah pohon jambu

Adalah belum saatnya yang menjadi sebab karena hal itu
Sungguh aku pun tak tahu
Kenapa tidak sedari dulu
Aku menemui orang tuamu

Perasaanku sejati, bukanlah semu
Tidak seperti bunga plastik yang ada di genggamanmu
Tak pernah layu
Padahal palsu

Jika kau mau
Sila menunggu
Aku harus menyelesaikan tugas akhirku dulu
Agar masa depan kelak dapat lebih maju

Jika kau tak mau
Silahkan kau pilih para sahabatku
Yang mana sesuai kriteriamu

Ah, sungguh terlalu..