Namanya Clara. Kami merupakan rekan kerja di kantor. Kami bekerja di salah satu perusahaan swasta di kota Depok, Jawa Barat. Aku pertam...

Perempuan Open-Minded



Namanya Clara. Kami merupakan rekan kerja di kantor. Kami bekerja di salah satu perusahaan swasta di kota Depok, Jawa Barat. Aku pertama kali bertemu ketika tengah berada di dalam bus Trans Jakarta. Ah, Trans Jakarta juga tidak hanya melayani rute dalam Provinsi DKI Jakarta saja. Bus ini juga beroperasi di daerah sekitarnya termasuk Depok.

Aku telah duduk manis di dalam bus sambil mendengar musik yang diputar. Saat itu, pengeras suara di dalam bus memainkan lagu Selow milik Via Vallen. Tiga halte kemudian, ada seorang naik ke dalam bus. Aku tidak terlalu peduli. Dan ketika bus Trans Jakarta yang aku tumpangi telah tiba di halte yang aku tuju. Aku turun, demikian pula dengan perempuan itu. Kami kemudian berjalan bersama, masuk ke gedung yang sama. Namun tanpa bertegur sapa.

Hingga pada hari ke sepuluh. Akhirnya dia yang memecah keheningan. Kebetulan, saat itu bangku yang berada di sebelahku kosong. Perempuan itu langsung duduk di sebelahku.

"Gue boleh duduk sini, mas?" Ujarnya basa-basi.

Jelas saja boleh karena bangku itu kosong. Yang tidak boleh itu, kalau perempuan itu duduk di atas pangkuanku. Itu bisa berbahaya dan mengakibatkan hal-hal yang diinginkan. Hiihi..

Aku menjawab, "Aah, iya. Silahkan, mbak." diakhiri dengan senyuman terbaik yang aku berikan.

"Gue tau, lo pasti kenal sama gue. Dan gue juga tau siapa nama lo." Perempuan itu langsung berbicara bak harimau yang hendak menerkam mangsa.

"Eh, nama mbaknya Clara, kan. Kalau nama saya Dodoo. Kita kan bekerja di satu kantor. Toh, kita turun bareng dari bus ini. Maafkan saya yang tidak pernah menyapa mbak sebelumnya."

"Udah, biasa aja. Eh, lo dari divisi apaan? Kita emang satu kantor tapi kan ketika naik ke lift beda tujuan. Gue dari divisi Marketing."

Karena dia menggunakan lo-gue, aku mencoba juga berbicara dengan bahasa seperti itu, ditambah campur-campur menggunakan Bahasa Inggris. Biar dikira keren. Di daerah Jabodetabek, orang-orang berkomunikasi jarang menggunakan aku-kamu. Katanya, itu sering digunakan untuk orang yang saling memadu kasih alias pacaran. Takutnya, si mbak malah jadi baper.

"Well, gue adalah Engineer di divisi Teknik. Baru keterima di sini sepuluh hari yang lalu, mbak."

Karena aku adalah orang Jawa yang berbicara agak medhok, maka menjadi lucu dengan berbicara seperti itu. Jadinya seperti.. ghu-whe.

"Gak usah panggil mbak. Panggil nama aja. Clara. Gitu doang, cukup."

Begitu awal mula aku mengenal Clara, si perempuan aneh.
Clara adalah seorang yang cukup cantik dan manis. Badanya sangat wangi seperti baru selesai mandi. Aku tidak tahu, parfum apa yang ia gunakan. Awetnya sampai sore. Wajahnya putih bersih, hidungnya kecil, matanya tajam berwarna hitam kecokelatan. Rambutnya berwarna pirang, diikat sebahu. Aku tidak yakin rambut itu asli pirang, tidak mungkin dia seeorang bule. Pasti itu menggunakan pewarna.

Kenapa aku bilang Clara adalah perempuan aneh?
Karena bagiku, ia perempuan yang beda dari kebanyakan yang tinggal di kota besar. Katanya, dia tidak pernah dugem alias clubbing, tidak pernah minum alkohol, dan belum pernah pacaran. Padahal, dengan paras yang menawan dan bodi yang aduhai seperti itu, sudah barang tentu mudah baginya untuk mencari pasangan.
Sungguh berbanding terbalik dengan teman-teman kantorku yang lain, seperti si Bunga atau si Mawar. Mereka seperti biasa-biasa saja datang ke clubbing. Aku mengetahui ini dari insta story mereka.

