Kunci Motor

Malam itu selepas Isya di tahun 2015 pada akhir bulan September. Hampir lima tahun lalu.
Aku telah menjadi mahasiswa semester pertama di perguruan tinggi negeri yang ada di luar kota, alias di kabupaten tetangga.
Oh ya, jarak ke kampus hanya empat puluh kilometer dari rumah, dan ditempuh dalam waktu satu jam dengan perjalanan motor. Setiap hari aku pulang pergi dari rumah ke kampus. Tidak terlalu jauh. (Atau mungkin jauh, ya?)

Saat itu, aku dan beberapa orang tengah mendapati diri berada di beranda rumah seorang teman, bukan beranda Facebook. Sebut saja namanya Ian (emang nama sebenarnya).
Ian saat itu telah dinyatakan diterima di salah satu kampus bergengsi di Tanah Jawa. Lulusan kampus itu pasti menjadikan kamu sebagai aparatur sipil negara (ASN), atau di zaman dahulu kala disebut sebagai pegawai negeri sipil (PNS).
Ian kini sudah bekerja menjadi ASN yang berada di bawah kementerian yang dipimpin oleh Bunda panutan kita semua; Bunda Sri Mulyani.

Oh ya, ada informasi satu lagi. Ketua ikatan alumni kampus tersebut adalah Om Helmy Yahya. Beberapa hari yang lalu, beliau membuat video di channel Youtube miliknya. Kontennya berisi ngobrol dengan Bahaso Plembang bersama bang Gilang Dirga sambil makan pempek. Om Helmy yang ngobrol, bang Gilang yang makan pempek, hahaa. Aku cukup terpingkal-pingkal menyaksikan ke-besak kelakar-an mereka.
Khas Uong Plembang nian.

So, aku rasa. Sudah cukup jelas, dimana Ian kuliah. Pasti kamu bisa menebaknya!
Hahaaa.

Kami kemudian masuk ke ruang tamu, mengobrol, hingga ber-ghibah ria membicarakan keburukan tetangga.
Sama seperti Helmy Yahya yang menyuguhkan pempek ke Gilang Dirga. Ian juga menyuguhkan kami pempek. Pempek sudah menjadi primadona di sini.
Sarapan pun sering dengan pempek.

Sepiring pempek telok kemudian, jam dinding telah menunjukkan waktu sekira setengah sepuluh. Sudah cukup larut untuk bertamu. Kami telah bersiap pulang, namun hal malang terjadi.
Kunci motor salah seorang teman hilang. Ia lupa.

Kami sibuk mencari. Menjelajah rak sepatu, memeriksa ke bawah kursi dan meja, hingga berselancar ke selokan parit di depan rumah Ian. Kami masih tidak menemukan kunci motor yang dicari.
Hampir setengah jam, kunci belum ditemukan.
By the way, tak hanya aku dan teman-teman yang ikut mencari kunci itu. Orang tua Ian juga ikut mencari juga. Bahkan, ombai (nenek; dalam Bahasa Komering) pun tidak mau ketinggalan ikut membantu.

Ombainya Ian mengemukakan analisis, "Jangan-jangan kunci motormu tadi tertinggal di sana. Belum dicabut."

Temanku menjawab, "Aku lupa juga, Ombai. Tapi, rasanya kuncinya sudah ada di dalam ruangan ini. Aku pegang, diletakkan di atas meja."

Ombai tidak sepakat, "Kalau betul ada di atas meja. Sekarang, buktinya mana?"

Ibunya Ian ikut nimbrung, "Bisa jadi betul apa yang dikata oleh Ombai. Kamu lupa mencabut kuncinya. Coba kita ingat-ingat siapa yang tadi lewat di depan rumah ini?"

Hening sejenak, kemudian si Ibu menjawab pertanyaannya sendiri, "Jangan-jangan si Pepeng (bukan nama sebenarnya). Ibu lihat tadi dia ada lewat beberapa kali mondar-mandir di sini."

Aku bertanya keheranan, "Siapa itu si Pepeng?"

Ian menjawab dengan mantap, "Pepeng itu orang gila yang ada di sini, dia emang agak stress. Kemarin juga mencuri barang-barang yang tidak penting. Sandal, misalnya. Tapi cuma sebelah."

Ibunya Ian kemudian berkata dengan penuh semangat, "Ian, ayo cari Pepeng sekarang. Ambil kunci motor dari dia."

