Saat ini menunjukkan pukul sepuluh pagi. Aku sedang duduk santai di ruang tamu, sedang membuka Twitter, membaca perdebatan netizen. Banyak h...

Mbak Fulanah


Saat ini menunjukkan pukul sepuluh pagi. Aku sedang duduk santai di ruang tamu, sedang membuka Twitter, membaca perdebatan netizen. Banyak hal yang diperdebatkan, mulai dari yang penting sampai hal yang retjeh. Sesekali, aku ikut mendebat para Libertard yang open-minded. 
Sementara itu, adikku tengah duduk di depan laptop. Nampaknya sedang mengerjakan tugas dari dosennya yang bertubi-tubi tiada henti.
 
Tanpa angin dan hujan, tiba-tiba adikku berseloroh, "Mas, minta kontak Mbak Fulanah dong!"

"Eh, untuk apa?" Aku bertanya penasaran, ada hal apa dia menanyai kontak sahabat-ku. Fulanah adalah 'sahabat'ku, dalam 'tanda kutip' yaa. Ehehehe.

"Ndak, mas. Aku ada perlu saja." Jawab adikku polos.
 
"Beneran?"
 
"Iya, bener mas."
 
Oh yaa, adikku adalah seorang mahasiswa baru di fakultas yang sama denganku. Aku berbeda usia satu setengah tahun dengannya. Kata orang, kami seperti kembar karena saking miripnya. Hanya berbeda di kaca mata. Aku pakai kaca mata, dia tidak.

Kembali ke twitter.  Setelah melayani permintaan adikku, aku kembali berselancar di dunia maya. Aku begitu kesal dengan netizen yang punya pemikiran aneh. Ada yang bikin twit begini. "Aktivitas hubungan seksual tidak harus dilakukan dalam bingkai pernikahan. Kalo udah sama-sama suka, ga masalah."
 
Aku tidak habis thinking. Kok bisa ada yang berpikir begitu. Apakah penduduk Indonesia hari ini semakin sekuler dan liberal? Entahlah, semoga saja tidak.

Dua hari kemudian, pada sore hari di terminal bus kampus. Aku dan adikku hendak pulang ke rumah menggunakan bus. Di sana juga ada Fulanah yang sedang duduk manis di halte. Saat itu, ia menggunakan gamis berwarna ungu dan hijab putih lebar yang menjulur sampai ke bawah  dada.
 
"Waah, ada mbak juga di sini. Akhirnya kita ketemu juga nih, setelah dari kemarin hanya mengobrol di WhatsApp." Adikku menyapa si Fulanah.
 
"Hehe, iya dek. Akhirnya bertemu juga. Tumben nih, bareng masnya. Biasanya kalian pulang sendiri-sendiri. Lagi akur, nih!" Fulanah merespon basa-basi adikku.
 
Adikku kemudian memberikan sebuah kotak kardus ke Fulanah. Kotaknya cukup besar, dua kali lipat dari kardus Indo*mie.
"Mbak, ini ada hadiah dari Mas Dodoo. Katanya selamat ulang tahun. Dia malu mau ngasih sendiri, jadi aku yang mewakilkannya."

Fulanah menoleh ke arahku, "Heeh?"

Aku terkejut. Sekarang aku melotot ke adikku. "Haah?!"
 
Kami saling ber-hah-heh.
 
Fulanah tertawa kecil melihatku yang tengah melotot ke adikku.
"Hiihii, makasih ya Doo. Makasih juga, dek." Dia mengucapkan terima kasih kepada adikku dan aku.

"Emm... Sa.. sama-sama." Aku berujar sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
 
"Doo, dek. Duluan yaa. Assalamu'alaykum!" Fulanah masuk ke bus yang hendak berangkat, sedang aku dan adikku masih duduk di halte. Kami lebih memilih untuk naik bus selanjutnya.

"Yaa, 'alaykumussalam!" Kami berdua menjawab dengan kompak.

Sepuluh menit kemudian, bus selanjutnya tiba. Kami naik ke bus itu, aku ingin mengintrogasi adikku dalam perjalanan pulang.
 
"Kamu ngapain tadi ngasih hadiah?" Aku memulai sesi introgasi di dalam bus yang sedang berjalan.
 
"Memberikan surprise ke mbak Fulanah, mas. Dia kan ulang tahun, dan sebenarnya aku sekalian mau bantuin mas. Setahuku, mbak Fulanah kan saat ini lagi deket sama mas. Siapa tau berjodoh dengan njenengan, mas. Hehehe." Adikku menjawab dengan jujur.

"Astaga!" Aku terkejut mendengar responnya. Sepertinya adikku penonton setia story Instagram si Fulanah. Itulah sebabnya kedekatan kami diketahui adikku.
 
"Terus, kamu beliin apa saja tadi untuk kado itu. Kenapa besar sekali box-nya?"