"Sejauh ini belum ada yang cocok sama gue, Doo." Ujar Clara suatu saat di dalam bus Trans Jakarta sepulang kerja. By the way, kami menjadi selalu pulang bareng dan duduk sebelahan usai kejadian itu.

"Kok bisa gitu?" Aku pura-pura antusias, padahal tengah mengagumi indahnya ciptaan Tuhan.

"Yaa, belum cocok aja. Gue masih belum sreg sama orang-orang yang ngedeketin gue. Si Adit perokok. Kalo Paijo hobinya mabok. Ga ada yang bener."

"Hemm.." Aku masih terus memerhatikan wajah manisnya.

"Woyy, Doo! Istighfar. Lo lagi mikirin apaan? Gue tau, lo dari tadi merhatiin wajah gue. Inget, di dalam agama lo kan disuruh jaga pandangan. Kalo ga salah dalilnya Surat An-Nur ayat 30 yaa."

Aku tersadar dari fantasiku.

Yaa, begitulah Clara, lagi-lagi keanehannya muncul. Ia tahu beberapa dalil dari ayat Al-Quran, padalah dia seorang non-muslim. Berbeda dengan kita yang muslim namun banyak tidak tahu dalil apapaun. Hiksss :((

"Doo, lo tau gak. Gue sebenernya suka saama lo. Dan gue juga tau. Lo suka sama gue, haha!" Tanpa tedeng aling-aling, Clara berbicara kepadaku di bus. Saat itu kami hendak berangkat kerja di pagi hari. Ucapannya membuatku gagal fokus di kantor sepanjang hari.

"Ghhu-whhe ssu-khha sha-ma lhhoo?" Aku berbicara sedikit gugup, terkejut. Dan sudah barang tentu, logat Jawaku kembali keluar.

"Udaah, woles ajee. Gue tau kok, kita gak mungkin bisa menikah. Kan agama lo melarang nikah beda agama. Eh, bahkan kita pacaran aja gak boleh yaa?"

Aku masih diam saja.

"Gak usah gugup, woy! Gue suka sama lo sebagai temen. Ga usah baper. Kita gak bakal bisa menikah. Lo enak diajak diskusi, apalagi soal agama, walaupun gue tau. Lo bukan penganut agama yang taat. Hahhaa."

"Enak aja, gini-gini gue shalat lima waktu gak pernah tinggal, kok!"

"Bisa aja, lo! Haha." Clara tertawa sambil menyubit gemas lenganku. Awalnya aku hendak bilang bahwa aku dilarang bersentuhan dengan perempuan yang bukan mahram. Namun aku biarkan, karena menikmatinya. WKWKWKWK.

WOY TOBAT WOY, TOBAT!

   Baca juga dong;

Suatu hari, di dalam kedai kopi Starbaks di malam minggu. Kami pergi berdua, nampaknya aku terperangkap friendzone beda agama. Obrolan kami nampak seru.

"Doo, aku sebenernya kasihan sama perempuan dari agama lo."

"Kenapa gitu?"

"Kalo kita lihat di sini, yang sering clubbing, dugem, yang sering pake pakaian ketat, hingga open BO. Itu mayoritas dari umat lo."

"Hemm.. Iya juga, ya."

"Jangan iya-iya aja. Kasih solusi dong. Umat agama lo, yang gue lihat udah banyak yang kek kehilangan jati diri. Kalian pake jilbab di masjid doang. Pulang dari sono, lepas lagi."

"Biarin, namanya juga proses."

"Harusnya lo dakwahin mereka!"

"HEEH! Mana bisa gitu! Gini aja, lo aja yang dakwahin mereka. Kan yang gue lihat pakaian lo, jujur, lebih sopan daripada mereka. Pakaian lo tertutup dari atas ampe bawah, longgar, celana lo ga ketat. Lekuk tubuh juga ga nampak. Cuma satu yang kurang, sih dari pakaian lo."

"Apaan?" Clara bertanya penasaran.

"Lo ga pake jilbab, wakakwak." Aku tertawa, namun segera tersadar jokes tersebut menurutku kurang sopan sebab ia seorang non-muslim.

Lagi-lagi, Clara mencubitku. Aku masih diam saja di-grepe seperti itu.
"Geblek, lu! Haahaa. Eh, tapi gimana kalo gue beneran pake jilbab, terus gue jadi ehm, muallaf. Apa lo jadi tambah suka sama gue?"

