Pembatasan Sosial, Aku dan Kamu. Sebuah Auto Kritik?

Percayalah, isi dari tulisan ini tidak sekeren judulnya.
Entahlah, ini bisa jadi sebuah opini atau keresahan yang tengah bergejolak dalam dada.
Aku harap kamu dapat enjoy membacanya!
Kisah ini adalah nyata, namun tidak terlalu nyata.
Jadi, tidak semua yang ditulis adalah nyata. Kebanyakan semu dan maya.
Penuh khayalan belaka!

***

Pekan ini, komunitas #1minggu1cerita memberikan tema dalam setoran tulisannya;
Pembatasan.

Dalam bulan-bulan ini, kita sering mendengar diksi tersebut di televisi; Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Yaa, hingga hari ini, wabah Corona masih melanda penjuru dunia. Maka kita harus membatasi diri dalam beraktivitas. Jangan berkerumun, hingga hindari kontak fisik. Kita tidak tahu, siapa di antara kita yang ternyata menjadi carrier virus tersebut.

Namun, bukan PSBB yang hendak dibahas kali ini. Aku hanya hendak fokus ke pembatasan.
Aku pernah mengalami pembatasan semasa di kampus. Kisah ini terjadi sekira tahun 2016.
Kala itu, aku masih menjadi salah seorang mahasiswa semester dua. Aku saat itu adalah anggota baru organisasi Islam di kampus.

Mengikuti organisasi Islam, adalah keren di mata sebagian orang. Kamu akan dibilang sebagai anak hijrah. Kamu akan mendengar diksi baru dalam percakapan sehari-hari dalam bahasa Arab. Mulai dari akhi, ukhti, atau ana, anti, antum, atau yang ekstrim ana uhibbuki fillah, ukh! :')

Menjadi anggota organisasi Islam di kampus, sebut saja UKM X, dituntut untuk menerapkan nilai-nilai Islam secara menyeluruh dalam segala sendi kehidupan (kaaffah).
Bukankah kampus adalah miniatur kehidupan nyata yang sebenarnya?
Maka dari itulah, berlatih dahulu bagaimana Islam kaaffah di kampus. Pasca lulus, bisa diterapkan di kehidupan sebenarnya.

Masalah tantangan baru siap dihadapi.
Seperti kita tahu, Islam begitu mengatur bagaimana interaksi antara laki-laki (ikhwan) kepada perempuan (akhwat).
Di sini, kami dilatih berinteraksi dengan cara baru yang menurutku cukup aneh. Pun bagi orang awam, ini cukup terkekang.

Jadi begini, selayaknya organisasi. Pasti akan ada suatu rapat. Entah itu untuk merencanakan suatu agenda, evaluasi program kerja atau apapun itu. Rapat dalam UKM X disebut sebagai syura.
Kami melakukan syura di mushollah fakultas, dengan kain pembatas (hijab).
Eh, maksudnya gimana?

Lokasi kami mengadakan syura adalah di teras mushollah, d antara tempat sholat ikhwan dan akhwat pasti ada kain pembatas kan. Nah, di sana kami mengadakan rapatnya.

Yang terjadi adalah, ketika rapat. Kami, para ikhwan hanya mendengar suara para akhwat dari seberang kain di sana. Tanpa tahu siapa orangnya yang menjadi peserta rapat, atau bagaimana bentuk orang yang menjadi lawan bicara saat itu.

Padahal ketika sedang syura dengan pembatas kain, aku dan si akhwat boleh jadi sangat-sangat berdekatan saat itu. Bahkan, jarak kami hanya sedekat satu centimeter. Dekat sekali.
Aku yakin, jika tidak ada kain pembatas, kami tidak akan berani duduk berdampingan sedekat itu.
Terimakasih kain pembatas!