*Hening*

Tujuh detik kemudian, temanku yang kehilangan kunci hendak menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Seolah kecewa karena kunci tak kunjung ditemukan.
Karena ia menggunakan peci, ia membuka pecinya sebelum memulai ritual menggaruk kepala.
Sekonyong-konyong setelah itu, ia begitu histeris.
Kami terkejut dibuatnya.

"Ini kuncinya. Ada di atas kepalaku. Kuncinya ada di dalam peci yang dari tadi aku pakai. Ah, iya. Aku baru ingat sejelas-jelasnya. Aku meletakkan kunci di dalam peci agar supaya tidak lupa ketika pulang nanti bisa langsung cus. Nyatanya, aku sendiri yang lupa telah meletakkan kunci di atas kepala sendiri."

Setelah mendengar penjelasannya, awalnya kami langsung hendak memaki-maki. Namun kami urungkan, karena kami ingat ia adalah sahabat kami.

"Oooy dah, kau ini. Mahoo nian jadi uong. Madakki cak itu bae lupo. Lah su'uzhon samo uong gilo. Taunyo ado di palak kau dewek!"

Kira-kira seperti itu kami meresponnya, kami hanya tertawa mendengar penjelasan polosnya. Ombai dan ibunya Ian juga hanya tertawa mendengar penjelasan dari sahabatku itu.
Perpisahan malam itu, benar-benar absurd, aku selalu mengenangnya. Terkadang, ketika kami bertemu. Aku kerap mem-buly sahabatku dengan mengulang cerita ini. Hahaha.
Pun, ketika aku menulis ini juga sambil tertawa mengenang momen kocak ini. Wkwkwk...

Kunci yang hilang telah ditemukan. Tibalah saatnya bagi kami untuk pamit pulang.
Apabila hari esok telah tiba, Ian memberi kabar melalui pesan singkat. Ia telah di bandara, beberapa menit lagi pesawat siap menari-nari di atas langit.

Ian kemudian resmi menjadi mahasiswa di sana, memulai kehidupan baru. Aku cukup bangga punya sahabat yang bisa berkuliah di kampus itu. Katanya, puluhan ribu orang yang memperebutkan bangku kuliah di sana.

Selamat jalan, Ian!




Edit : Coba tebak, yang mana rupa sahabatku yang menyimpan kunci di dalam peci?

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Kocakkk. Ngakak aku baco ceritonyo

    BalasHapus
  3. wkwkwkwkwkw, kalo kunci bisa di miskol asyik kali ya, gak perlu "garuk - garuk kepala yang gak gatel", hihihi

    BalasHapus
  4. Ha..ha.. Kasihan banget si pepeng jadi korban😂, untung nggak marah dia.
    Yang mana ya...
    Mungkinkah yang pakai peci sambil Senyum pepsodent?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah, mbak. Hahaha..
      Yang di foto pake peci adalah Ian si tokoh utama. Hahaa

      Hapus
  5. Pen geplak kepala yang ilang kunci motor.

    Btw dia pasti yang paling depan. Ketawanya mencurigakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, yang paling depan itu adalah tokoh utama dlm cerita ini; si Ian. Yang hilang kunci, ada duduk di belakang. Ketika foto dia tak pake peci

      Hapus
  6. Tuman, lagian kunci dikepala yang ditempat normal aja sering lupa 😣

    BalasHapus
  7. Wahahha coba sekalian motornya disembunyiin dipeci juga

    BalasHapus
  8. Ampun dah kok kesel jadinya..Kesel tapi ngakak.

    Oy ian ian rasonyo nk disiram cuko pempek😂

    BalasHapus
  9. I know what he feel wkwk.. tp masih mending kak itu cuma kunci motor. Lah saya, lupa naruh buku satu tas. Udh bikin heboh seorganisasi pula. Ternyata, bukunya di balik pintu kosan teman saya. Lupa kalo pernah taruh buku di sana pas nginep. Wkqk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tertinggal di balik pintu yee.. Untung tidak tertinggal di Balikpapan hahaa

      Hapus
  10. Orangnya yang paling depan + pakek peci itu kan kak? :v

    BalasHapus
  11. Ngakak aku Do Baco cerito kau yg ini 🤣🤣🤣

    BalasHapus
  12. pak helmi yahya prrnah kelupaam narok kunci motor d dalem peci gal ya?

    BalasHapus
  13. Astagaaaa, saya jadi kangen kakek saya, dulu pecinya tebal soalnya isinya kebanyakan duit.
    Kalau kakek udah ambil peci, kami langsung berbinar-binar, karena bakal dikasihin duit tuh, biasanya kami segera melirik bapak, meminta pendapat, boleh diterima nggak duitnya :D

    BalasHapus

Posting Komentar