Aku tersedak mendengar pertanyaan Clara. Lagi-lagi, gadis ini benar-benar aneh.

"Terus kita bisa menikah, Doo. Lo dan gue bisa membangun peradaban Islami yang lo idam-idamkan." Clara melanjutkan celotehannya.

Aku kembali tersedak. Es kopi yang hendak aku minum, tumpah.

"HAHAHHAA. LO TERSEDAK DUA KALI. ARTINYA LO BENERAN SUKA SAMA GUE." Clara sangat girang, seolah telah membunuh raja terakhir dalam sebuah game.

"Well, kita ga tau masa depan. Gue sih ga berharap gitu. Gue ga memaksa lo masuk Islam kok. Gue hanya pengen berteman sama lo. Yang gue suka sama lo, lo itu orangnya open-minded yang benar." Obrolan kali ini menjadi serius. Aku berbicara dengan sedikit sok berwibawa.

"Maksudnya gimana tuh open-minded yang benar?"

Clara mencondongkan badannya menjadi lebih dekat denganku daripada sebelumnnya, tanda ia tertarik dengan topik pembicaraan.
Jika Clara menjauhkan badannya dan sering membuka hape, tanda ia tidak tertarik dengan topik obrolan.
Jika Clara berada di lantai -  tidak berada di kursi yang seharusnya - itu berarti ia sedang terjatuh.

"Open-minded yang sering berisik di Twitter itu sesat. Inti ocehan mereka adalah malas beribadah, anti agama, memperolok-olok agama, pengennya mabok, minum alkohol, hidup bebas, dan cuma pendapat mereka yang benar. Lha, elo yang gue kenal ini beda. Open-minded dalam pikiran lo adalah menghargai toleransi, tidak men-judge orang berusaha taat dalam beragama, dan hal-hal positif lainnya." Aku menjelaskan opiniku.

Clara menyimak dengan seksama.

Aku melanjutkan, "Oh yaa, satu lagi. Lo ga pernah bilang kalo agama gue teroris. Beda sama temen-temen lo yang ngaku open-minded, cuma berani bilang agama gue yang teroris. Nyatanya, di dunia ini orang-orang agama gue lah yang sering tertindas. Orang-orang Uighur, Rohingya, Gaza, dan belahan bumi lainnya."

"Jadi, itu yang membuat lo suka sama gue?" Kali ini, Clara bertanya dengan hati-hati.

Aku mengangguk pelan.

"Gue juga suka sama lo. Daripada kita gini terus, hubungan ga jelas. Ayo kita ke hubungan yang lebih serius. Hemm.. Pacaran kek, gimana nantinya, itu urusan lain. Nanti kita pikirkan."

"Hemm.. Gue rasa ga bisa. Kita beda iman, dan itu jelas dilarang dalam agama gue. Gue lebih nyaman kita gini aja, berteman dan saling tukar pikiran mengenai perspektif kita masing-masing."

"Lo bener juga, itu adalah iman lo yang ga bisa gue paksakan. Gue terlalu naif, maafin gue, Doo."

"Gak, lo ga perlu minta maap. Woles ajaa kali."

*hening*

"Jadi, makanan dan minuman kali ini siapa yang bayar, nih?" Aku sedikit menggodanya lagi, untuk memecah suasana canggung kami.

"Yeeeh, elo. Masih aja. Padahal suasana lagi intim banget tadi." Clara kembali mencubit lenganku.

Kemudian ia menyandarkan kepalanya ke bahuku dan tangannya menggenggam tanganku.
Aku masih diam saja terhadap perlakuan Clara si gadis aneh. Si perempuan non-muslim, yang secara tampilan dan pemikiran jauh lebih islami dari perempuan-perempuan muslimah mainstream yang aku kenal.

Di bawah langit kota Depok yang gemerlap, dua anak manusia telah tersadar mereka saling mencinta.
Namun, cinta kepada Tuhan mereka masing-masing, jauh teramat besar. Menghalangi cinta mereka.