Jadi jika suatu saat kami bertemu di kooridor menuju ruang-ruang kuliah, atau ketika makan siang di kantin, atau tengah membaca buku di perpustakaan. Kami betul-betul tidak tahu yang mana orang yang kami ajak syura kemarin.
Seperti yang telah aku singgung di awal, kami hanya tahu suara mereka dengan batasan kain. Dan juga di grup Line atau WhatsApp anggota UKM X.

Berbicara mengenai grup, kami diberikan batasan lain; jam malam.
Ya, kami hanya boleh chat di grup maksimal jam sepuluh malam. Istilah ini disebut jam syar'i. Sebenarnya, terdapat perbedaan pendapat (khilafiyah, eh) terkait jam malam. Ada fakultas lain yang lebih ekstrim, menerapkan jam sembilan malam sebagai batas. Ada lagi temanku di kampus lain yang sampai jam setengah sebelas malam.
Ada juga temanku yang lain, yang mereka tidak punya istilah jam syar'i. Kemudian aku baru ingat, temanku itu bukan anggota organisasi Islam di kampusnya. Hahaha..

Sejujurnya, aturan seperti ini cukup asyik menurutku.

Cerita terus berlanjut, namanya manusia yang tak luput dari salah. Aturan untuk chat dengan batas waktu pukul sepuluh malam, hanya berlangsung di grup UKM X saja. Sedangkan untuk aturan di grup lain hingga chat pribadi, tidak berlaku! Awkwokwowkwkk.

Suatu saat, aku tengah asyik chatting dengan seorang akhwat di UKM X. Niatnya, membahas suatu agenda dimana kami menjadi panitianya. Aku ketuanya, ia sekretaris.
Setelah rampung membahas agenda, entah kenapa kami aku malah asyik membahas hal yang tidak penting.

Begini contohnya,
"Ukh, kamu sudah makan belum?"
"Selepas sholat Zhuhur tadi, udah baca Quran berapa lembar?"
"Jangan lupa sholat Dhuha, ukh!"

Si ukhti tidak mau kalah. Ia memberi feedback yang cukup berani.
"Gini terus. Kita cuma saling chat setiap hari tanpa pernah bertemu. Besok-besok makan bareng yok, akh! Seblak kuy! Berdua aja boleh."
"Eh, jangan ding. Sama temen-temen yang lain juga, bertiga atau berempat. Biar ga ada fitnah, akh. Heheheh"

Yaps, kami hampir setiap hari menjadi rutin saling chat di aplikasi Line, tanpa aku tahu orangnya yang mana.

Hingga suatu hari, ketika aku tengah duduk santuy sambil merokok di kantin. Ada seorang ukhti yang menyapa,
"Akhii.. Makan siang nih?"

Aku sedikit bengong. Itu orang siapa yang menyapa, aku tidak kenal sama sekali. Setelah hening beberapa detik, aku menjawab sekenanya,
"Eh, iya iya.."

Seorang sahabat bilang kepadaku, kalau ukhti yang menyapa tadi adalah si ukhti yang setiap malam menjadi teman chatting ku.

Sahabat itu kemudian menasihatiku, agar aku berhenti melakukan perbuatan sia-sia, "Untuk apa kalian chattingan setiap malam. tiada berguna, bro!"
Aku menyanggah, "Eh, tapi dia kan perhatian sekali sama aku. Siapa tau dia..."

Sahabatku kembali menyanggah, "Kagak, bro. Si ukhti itu memang ramah kepada setiap orang. Dia memang seperti itu kepada siapa saja. Jangan ge-er kamu!"

Akhirnya setelah kejadian itu, aku menghentikan kebiasaan buruk tersebut. Yaah, di sisi lain setelah satu tahun, akhirnya aku tahu bagaimana rupa orang yang aku chat setiap malam. Orangnya agak kurus. Wajahnya putih bersih dan cerah. Badannya juga cukup tinggi. Sepertinya, ia lebih tinggi dariku.

