Beberapa malam lalu, aku tengah menyeret roda-roda motor menuju suatu warung makan yang berjarak tidak sampai satu kilo meter dari rumah. K...

Sepiring Hikmah dari Martabak India

Beberapa malam lalu, aku tengah menyeret roda-roda motor menuju suatu warung makan yang berjarak tidak sampai satu kilo meter dari rumah. Kedatanganku ke sana tidak lain untuk mengikuti suatu rapat.
Sebentar lagi Hari Raya Idul Adha.
Rapat ini adalah hendak membahas suatu agenda terpenting dari kegiatan hari raya; Pemotongan hewan qurban.

Saat itu, aku memesan martabak India, martabak dengan isian telur ayam dan kuah kare kental dengan kentang, plus minum teh manis hangat. Namun yang datang adalah teh tarik hangat. Aku adalah orang yang tidak bisa meminum susu, teh tarik menggunakan susu, kan. Jadi, teh tarik tersebut diminum oleh orang lain.
Ini sebetulnya informasi yang tidak penting.

Di tengah rapat, ketika aku sedang asyik menyantap martabak (orang lain sibuk rapat, sedang aku hanya mendengarkan dan fokus makan), datang seorang pengamen.
Adalah hal yang biasa di tempat makan seperti ini didatangi satu-dua orang pengamen.

Aku sedikit terbelalak. Pengamen tersebut adalah temanku ketika masih di sekolah dasar. Aku tidak tahu, apakah kini ia mengenaliku atau tidak. Sebab dua tahun lalu, aku juga bertemu dengannya, mengamen di suatu rumah makan yang aku kunjungi, tetapi ia tidak mengenaliku saat itu. Atau pura-pura tidak kenal (?)

Satu lagu kemudian, ia menyudahi nyanyian merdunya. Aku tidak tahu lagu apa yang dibawakan saat itu. Sebab aku tidak suka mendengarkan lagu dan tidak update terhadap perkembang-biakan industri musik di tanah air. Hal yang selalu aku ikuti update perkembangannya saat ini hanyalah kasus pandemi virus Corona atau Covid-19.
Lagi-lagi, ini juga hal yang tidak penting untuk diceritakan.

Ketika ia mengeluarkan kantong kresek, hendak meminta bayaran dari suara merdunya (padahal di awal ia bilang hanya hendak menghibur, kenapa sekarang mu minta bayaran?).
Ia pun kemudian terbelalak seperti aku beberapa menit sebelumnya.
Ia menyalamiku, "Oy, Do. Apo kabar?"
Aku hanya tersenyum, bertanya balik kabarnya. Kemudian ia mengucapkan terima kasih setelah kamu bersalaman.

Aku menaksir, ia telah mengamen sejak tiga hingga empat tahun yang lalu. Ia telah berkeliling dengan ukulele kecilnya, dari satu rumah makan ke rumah makan lain untuk bertahan hidup.
Aku sepertinya sedikit lebih beruntung darinya.

Kemudian ingatanku terlempar menuju sekira lima bulan lalu, Februari 2020. Saat itu, aku resmi diwisuda menjadi sarjana.
Alhamdulillah, wisuda kami adalah wisuda terakhir sebelum corona mewabah di Indonesia.
Biasanya, di kampusku dilaksanakan wisuda dua bulan sekali. Menurut jadwal, wisuda selanjutnya adalah di bulan April, kemudian Juni. Namun di kedua bulan tersebut tidak ada wisuda.
Jadi, untuk teman-temanku yang telah melakukan sidang sarjana sejak bulan Maret. Mereka belum dapat wisuda sampai hari ini.
Aku harus bersyukur karena sedikit beruntung. Ehehehhe..