77 komentar:

  1. KENAPA INI FIKSI LAGI HAHAHAH PADAHAL AKU UDAH TERBAWA SUASANA DENGAN CERITANYA! Lagi-lagi karena pakai nama asli dan latarnya terlihat nyata, serta tulisannya yang ngalir banget, aku kira ini nyata huahahaa.
    Eee, tapi bagus sih menurutku, tulisan seperti ini kayak relate banget sama kejadian sehari-hari sampai pembaca ngerasanya ini kejadian nyata sang penulis tapi nyatanya bukan hahaha. Good job!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Krn aku ga punya kisah cinta yg aneh-aneh, mbak. Hahahaa..

      Hapus
    2. hahahaha samaaahh, kirainnnn kirainnnn :D

      Udah senyum-senyum sendiri, udah mau cieh-cieh, eh nyatanya bukan hahaha

      Hapus
    3. Nanti kapan2 aku cerita kisah cinta sendiri mbak hahaaa

      Hapus
  2. Pertama, aku suka cara ceritanya Mas Dodo. Ngalir, ringan, renyah, sampe bikin aku tergiring baca sampai akhir.

    Kedua, banyak hal positif yg bisa diambil dari sosok Clara ini. Dan juga Mas Dodo tentunya yg gak goyah gitu aja mengikuti perasaan. Entah sudah berapa pasangan di luar sana yg melangkahi aturan agaka atas dasar perasaan semata.

    Ketiga, aku suka obrolan yg terbuka macam gini. Gak kode-koden, asal nebak satu sama lain yg ada cuma bikin baper.

    Setelah baca ini aku jadi mikir, apa perlu aku jadi cewek yg seblak-blakan Clara agar lebih terbuka mengobrol? Hahaaa

    Aku suka sudut pandangnya Clara dalam memahami beragama yg sesungguhnya, dan suka sudut pandang Mas Dodo dalam mengartikan open mind yg sebenarnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keempat, cerita ini hanya fiksi yaa mbak. Heeheh

      By the way, makasih udah mampir untuk baca, makasih jg komentar nya:))

      Hapus
  3. Dududu...kok daku merinding disko ya baca ceritanya dari awal sampai akhir. Bisa merem2 melek ini hahahah romantis ala Mas Dodo dan Clara yang 'aneh' itu. Keren ini tulisannya..ayuk dibikin lanjutannya. Aku tunggu hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tenang saja mbak Nurul, nanti akan ada lanjutannya kok. Tunggu saja di Dodo channel.πŸ˜„

      Hapus
    2. Hahaha, belum kepikiran lanjutannya mbak πŸ˜€πŸ™

      Hapus
  4. Jadi ingat percakapan antara Maria dan Fahri di novel ayat ayat cinta.πŸ˜€

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk tau banget, terinspirasi dari Ayat Ayat Cinta πŸ˜‚πŸ˜‚

      Hapus
  5. Kok kerasa kayak bukan Orang Indo Si Clara ini yah 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin Clara anak blasteran mbak. Hiiiihii

      Hapus
    2. Mungkin blasteran Padang sama Batak mbak.��

      Hapus
    3. Kalo saya jg blasteran Padang loh mas wkwkwk.

      Campuran dari suku Jawa, Betawi dan Minang. Hiiihihi....

      Hapus
  6. Whoaaa fixed buat bukuu, pertama kali kumerasaa bahwa tulisan kau kereeen do!!! Biasonyo absurd wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, terimakasih atas apresiasi nya. Semoga biso buat novel eh wkwkwk
      Awak wajib beli!

      Hapus
  7. Rasa-rasanya memang kek real story ya, haha..
    Tapi memang ada sih cerita beda agama gini, banyak malah.

    Ini nih kalo mereka terus-terusan barengan, bukan nggak mungkin mereka bakalan memadu kasih lalu bersapa aku dan kamu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku dan kamu, kemudian terperosok friendzone beda agama #eaaa :((

      Hapus
  8. hhha asli baper baca ini dan salut kak dodo bisa nulis cerita fiksi yang enjoy tapi dapet feel nyampein dakwahnya.

    Lanjutkan kak, fix nih beberapa tahun kedepan bisa menerbitkan buku kek tere liye!

    BalasHapus
  9. Tetiba aku kok jadi pengin nyanyi lagu 'cinta terlarang' buat kalian berdua ...