***

Apakah kemudian kamu menganggap kisah ini nyata atau tidak, itu adalah hak kamu. Aku tidak peduli.
Haha.
Ya, pada hakikatnya aturan tersebut adalah baik. Baik sekali, bertujuan untuk mengatur bagaimana kita berinteraksi kepada lawan jenis. Namun, kita jangan pula terlalu ekstrem, terlalu kaku.
Sejujurnya, hingga hari ini aku masih banyak belum mengenal teman secara nyata. Hanya tahu secara online saja, tidak offline.

Sebagai contoh, setelah tiga tahun delapan belas bulan kuliah, akhirnya aku wisuda. Aku mendapat banyak ucapan selamat, terutama dari teman-teman UKM X.

Aku menerima hadiah berupa sajadah, buku zikir, karangan bunga dari kain flanel, buket snack dan lain sebagainya.

Beberapa saat sebelum foto ini diambil, aku bertanya pertanyaan 'konyol' kepada sahabatku. Pertanyakan aku ucapkan dengan sedikit berbisik kerana takut ada yang tersinggung,
"Bro, yang pake jilbab biru siapa namanya?"
"Terus, yang pake masker namanya siapa?"
"Nah, kalo itu siapa yang di belakang?"

Maafkan aku teman-teman akhwat ku. Aku tidak mengetahui kamu satu-persatu.
By the way, makasih udah hadir dan mengucapkan selamat di wisudaku yaa!

Bersama para sahabat di organisasi.
Foto diambil dengan latar belakang Mushollah, tempat kami sering syura.

Komentar

  1. Terlepas dari ini kisah nyata atau bukan, tapi adanya pembatasan dalam pergaulan cewek dan cowok memang bener baiknya dipatuhi sih.. meskipun jaman sekarang sulit untuk diterapkan. Tapi semoga kita bisa :)

    Salam kenal ya.. ini pertama kalinya saya berkunjung ke blog ini :)

    BalasHapus
  2. Hah serius aja sih kak chatting sama si akhwat, ngingatin sholat, nanya lembar Al-Quran yang dibaca? Wah ternyata kak dodo selama ini...hem😊

    Oiya, btw kita juga belum pernah bertemu di dunia offline. Baru sekadar online saja :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahah, noo. Itu hanya sebuah karangan.
      Tapi, kamu mau percaya atau idak. Itu hak mu hehehe

      Hapus
  3. hahaha.. ya ampun, ngakak saya. pembatasan fisik bukan berarti pembatasan sosial, ya. aku jadi kembali membahas PSBB ini hahaha ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hhhahaa, betul mbak.. That's the point! :D

      Hapus
  4. Wkwk.. masya Allah. Keren sih sampe lulus bisa gak tau nama dan orgnya yg mana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Krn cuma tau via WA, tak pernah bertegur sapa secara langsung hahaha

      Hapus
  5. Haha lawak banget sih ini. Kukira ya kak dodo ini bgst yg termaafkan. Ternyata akhi akhi tulen dengan kadar keramahan yang lebih aja.
    Maafkan kalimatku waktu itu ya kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku akhi tulen kok. Bukan akhi homoo wkwkk

      Hapus
  6. Congrat ya buat wisuda kamu, mas.
    Sukses selalu.

    BalasHapus
  7. Sepertinya cerita ini nyata wkwk biasa sih bagi sebagian organisasi kampus. Eh betewe bagus itu diterapkan jam syar'i nya. Dari dulu kating2 sering bilang jg tentang pembatasan jam itu��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku beritahu satu rahasia. Kating kamu (termasuk aku?) kebanyakan melanggar aturan jam syari hahaa..

      Hapus
  8. Btw saya jadi ingat, waktu kuliah dulu, rasanya para mahasiswa-mahasiswi yang aktif di kegiatan Islam gitu agak-agak membatasi diri dengan kami yang nggak berhijab.
    Baca ini kan jadi teringat dan bikin baper hahahaha

    BalasHapus

Posting Komentar