Kembali ke topik.
Saat itu, aku diminta oleh adik tingkatku untuk menjadi perwakilan wisudawan untuk memberi sepatah-dua patah kata di jurusan. Aku tidak berfikir dua kali. Langsung aku terima tawaran itu. Karena sejak dahulu, aku hanya menjadi panitia pelepasan wisuda kakak tingkatku di jurusan. Aku dan teman-teman yang menyiapkan kursi-kursi untuk wisudawan dan para orang tua duduk, menyiapkan sound system, menjadi MC dan sebagainya. Ketika ada yang memberi kata sambutan, aku menganggap hal ini keren sekali.
Maka, sebelum diminta, sejujurnya aku telah mempersiapkan kata sambutan sejak lama, wkkwkwkwkwk.

Hal apa yang aku sampaikan saat itu?
Aku menekankan kepada seluruh wisudawan, terlebih kepada diriku sendiri, (karena telinga yang paling dekat daripada mulut yang berbicara adalah, telinga diriku sendiri) untuk banyak bersyukur karena telah menjadi sarjana.
Aku mengajak para hadirin untuk flashback lima tahun lalu. Mei 2015. Adalah hari dimana aku dinyatakan lulus SNMPTN, Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (untuk yang belum tahu, itu adalah semacam jalur undangan via nilai rapor sekolah untuk menjadi mahasiswa perguruan tinggi negeri).

Saat itu, aku girangnya bukan main. Bagaimana ceritanya?
Pengumuman jam lima sore dan aku tengah berada di ruang kelas Bimbel. Bimbel aku ikuti untuk persiapan SBMPTN, Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (seleksi penerimaan mahasiswa perguruan tinggi negeri melalui jalur tes tertulis).
Seluruh yang ada di kelas itu, aku dapat merasakannya, tidak ada yang fokus mendengar pelajaran.
Semuanya sedang tegang, deg-degan, lulus atau tidak di jalur SNMPTN.
Tetiba terdengan dari kelas sebelah, ada yang seperti berteriak histeris. Aku tidak tahu pasti apa sebab, namun aku menduga ia telah membuka hasil SNMPTN melalui ponsel. Apakah si anak yang histeris diterima atau tidak? Lagi-lagi, aku juga tidak tahu pasti.

Lanjut besok. Aku ngantuk, mau tidur.

       Baca juga ; 
Oke, lanjut lagi. Aku sudah bangun tidur.

Ponsel Nokia dengan seri C2-01 milikku (saat itu aku belum punya smartphone) berdering sejak tadi. Mungkin ada tiga panggilan tak terjawab dari orang yang sama. Sebut saja namanya Adit (emang nama sebenarnya)

Aku kemudian izin ke kakak Tutor (guru yang mengajar di kelas Bimbel tersebut) untuk ke toilet.
Aku mengangkat telepon dari Adit, yang sebenarnya aku sudah tahu apa hal yang ingin dia sampaikan.
"Oy, Dit! Aku masih di tempat les, masih di dalam kelas."

Seolah tanpa dosa telah menganggu waktuku yang masih di tempat Bimbel, Adit dengan santai bilang seperti ini,
"Mano nomor pendaftaran kau? Sini, aku cek. Aku sekarang di depan laptop."

Karena aku juga penasaran, aku mengirimkan nomor pendaftaran ke Adit. Kemudian suara histeris terdengar dari seberang telepon,
"Oooy, Doo! Kau lulus SNMPTN. Alhamdulillah. Wooy seneng nian aku!"

Aku dengan kalem menjawab,
"Waah, Alhamdulillah. Makasih sudah cek hasil aku, Dit. Kau cakmano?"

Adit saat itu memilih sebuah institut teknologi yang ada di Jawa Barat. Ia tampak lesu menjawab,
"Belum lulus aku, Do."

Aku merespon dengan sedikit menghibur,
"Tenang, Dit. Masih ado jalur tes SBMPTN." 

***

Aku kembali ke kelas dengan wajah sumringah, yang tidak dapat ditutup-tutupi. Sang kakak tutor bertanya dengan sekenanya,
"Gimana, kamu sudah cek hasil SNMPTN? Lulus atau tidak?"

Aku menelan ludah,
"Eh, tidak kak. Aku hanya ke toilet dan menerima telepon. Aku belum cek hasilnya."