    Mengapa cinta ini terlarang ..
    Saat kuyakini kaulah milikku.
    Tuhaaaaan .. ,berikan aku hidung, *eh hidup satu kali lagi ��

    Oh, mas Dodo tuh staynya di Depok ?.
    Dulu kerjaku di Depok cukup lama loh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak mas, ini cuma fiksi kok. Karangan belaka, eheheh..
      Aku tinggalnya di Sumatera

      Hapus
    2. Oh, kirain tinggalnya di wakanda bang.πŸ˜„

      Hapus
    3. Ealaah .. jauh juga ya tinggalnya di Wakanda, *eh Sumatera ...

      Lampung ya ?

      Hapus
    4. Oh Palembang, tapi sering ke Jawa ya kang?

      Hapus
    5. Ndak, baru satu kali ke Jawa di tahun 2018. Ketika KKL. Btw cerita KKL nya jg bisa dibaca di Blog ini mas, heheheh

      Aku orang Jawa yg lahir di Sumatera, yg ndak (belum) bisa bahasa Jawa eheheh

      Hapus
  10. Aku kok merasa seperti beneran sih. Btw, ngobrol masalah agama bisa sensitif loh, kecuali orangnya open-minded ya kan. Cuit...cuit...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaaa, mbak...

      Open-minded sering berisik di medsos itu aneh, menurutku.
      Yang sering mereka gaungkan adalah malas beribadah, anti agama, memperolok-olok agama, pengennya mabok, minum alkohol, hidup bebas, dan cuma pendapat mereka yang benar.
      Dan agama yang (sering) mereka serang adalah... Islam.
      Umat islam memperolok agama sendiri, cukup aneh ini. Miris.

      Hapus
  11. Uwuwu keren kak.. Nak beguru akuu sm kakk wkwkwkπŸ˜‚πŸ˜‚

    BalasHapus
  12. Mantap kak fiksinya, calon penulis handal ini. aamiin

    BalasHapus
  13. wait?!! ini kisah benar? saya rasa macam ya.... ;-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak, kak Anies. Ini hanya sebuah khayalan sahaja. Heheheehe

      Oh ya, apakah kak Anies memahami kalimat dan alur ceritanya?

      Hapus
    2. insya allah sy faham cuma ada certain words yang memaksa saya buka google translate hahahahaha

      Hapus
  14. Coba nyata... asli pasti seru banget, punya temen yg kalau ngomong asal ceplas ceplos... heheh skrang mah manusia kebanyakan perkataannya berbanding terbalik sama kelakuannya.. wkwkw lebih pintar ngomong ketimbang aksi.

    Tapi cerpen ini relate banget sih sama kehidupan sehari2... cuma nggak banyak orang yg open minded kalau udh ngomong atau bahas masalah sensitif kaya agama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga punya teman yg ceplas ceplos, beberapa, ga banyak. Ehehehe

      Hapus
  15. Kalau di dunia nyata mungkin udah jalan duluan tuh hubungan. Banyak setan soalnya wkwk

    BalasHapus
  16. Wkwk ngakak banget kak bacanyaπŸ˜‚πŸ˜‚ Eeeh ternyata fiktif belaka🀭 Bagus sangat kak tak diduga aku udah ujung bacanya, Lanjutkann terus Kaka Semangat πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
  17. Oh kirain ini kisah nyata darikisah mas Dodo ternyata ini fiksi, tapi bagus kok isi cerpennya.
    Bagus di sini tokoh cowoknya nggaknyosor nggak ngambil kesempatan dalam kesempitan
    Di cerita ini tokoh cowok nya menghormati dan menghargai wanita
    Kira-kira ada cerpennya ada kelanjutanya nggak ya?

    BalasHapus
  18. Ditunggu bukunya kak :) keren euy dijadikan Novel aja kak,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas apresiasinya. Hehehe
      Jangan bosan2 baca tulisan di blog ini wkwkwk

      Hapus
  19. Serius, Mas Dodo harus menyeriusi kegiatan menulis (ngakunya) fiksi ini! Ceritanya ngalir, bacanya enak, deg2an, lalu gubrak karena Dodo di grepe πŸ˜‚πŸ˜‚ (kalo yg ngomong dr sudut pandang cowok kok jadinya kurang "dewasa" ya hahaha).