"Aku beliin magic-com, tas, gamis, kerudung, buku tulis, pulpen dan pensil. Oh ya, satu lagi. Kertas A4 80 gram satu rim beserta tinta juga,untuk nge-print. Sebagai seorang mahasiswi, mbak Fulanah pasti butuh barang-barang seperti itu, mas."

Hening.
Aku bengong sejadi-jadinya.

"Banyak sekali yang dibeli, berapa total harganya?"

"Enam ratus lima puluh ribu, mas." Adikku masih menjawab dengan polosnya.

"Astaghfirullah." Hanya ini respon yang bisa ku berikan.
 
"Kenapa, mas?"
 
"Uang darimana kamu? Kok bisa belanja sebanyak itu?"

"Kan aku ada uang beasiswa Bidikmisi. Lha, kan mas juga dapat itu uang Bidikmisi. Piye, tho?"

Hening kembali.

"Yaudah, mau diganti ndak uangmu?"

"Eeh, boleh deh mas. Hehehe."

"Mas ganti setengahnya yaa. Nih, tiga ratus lima puluh ribu, kontan!" Aku mengeluarkan uang dari dompet, memberikannya ke adikku.

Aku kembali penasaran dengan kepolosan adikku. "Terus, apalagi yang kamu lakukan ke mbak Fulanah?"

"Oh ya, aku beliin sate, mas."

"SATE?" Aku berseru tanda tidak faham.

"Iya, mas. Kan itu ada magic-com yang aku kasih. Mungkin sampai di rumah nanti, mbak Fulanah lapar dan kepengen makan sate. Bisa langsung makan, dengan cara dihangatkan dulu menggunakan magic-com baru itu." Adikku menjawab dengan benar-benar lugu, bukan hendak bercanda.

"ASTAGA ADIKKU!!" Aku kali ini benar-benar speech less.
 
Kemudian, entah darimana. Ada ibuku di dalam bus itu, dia mendekati tempat duduk kami.
Kemudian beliau berkata dengan suara melengking khas emak-emak, "Dodoo, banguun. Sudah jam tujuh pagi masih aja di atas kasur. Udah dibilangin, habis shalat Shubuh, jangan tidur lagi!"
 

Ternyata, cerita di atas hanyalah mimpi belaka.
 

56 komentar:

  1. wakakakak ternyata ngempi ya mas dodo
    tiwas seneng adike kok baik hati men uda jadi perantara dan ngasii hadiah atas nama mas dodo dengan seperangkat mejikom dan lainnya dengan beasiswa bidikmisi eladalah ngimpi hahhaa

    nice story mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya mas dodo kesengsem sama mbak fulanah makanya sampai kebawa mimpi mbak mbul dan akhirnya jadilah cerita ini πŸ˜‚

      Ya ngga apa-apa sih sama Fulanah, asal jangan sama Fulan saja.πŸ˜†

      Hapus
    2. Seperangkat magic-com dibayar tunai yang jadi mahar yaa mbak wkwkwk

      Iya, mas Agus. Fulanah dong, bukan Fulan. Saya masih normal, eheheh...

      Hapus
    3. Wah akhirnya ganti template juga ya mas dodo πŸ˜€

      Hapus
  2. Jika aku yang menjadi mbak Fulanah tentu akan kaget dan senang sekali ketika membuka magic-com dan menemukan sate di dalamnya 🀣
    Sungguh adik yang sangat pengertian sekali, sayang hanya mimpi 🀣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi sepertinya begitu bangun mas Dodo langsung ke toko beli magic com sama sate kak. Terus habis itu nyari mbak Fulanah. Eh, ternyata mbak mbaknya lagi jalan sama adeknya sambil bawa kardus magic com, cuma bedanya itu untuk dirinya sendiri.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

      Hapus
    2. Wakkkwkwk

      Ditikung adik sendiri dong..

      Hapus
    3. Ah masa sih, barang kali adiknya cuma mau ngajak jalan-jalan saja.

      Hapus
    4. Template nya baru nih, biasanya bisa di klik langsung ke kolom komentar, sekarang ngga bisa.πŸ˜‚

      Hapus
  3. Ya ampun aku udh ketawa ngakak dong isi kadonya magic com. Emang kadang cowok sukanya ngasih solusi, ya! πŸ˜ƒ Padahal cewek tuh senengnya dikasih kado yang personal gitu. Bukan solusi agar hidup lebih mudah wkwkwk untung cuma mimpi πŸ˜…πŸ˜…

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah ternyata kalo cewek seneng dengan kado yg personal ya, mbak? Thx infonya πŸ˜€

      Hapus
  4. haha..ide nya boleh banget ini ngado mejikom lengkap dengan satenya. barangkali nanti lapaer pas nyoba masak nasi pakai mejikomnya. based on truue story nggak nih mas dodo?

    BalasHapus
  5. Ya ampun.. Mbok ya jangan mimpi.. Eh bukan mimpi kan? Hayoooo..