Aku memang tidak mengecek hasilnya secara langsung, Adit yang mengeceknya. Jadi bisa dikatakan aku tidak berbohong, yaa! wkwkwkw.

Di kemudian hari, aku mengetahui bahwa ada 59 orang yang diterima melalui jalur SNMPTN dari 800 orang lebih yang mendaftar di jurusanku. Artinya, hanya 7,3% peluang diterima. Cukup ketat persaingannya. Aku dan teman-teman saat itu telah 'mengalahkan' lebih dari 700 orang.
Kita harus banyak mensyukuri hal ini, kawan!

Untuk yang tidak lulus SNMPTN, ada jalur tes SBMPTN.
Untuk yang tidak lulus SBMPTN, ada jalur ujian mandiri atau USM.
Untuk yang tidak lulus tahun ini, masih bisa di tahun depan, atau tahun depannya lagi.
Untuk yang tidak lulus kampus negeri, masih ada kampus swasta.

Kita harus mensyukuri nikmat ini, nikmat bisa mendapat pendidikan tinggi.
Jika lagi-lagi kita lihat, tidak semua pemuda yang lulusan SMA bisa berkuliah. Menurut data yang aku baca, katanya hanya ada sekitar 20% pemuda yang mendapat kesempatan berkuliah.
80% sisanya tidak mendapat kesempatan yang sama untuk berkuliah.
Mungkin ada yang bekerja, ada pula yang masih menganggur mencari pekerjaan.
Sekali lagi, kita harus banyak mensyukuri hal ini, kawan!

Kembali ke masalah sebelumnya.
Teman-temanku saat itu ada yang telah wisuda, ada pula yang belum.
Yang telah wisuda ada yang telah bekerja, ada pula yang belum.
Yang telah bekerja ada yang telah memiliki gaji tinggi, ada pula yang belum.
Ada yang telah menikah, ada pula yang belum.

Menurutku, apapun yang terjadi kepada diri kita. Tetaplah harus bersyukur. Tidak akan ada habisnya jika kita tidak bersyukur dan selalu iri hati terhadap hasil yang orang lain telah dapatkan.
Jika kita masih saja terus-menerus iri, boleh jadi itu menjadi 'racun' kehidupan bagi kita.
Racun tersebut akan membunuh kita secara perlahan-lahan. Menggerus sedikit demi sedikit.

***

Kembali ke sepiring martabak India.
Kami menyudahi rapat tersebut ketika waktu telah meranjak pukul sembilan malam. Seperti biasa, aku tidak pernah membayar apa yang aku makan ketika rapat. Karena telah ada ketua organisasi itu yang membayarkannya ke pemilik rumah makan.
Btw, pemilik rumah makan juga anggota organisasi tersebut.

Selaiknya etika dalam traktir-mentraktir.
Aku sadar diri, tidak mau merepotkan orang yang membayari makanan. Itulah sebab aku memilih menu makanan paling murah, martabak telur ayam.
Padahal, aku bisa saja memesan martabak spesial dengan telur bebek, namun menurutku itu tidak etis.
Sebisa mungkin, ketika ditraktir, aku memilih makanan yang memiliki harga lebih murah atau maksimal sama dengan yang mentraktir. Menurutku, ini adalah aturan yang tidak tertulis.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, uang siapa yang digunakan untuk membayar makanan seluruh peserta rapat?

Kemungkinan pertama.
Bisa saja uang kas organisasi, tapi aku tidak pernah tahu apakah betul uang kas yang digunakan. Karena aku tidak pernah membayar uang kas, tidak pernah ditagih, dan tidak pernah melihat rincian laporannya. Wkwkw.
Di organisasi ini, hanya orang dewasa yang telah bekerja yang bisa membayar uang kas.
Mahasiswa atau pemuda yang belum bekerja sepertiku, tidak diwajibkan membayar uang kas.

Kemungkinan kedua.
Ketua organisasi yang membayar makanan menggunakan uang pribadi
Aku berhusnuzhon bahwa beliau hendak beramal dengan membayar makanan kami.

Siapapun yang membayar makanan, aku ucapkan terima kasih banyak!