    Aku pasti akan jadi salah satu pembaca pertama! Lanjutkan yaaa ceritanya,, pembaca menunggu inii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah membaca tulisan2 ku mbak, eheheh...
      Btw itu asli fiksi kok, tidak pake "ngakunya" fiksi πŸ˜‚πŸ˜œ

      Hapus
  20. hey i'm from Malaysia . blogwalking here :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hello Kak Sophea. Do you understand my story? Because i use Indonesian language..
      By the way, thanks for visiting me :)

      Hapus
  21. Ya Allah. Kenapa daku nyasar ke sini, baca tulisan yang ini? Pagi-pagi bikin baper aja teringat masa lalu. Halah bangeeeettt. Muehehehe ... Baiklah. Salam kenal aja dari Jogja. Awas klo tulisanmu bikin baper lagi nanti. Hahahaha ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah, salam buat Jogja ya mbaak. Saya berdarah Jogja juga loh, mbah saya dari sana. Ehehehe.....

      Hapus
  22. Boleh nih Kaka lanjut nulis jadi buku wkwk

    BalasHapus
  23. Gw suka gayanya Clara ini, tegas dan berpendirian teguh.

    kirain ini beneran mas dodo. Ya ampun udh diresapin bener-bener dah. Coba Clara nggak tegas, diajakin nikah saya Dodo dengan pernyataan "urusan nanti mah nanti: pasti Clara bakalan mau.

    BalasHapus
  24. Lagi-lagi kena ranjau di sini hahahaha.

    Sudah asik asik menghayati taunya fiksi, seriously nggak beda sama curhatan personal mas ~ ngomong-ngomong ini akan berseri seperti cerita yang kemarin nggak, mas Dodo? :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin saja akan ada sambungannya mbak. Karena judul kali ini perempuan open-minded. Kelanjutannya adalah laki-laki open-minded.. Inshaa allah, hahaaha

      Hapus
  25. Ooo ... fiksi. Ahahaha ... Coba bikin lanjutannya dong, tentang cowok/cewek yang hobbynya dugem dan karaokean tapi ibadatnya rajin. (Dugem, karaokean, bukan berarti selalu mabok-mabokan dan ngamar ya. Bisa aja cuma minum segelas shirley temple, joget-joget, dan nyanyi-nyanyi doang, terus pulang.) Jadi ada sudut padang yang berbeda tentang dunia kita ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kapan2 akan aku coba ya mbak.. Sebab aku belum pernah punya teman yg gini, jd blm ada referensi hehe

      Hapus
  26. Ku sempet mikir ini cerita bener ato ga yaa. Tp di cerita sebelumnya kayaknya mas Dodo bilang blm kerja, yg ini ceritanya udh kerja :D. Pas sampe akhir, naaaah kan bener fiksiiii :D.

    Tp asik kali ya mas kalo ketemu temen yg open gitu pikirannya, ga picik. Yg bisa discuss ttg agama apapun tp ga kebawa baper. Aku ada 1 temen yg begitu, dan diapun enak banget diajak ngobrol soal apapun termasuk bahas agama dia, ato agamaku. :) . Susah nyari temen yg begitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah enak dong punya temen gitu. Jujur, kalo aku saat ini temennya muslim semua, jd blm bisa ngerasain gimana diskusi gitu ke orang yg non muslim heheheh

      Hapus
  27. Mantep kak, heeh ngalur dan ngena kata-katanya

    BalasHapus
  28. wkwkwk kubiarkan saja karna ku menikmatinya, betull sekale, banyak juga temen aku kayak gitu, ini bener bener survei yang mantulll
    kusuka sama ceritanya, ringan dan emang bisa beneran kejadian sih ini. atau jangan jangan ini cerita real tokoh lain tapi dipakein nama kak dodo
    kirim ke majalah oke nih kayaknya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaa, itu aku jaman duluuuu banget kayaknya. Kalo skrng udah sadar kalo pegang-pegang tangan cewek ga boleh. Eheheh

      Hapus
  29. Kalau di novel2 atau film Indonesia, banyakan ceritanya si tokoh non-muslim jd mualaf sih...

    Hehehe...efek dulu banyak baca majalah annida nih Mas hahaha

    Ngobrol dan bergaul lintas agama itu perlu supaya kita tidak mudah menghakimi orang lain dari apa yang kita yakini :)

    Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaaak, betul. Punya teman yg beda agama akan menjadikan kita punya wawasan lebih terbuka dan menjadi "open minded" :D
      Makasih udah baca mbak

      Hapus
  30. hihihihi ini kayaknya kenal ceritanya nih ...
    kalau baca "seperti curhatan" yang ditulis drimu, aku udah gak bisa berharap lebih dari fiksi hehehe

    BalasHapus