    BalasHapus
  6. Asik mimpinya, *eh kisahnya nih .. , kukirain ini true story ternyata only dreaming 😁

    Halaah nulis pakai bahasa Inggris segala, wwkkk πŸ˜„

    BalasHapus
  7. ladalah ternyata mimpi wkwkwk.. tapi untungpah gak jadi ganti uang hadiah untuk mbak fulanah :D

    BalasHapus
  8. Kirain tadi adiknya mau merebut pacar kakaknya πŸ˜†

    Mimpi model begitu itu termasuk mimpi buruk atau indah ya? πŸ˜†

    BalasHapus
  9. Kreatif adiknya mas, idenya out of the box, kasih magic-com coba hahahaha πŸ˜‚ by the way siapa itu mba Fulanah? Saya rasa ini bukan cerpen semata πŸ˜† semoga mas Dodo berjodoh dengannya apabila memang cerita ini diangkat dari kisah nyata 😬

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini hanya cerpen belaka mbak,

      Tapi, aamiin deh. Ehehehe πŸ˜…

      Hapus
  10. aduhhh udah kesem sem sama inisiatif adiknya, ternyata cuma di alam mimpi, hahaha sayang sekali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaa.. sayang sekali ya mas. Tapi tetep untung, loh. Aku ga jadi keluar duit :D

      Hapus
  11. Bahahah... punya adek kaya gtu mah auto terbang... biasanya adek kan yg suka ngompor2in nggk jelas... #uppss jadi curcol..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Adeknya mas Bayu ternyata suka ngomporin nih yee, hahaaha

      Hapus
  12. ni mungkin sebab tidur tak basuh kaki. sebab tu mimpi macam2πŸ˜†

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih elok lagi kalau tak hanya basuh kaki. Basuh juga muka, tangan, rambut, telinga juga. Alias... Wudhu, eheheh πŸ˜€

      Hapus
  13. hehehe tak disangka ternyata hanya mimpi.
    Tapi tokoh adik yang disangka kembaran kak Dodo dan mbak Fulanah mah nyata berarti ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, adik saya beneran nyata adanya, mbak. Kalo Mbak Fulanah, itu tokoh fiksi ehehehe

      Hapus
  14. wkwkw, aku pernah di posisi adiknya mas dodo nih. Aku aja si mbaknya untuk makan malam berdua aja di luar. aku ngomongin ttg kakakku yg baik-baik pokoknya. Eh, pas di akhir pertemuan dia bilang 'makasih ya dek. tapi aku udah ga deket lagi sama masmu'. wkwkw, aku sedih campur kikuk karena merasa sok gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bedanya mbak Ghina sesama perempuan, enak bisa ngajak makan berdua si mbaknya. Kalo adikku, laki-laki, kalo dia mau ngajak mbak Fulanah makan berdua, sama aja mau nikung mas nya sendiri, wkwkwkqk

      Hapus
  15. Kirain mau promosi magic com heuhh dasar kak dodo :v

    BalasHapus
  16. ckckckcckckck pengen saya siramin air es deh si Dodo ini, kelamaan bobok jadinya mimpi mulu hahahaha.
    Baru aja mau saya bilang, buruan di ajak taaruf, sebelum keduluan adiknya hahahah.

    Oh ya, saya ngeri buka twitter, salah satu penyebabnya ya pikiran kek gitu, banyak loh di sana :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aselii mbak, aku tidak habis thinking sama orang2 aneh macam itu

      Hapus
  17. Antara bingung kenapa adiknya baik banget apakah ada maksud tertentu ealaaah ternyata mimpi, ya pantes rada ajaib ceritanya ahahaha.. menghibur sekali lhoo :D

    BalasHapus
  18. udah bayangin sate ternyata cuma mimpi belaka :(
    wkwkwk, tengkyu lho jadi ngekek nih

    BalasHapus
  19. Aku pikir beneran, dooo🀣. Enak bener punya adek yang perhatian dan lugu macam itu. Kalau beneran ada sih jangan-jangan bukannya nyomblangin fulanah sama abangnya, bisa-bisa mau embat si cewek buat jadi jodohnya sendiri ituhπŸ™ˆ

    BalasHapus
  20. Jujur ya, kalo aku sih sukanya cowok ngasih yg cewek mau bukan yg cewek butuh, wkwk..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nice info mbak. Jadi nanti aku ga mau ngasih doi bunga krn itu cewek ga butuh kan hehsh

      Hapus
  21. Ekwkwkwkwkwk, halaaaah, cuma mimpiiii :p. Aku udah curiga, ga mungkin ad adek sebaik ituuuu, inceran kakanya ultah, yg beliin kado malah dia ekwkwkwkwkwk.

    Eh tapi bgs tuh ide kadonya. Betul2 sesuatu yg sangat dibutuhkan, sampe ada kertas Ama tinta segala hahahahah . Pinter adeknya :D

    BalasHapus
  22. Makasih mas, aku baca tulisan ini cukup terhibur. Haha agak galau nih soalnya malam ini. Wkwkwkwk

    BalasHapus