Pertanyaan terkahir,
Organisasi apa yang aku ikuti? πŸ˜„

22 komentar:

  1. Bener2 reminder buat bersyukur. Thanks kak. Dan.. bikin inget sama dua tahun lalu. Skrg aku malah sering nanyain "kemana semangat yg dulu?" Saat yg lain masih sibuk buat belajar UN, udh start duluan belajar buat tes persiapan kuliah. Btw, beruntung ya bisa ikut bimbel ekwk. Saat liat pengumuman SN, udh pasrah sih wkwk. W cuma ngandelin buku catatan, grup SBM/PTK, dan soal2 th lalu yg dishare. Tp bener kudu banyak2 bersyukur dan aku rindu masa2 itu.

    BalasHapus
  2. Yes. Hidup itu harus penuh syukur. Kalau kita ngeluh atau bersungut-sungut, Tuhan pun ga suka. Coba aja bayangin, seorang kaya, kalau lihat hambanya cuma bersungut-sungut terus. Sebel juga kan liatnya. Mending kasih rejeki lebih ke hamba yang rajin dan semangat kan daripada ke hamba yang kerjanya ngeluh aja?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betull sekali, mbak. Btw, makasih udah mampir. Salam kenal πŸ˜€

      Hapus
  3. Ada yang pernah bilang ke aku, pilihan yang tepat itu ga ada, karena tempatnya pada bukan hasil tapi proses. Apapun yang kami pilih, jika kamu usahakan dengan maksimal dan pada akhirnya membawa banyak kebaikan, itu pilihan yang tepat.

    Buat yang belum berkesempatan kuliah, belum berkesempatan menyelesaikan gelar sarjana, belum mendapatkan pekerjaan... tetap semangat, kamu tidak gagal, kamu hanya sedang hidup dan berjuang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayoo semangat...
      Btw tulisanmu pekan ini mirip2 jg ye tema nyo samo aku, Ais hahaha

      Hapus
  4. Kak, tanggung jawab.. Jadi laper setelah baca iniπŸ˜‹

    Cakny enak martabakny ahahaha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwk ayook ke Plaju. Martabak nyo emang enak. Murah pulo, cuma 11rb hahhaa

      Hapus
  5. manusia sering berkeluh kesah entah lupa dari mana saya baca, karena saya bacanya lagi laper jadi gini deh ngomen yang aneh aneh wkwk

    BalasHapus
  6. Aku tadi mencari2 mana martabak indianya tadi? Kiok hilang dari peredaran tulisan? Setelah lamanya bercerita flasback, sebelum akhirnya menemukan "kembali ke sepiring martabak india"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo ke tempatku. Kita makan Martabak India πŸ˜€

      Hapus
  7. Martabak India beda ya dengan martabak Har? :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Martabak HAR itu merk dagang. Haji Abdul Rozak. Dan martabak HAR adalah salah satu jenis martabak India. Ada banyak merk dagang untuk martabak India. Kapan2 bikin Martabak HDN (Haji Dodo Nugraha). Hahaha....

      Hapus
  8. Ngomongin SNMPtN, ah Rena sedari awal sudah gak masuk dalam pemeringkatan 50% yang bisa ikut. Jadi ketika pengumuman SN, biasa saja wkwk

    Terimakasih kak remindernya. Perlu banyak bersyukur :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah di zaman kami tidak ada yg namanya 50% itu. Seluruh nya berhak ikut SNMPTN

      Hapus
  9. Seriusan kak ngk suka susu? Waktu kecil jadi minum apa wkwk #dwiki

    BalasHapus
  10. Wah, kalau aku disodorin teh tarik, langsung slruuuups habis deh segelas malah nambah hahaha :) Btw itulah makanya kita mesti banyak bersyukur. Kasihan juga ya temannya itu beberapa tahun belakangan menjadi pengamen Sukses yaaaa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo aku agak alergi dengan makanan/minuman yg bercampur susu. Bisa muntah Hahaha

      Btw, salam kenal mbak πŸ™πŸ˜€

      Hapus